Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue kembali bergeliat di pasar modal. Sejumlah emiten menyiapkan penghimpunan dana untuk memperkuat ekspansi, mengembangkan bisnis baru, hingga memperbaiki struktur permodalan.
PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK) menjadi salah satu emiten yang baru mengumumkan rencana rights issue. NTBK membidik dana hingga Rp 500 miliar untuk mendukung ekspansi manufaktur, kendaraan listrik, serta memperluas portofolio bisnis pertambangan.
Porsi terbesar dana rights issue, sekitar Rp 200 miliar atau 40%, akan disalurkan kepada anak usaha PT Pilar Pratama Dinamika. Dana tersebut digunakan memperkuat struktur permodalan sekaligus meningkatkan kapasitas operasional perusahaan.
NTBK juga mengalokasikan sekitar Rp 170 miliar untuk pengembangan fasilitas assembling plant. Selanjutnya, Rp80 miliar disiapkan bagi pengembangan bisnis kendaraan listrik, sedangkan Rp50 miliar digunakan mengakuisisi perusahaan jasa pertambangan.
Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Dunia Tekan Kripto, Ini Penjelasan Analis
Sementara itu, PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) segera melaksanakan rights issue dengan menerbitkan 10,68 miliar saham baru. COCO menetapkan harga pelaksanaan Rp 120 per saham sehingga berpotensi menghimpun dana Rp1,28 triliun.
Sebagian besar dana hasil rights issue COCO akan digunakan untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi, produsen makanan ringan merek Momogi. Sisanya dialokasikan bagi modal kerja, termasuk riset produk, pembelian bahan baku, dan pemasaran.
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) juga bersiap menggelar rights issue setelah memperoleh persetujuan pemegang saham. BNBR akan menerbitkan maksimal 89,92 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 53 per saham.
Dengan harga tersebut, BNBR berpotensi menghimpun dana sekitar Rp 4,76 triliun. Sebagian besar dana akan disalurkan kepada PT Bakrie Technologies Industries untuk melunasi pinjaman kepada Hartman International Pte. Ltd.
Selain NTBK, COCO, dan BNBR, sejumlah emiten lain juga tengah menyiapkan rights issue. PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY) serta PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) telah memperoleh persetujuan pemegang saham dan tinggal menunggu pelaksanaan aksi korporasi.
Maraknya rights issue juga tercermin dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hingga akhir Juni 2026, nilai penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal mencapai Rp112,67 triliun dari berbagai aksi penawaran umum.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan penghimpunan dana tersebut terdiri atas tujuh penawaran umum perdana saham, 12 penawaran umum terbatas, sembilan EBUS, dan 98 PUB EBUS.
“Sampai dengan 30 Juni 2025, pada pipeline OJK masih terdapat 11 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif Rp 15,84 triliun," jelas Hasan dalam konferensi pers, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga: Efek Domino Lonjakan Harga Minyak Dunia Mulai Menekan Laju Bitcoin
Di pipeline OJK, masih ada lima perusahaan yang sedang berencana untuk melakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT) dengan potensi dana sebesar Rp 10,45 triliun. Rencana PUT menjadi yang terbanyak dibanding aksi korporasi lainnya.
Aktivitas rights issue juga masih berlanjut di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga 8 Juli 2026, tercatat empat perusahaan telah menerbitkan rights issue dengan total nilai mencapai Rp 3,89 triliun.
Secara terpisah, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin mengatakan Bursa masih mencatat satu perusahaan yang berada dalam pipeline rights issue. Calon emiten tersebut berasal dari sektor properti dan real estat.
"Per 8 Juli 2026 telah terdapat empat perusahaan tercatat yang menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp 3,89 triliun. Sementara masih terdapat satu perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue BEI," ujar Saidu, Rabu (8/7/2026).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai investor perlu memperhatikan tujuan penggunaan dana rights issue. Menurutnya, pasar cenderung merespons positif aksi korporasi yang diarahkan untuk mendukung ekspansi bisnis.
Untuk saham COCO, Nafan memberikan rekomendasi speculative buy dengan target harga Rp 358 per saham. Penguatan harga saham belakangan dinilai dipengaruhi sentimen rights issue yang akan mendukung pengembangan usaha COCO.
Pada perdagangan Rabu (8/7/2026), COCO parkir di level Rp 278 per saham atau melemah 2,80% dibanding penutupan hari sebelumnya. Meski begitu, dalam sepekan terakhir saham COCO sudah melesat 117,19%.
"Tren penguatan harga saham COCO dipengaruhi sentimen rights issue senilai Rp1,28 triliun. Sebagian besar dana akan digunakan untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi, produsen makanan ringan merek Momogi," katanya kepada Kontan, Rabu (8/7/2026).
Nafan juga memberikan rekomendasi speculative buy terhadap saham BNBR dengan target harga Rp 160 per saham. Menurutnya, rights issue BNBR berpotensi memperkuat struktur pendanaan grup apabila penggunaan dana terealisasi sesuai rencana.
"Rights issue BNBR akan memperkuat struktur pendanaan melalui entitas anak. Selama penggunaan dana berjalan sesuai rencana, sentimen terhadap saham berpeluang tetap positif," ujar Nafan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














