Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) masih optimistis mengejar pertumbuhan kinerja sekitar 10% hingga akhir 2026. Dominasi pasien swasta, peningkatan layanan berkompleksitas tinggi, serta kenaikan pendapatan per pasien menjadi penopang pertumbuhan perseroan, meski ekspansi rumah sakit baru berpotensi menekan margin dalam jangka pendek.
Manajemen MIKA menargetkan pertumbuhan kinerja tahun fiskal 2026 di kisaran 10% serta mempertahankan margin EBITDA pada kisaran 38,8%-39,5%. Optimisme tersebut ditopang oleh semakin kuatnya kontribusi pasien swasta yang mencapai 90% dari total pasien MIKA pada semester I 2026.
Baca Juga: Stimulus Ekonomi di Kuartal IV-2026 Bawa Dampak Jangka Pendek bagi Emiten
Porsi pasien swasta tersebut meningkat dari 88% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di saat yang sama, layanan berkompleksitas tinggi juga mencatat pertumbuhan signifikan, sehingga membantu meningkatkan kualitas bauran pendapatan perseroan.
Rencana ekspansi MIKA juga berjalan sesuai jadwal. Rumah sakit di BSD dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026, sedangkan rumah sakit di Jawa Timur ditargetkan dibuka pada kuartal I 2027. Penambahan fasilitas tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas dan mendukung pertumbuhan volume pasien secara bertahap.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Amand mengatakan, target pertumbuhan sekitar 10% masih realistis.
"Target pertumbuhan sekitar 10% realistis karena ditopang kualitas basis pasien yang terus membaik. Pasien swasta sudah mencapai 90% di H1-2026 dengan porsi pasien berasuransi naik ke 62%, menjadikan pendapatan lebih tahan terhadap tekanan tarif BPJS," ujar Abida kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Di sisi lain, Abida mencermati pencapaian margin EBITDA sesuai panduan manajemen masih menjadi tantangan. Pada semester I 2026, margin EBITDA MIKA tercatat 38,3%, sementara panduan untuk sepanjang tahun berada di kisaran 38,8%-39,5%.
Menurut Abida, MIKA perlu mencatat margin yang lebih tinggi pada semester II 2026 untuk mencapai panduan tersebut. Kondisi ini menjadi tantangan karena RS BSD baru mulai beroperasi pada kuartal IV 2026 dan akan membawa biaya pra-operasional serta depresiasi awal.
"Karena itu, pencapaian di batas bawah panduan lebih realistis dibanding batas atas," kata Abida.
Meski demikian, ekspansi rumah sakit dinilai menjadi katalis pertumbuhan MIKA dalam jangka menengah. Abida bilang, penambahan fasilitas tersebut cukup signifikan secara struktural karena akan meningkatkan kapasitas dari basis sekitar 857 tempat tidur saat ini.
Namun, kontribusi terhadap kinerja diperkirakan baru terasa secara bertahap pada 2027 seiring dengan proses peningkatan okupansi. Dalam jangka pendek, rumah sakit baru justru berpotensi memberikan tekanan terhadap margin.
Dari sisi pendanaan, ekspansi tersebut juga tidak menambah beban bunga karena MIKA memiliki kas bersih sekitar Rp 3 triliun tanpa utang. Posisi tersebut setara sekitar tiga kali anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 1 triliun.
Sementara itu, analis Maybank Sekuritas Indonesia, Paulina Margareta, melihat kualitas pertumbuhan MIKA tetap terjaga. Maybank mencatat pendapatan MIKA pada semester I 2026 mencapai Rp 2,77 triliun, tumbuh 8% secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan revenue intensity. Average Revenue per Inpatient Day (ARPID) naik 12,2% secara tahunan menjadi Rp 4,68 juta, sedangkan Average Revenue per Outpatient Visit (ARPOP) meningkat 12,6% menjadi Rp 664.000.
Selain itu, pendapatan dari layanan berkompleksitas tinggi melonjak 28,6% secara tahunan menjadi Rp 767 miliar pada semester I 2026. Porsi layanan tersebut terhadap total pendapatan juga meningkat menjadi 28% dari sebelumnya 23%.
Kontribusi pasien swasta meningkat menjadi 90% pada semester I 2026, dibandingkan 88% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
"Strategi perusahaan untuk memperdalam centre of excellence dan memperluas layanan dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi terus menunjukkan perkembangan positif," tulis Paulina dalam risetnya pada (3/8/2026).
Paulina memproyeksikan pendapatan MIKA pada 2026 mencapai Rp 5,89 triliun, tumbuh sekitar 9,7% secara tahunan. EBITDA diproyeksikan mencapai Rp 2,16 triliun atau tumbuh 9,9%, sedangkan laba bersih diperkirakan mencapai Rp 1,50 triliun atau tumbuh 10,1%.
Adapun sejumlah risiko yang perlu dicermati meliputi kecepatan ramp-up okupansi rumah sakit baru, kenaikan biaya tenaga medis, perkembangan implementasi KRIS BPJS, serta daya beli kelas menengah yang dapat memengaruhi volume pasien swasta.
Dengan mempertimbangkan prospek pertumbuhan dan ekspansi tersebut, Abida merekomendasikan buy saham MIKA dengan target harga Rp 2.500 per saham, sementara Paulina mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 3.000 per saham.
Baca Juga: MIKA Perkuat Pertumbuhan Lewat Pasien Privat dan Ekspansi, Simak Rekomendasi Sahamnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














