CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.604.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

MGLV, BMAS, KOTA dan CBRE Rights Issue, Cermati Rekomendasi Analis


Minggu, 13 September 2026 / 13:29 WIB
MGLV, BMAS, KOTA dan CBRE Rights Issue, Cermati Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten tengah menyiapkan aksi rights issue untuk memperkuat permodalan maupun mendukung agenda ekspansi.

Mulai dari PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV), PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (BMAS), PT DMS Propertindo Tbk (KOTA), hingga PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE).

MGLV berencana menerbitkan sekitar 285,7 juta saham baru untuk mendukung akuisisi aset artificial intelligence (AI) data center. Sementara BMAS menyiapkan rights issue sebanyak 2,87 miliar saham untuk ekspansi kredit.

Di sektor properti, KOTA akan menerbitkan 100 miliar saham untuk mendukung akuisisi lahan.

Baca Juga: Cakra Buana Resources Energi (CBRE) Incar Dana Jumbo Rp 1,9 Triliun dari Rights Issue

Adapun CBRE berencana menerbitkan sekitar 11,8 miliar saham, yang sebagian besar dananya akan digunakan untuk konversi utang senilai Rp 858,6 miliar.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menilai rights issue menjadi pilihan yang relatif realistis ketika emiten membutuhkan pendanaan untuk mengakuisisi aset berukuran besar, khususnya aset yang belum menghasilkan arus kas.

"Pendanaan ekuitas jauh lebih realistis ketimbang utang berbunga yang justru akan berpotensi membebani neraca di tengah proses akuisisi," ujar Adrian kepada Kontan, Jumat (11/9/2026).

Menurut Adrian, efektivitas rights issue terhadap kinerja perusahaan sangat bergantung pada penggunaan dana. Dana yang dihimpun harus mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang sepadan dengan tambahan modal.

Untuk aksi korporasi yang berorientasi ekspansi, dampaknya terhadap kinerja kemungkinan baru terlihat dalam beberapa kuartal mendatang.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Emiten yang Gelar Private Placement & Rights Issue

Sementara untuk aksi restrukturisasi neraca seperti konversi utang menjadi ekuitas, manfaat awal lebih terlihat dari perbaikan rasio keuangan dibandingkan peningkatan kapasitas bisnis.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, rights issue pada MGLV, BMAS, KOTA, dan CBRE pada dasarnya diarahkan untuk memperkuat modal sekaligus membiayai rencana pertumbuhan.

"Rights issue memberikan tambahan modal yang sifatnya lebih permanen dan tidak menambah beban bunga," kata Hendra.

Meski demikian, rights issue tidak serta-merta menjadi katalis positif bagi saham. Investor perlu melihat apakah tambahan modal tersebut dapat menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang lebih besar dibandingkan kenaikan jumlah saham.

Untuk MGLV, dana rights issue akan digunakan untuk mendukung ekspansi ke bisnis AI data center. Hendra melihat prospek industri data center masih menarik seiring meningkatnya kebutuhan komputasi, cloud, AI, dan penyimpanan data.

Baca Juga: Peluang Cuan Saham Rights Issue: 4 Emiten Siap, Mana Paling Menjanjikan?

Namun, bisnis tersebut membutuhkan investasi awal yang besar dan manfaat finansialnya belum tentu langsung terlihat. Karena itu, kemampuan MGLV menghasilkan pendapatan, EBITDA, dan arus kas dari aset yang diakuisisi menjadi faktor penting.

Jika ekspansi berjalan sesuai harapan, tambahan modal dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi MGLV. Sebaliknya, apabila monetisasi aset berlangsung lambat, pertambahan jumlah saham berpotensi menekan earnings per share atau EPS.

"Pasar jangan hanya melihat narasi AI sebagai katalis, tetapi harus melihat kemampuan MGLV menghasilkan pendapatan, EBITDA dan arus kas dari aset yang diakuisisi," ujar Hendra.

Untuk saham MGLV, Hendra merekomendasikan strategi sell on strength dengan target sekitar Rp13.000. Dia menilai cerita AI data center memang menarik untuk jangka panjang, tetapi ekspektasi pasar dan risiko eksekusinya juga tinggi.

Sementara itu, rights issue BMAS yang ditujukan untuk ekspansi kredit dinilai cukup masuk akal dari sisi fundamental. Tambahan modal dapat memperbesar kapasitas bank dalam menyalurkan kredit.

Namun, pertumbuhan kredit tidak otomatis menghasilkan kenaikan laba. Investor perlu memperhatikan kualitas kredit, margin bunga bersih, biaya pencadangan, serta tingkat kredit bermasalah.

Baca Juga: Rights Issue Marak di BEI, INET Dinilai Paling Menarik pada 2026

Hendra menilai BMAS perlu membuktikan bahwa tambahan modal mampu dikonversikan menjadi pertumbuhan laba. Jika modal meningkat tetapi laba tidak tumbuh sepadan, return on equity berpotensi tertekan.

Untuk BMAS, Hendra memberikan rekomendasi sell on strength dengan target sekitar Rp 500 per saham. Dia akan lebih positif apabila ekspansi kredit mulai memberikan kontribusi signifikan terhadap laba tanpa meningkatkan risiko kredit secara berlebihan.

Berbeda dengan dua emiten tersebut, KOTA menggunakan rights issue untuk mendukung akuisisi lahan dan memperbesar land bank.

Menurut Hendra, aksi tersebut berpotensi menjadi langkah transformasional karena dapat memperbesar basis aset dan membuka ruang pengembangan proyek dalam jangka panjang.

Namun, kepemilikan lahan dalam jumlah besar belum otomatis menghasilkan laba. Kinerja KOTA akan sangat ditentukan oleh kemampuan perseroan mengembangkan lahan tersebut, kebutuhan modal untuk proyek, waktu penjualan, serta margin yang dapat diperoleh.

"Investor harus memahami bahwa memiliki lahan dalam jumlah besar belum tentu langsung menghasilkan laba," kata Hendra.

Hendra memberikan rekomendasi spec buy untuk KOTA dengan target sekitar Rp 240.

Menurut dia, saham tersebut memiliki potensi pertumbuhan dari penambahan land bank, tetapi risikonya juga tinggi karena keberhasilan aksi korporasi bergantung pada eksekusi pengembangan lahan.

Adapun CBRE memiliki karakter berbeda karena sebagian besar dana rights issue akan digunakan untuk konversi utang menjadi saham.

Hendra menilai aksi tersebut dapat memperbaiki struktur neraca karena utang yang dikonversi menjadi ekuitas berpotensi mengurangi tekanan kewajiban dan beban finansial.

Baca Juga: Cek Pergerakan Saham BNBR, BUVA, hingga INET yang Bakal Gelar Rights Issue

Namun, konsekuensi yang perlu diperhatikan adalah potensi dilusi besar terhadap pemegang saham lama.

Dengan jumlah saham baru yang signifikan, investor perlu memperhitungkan kembali nilai per saham setelah rights issue, bukan hanya melihat harga saham sebelum aksi korporasi.

Dari sisi teknikal, Adrian melihat saham CBRE berpotensi mengalami rebound dengan target jangka pendek di sekitar Rp 800 per saham.

Sementara Hendra memberikan rekomendasi spec buy untuk CBRE dengan target sekitar Rp 815 per saham.

Dia menilai perbaikan struktur permodalan menjadi katalis positif, meski investor tetap perlu memperhitungkan risiko dilusi yang besar.

Adrian mengatakan besarnya penerbitan saham baru menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor. Semakin besar proporsi saham baru terhadap jumlah saham lama, semakin besar pula tekanan terhadap EPS.

"Pemegang saham yang tidak ikut menyerap haknya, dampaknya lebih berat karena selain ikut merasakan tekanan EPS tersebut, persentase kepemilikan mereka juga akan terdilusi," ujar Adrian.

Baca Juga: Private Placement dan Rights Issue Ramai Digelar oleh Emiten, Begini Pandangan Analis

Hendra menilai risiko dilusi menjadi salah satu perhatian utama pada rangkaian rights issue tersebut. MGLV dan BMAS dinilai memiliki potensi dilusi yang relatif lebih terkendali, sementara KOTA dan CBRE menghadapi risiko yang lebih besar karena jumlah saham baru yang diterbitkan sangat signifikan.

Karena itu, investor perlu menghitung valuasi berdasarkan jumlah saham setelah rights issue. Indikator seperti EPS, book value per share, dan price to book value juga perlu dilihat dengan basis fully diluted.

Hendra menambahkan, sebagian ekspektasi terhadap rencana ekspansi tersebut kemungkinan sudah tercermin dalam harga saham, terutama pada emiten yang membawa narasi transformasi bisnis besar.

Namun, manfaat fundamentalnya tetap harus dibuktikan setelah dana rights issue benar-benar digunakan.

Baca Juga: NexAI Bidik Rp 2,54 Triliun dari Rights Issue Guna Kembangkan AI Data Center

"Pasar saham biasanya bergerak berdasarkan ekspektasi lebih dahulu, sedangkan pertumbuhan laba datang kemudian," pungkas Hendra.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×