kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.559.000   -11.000   -0,43%
  • USD/IDR 18.166   -36,00   -0,20%
  • IDX 5.098   -184,26   -3,49%
  • KOMPAS100 656   -29,76   -4,34%
  • LQ45 515   -24,19   -4,48%
  • ISSI 171   -5,38   -3,04%
  • IDX30 289   -13,61   -4,49%
  • IDXHIDIV20 388   -17,40   -4,29%
  • IDX80 76   -3,38   -4,28%
  • IDXV30 108   -4,36   -3,89%
  • IDXQ30 98   -4,24   -4,16%

MGLV, BMAS, KOTA dan CBRE Rights Issue, Cermati Rekomendasi Analis


Minggu, 13 September 2026 / 13:29 WIB
MGLV, BMAS, KOTA dan CBRE Rights Issue, Cermati Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

Sementara Hendra memberikan rekomendasi spec buy untuk CBRE dengan target sekitar Rp 815 per saham.

Dia menilai perbaikan struktur permodalan menjadi katalis positif, meski investor tetap perlu memperhitungkan risiko dilusi yang besar.

Adrian mengatakan besarnya penerbitan saham baru menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor. Semakin besar proporsi saham baru terhadap jumlah saham lama, semakin besar pula tekanan terhadap EPS.

"Pemegang saham yang tidak ikut menyerap haknya, dampaknya lebih berat karena selain ikut merasakan tekanan EPS tersebut, persentase kepemilikan mereka juga akan terdilusi," ujar Adrian.

Baca Juga: Private Placement dan Rights Issue Ramai Digelar oleh Emiten, Begini Pandangan Analis

Hendra menilai risiko dilusi menjadi salah satu perhatian utama pada rangkaian rights issue tersebut. MGLV dan BMAS dinilai memiliki potensi dilusi yang relatif lebih terkendali, sementara KOTA dan CBRE menghadapi risiko yang lebih besar karena jumlah saham baru yang diterbitkan sangat signifikan.

Karena itu, investor perlu menghitung valuasi berdasarkan jumlah saham setelah rights issue. Indikator seperti EPS, book value per share, dan price to book value juga perlu dilihat dengan basis fully diluted.

Hendra menambahkan, sebagian ekspektasi terhadap rencana ekspansi tersebut kemungkinan sudah tercermin dalam harga saham, terutama pada emiten yang membawa narasi transformasi bisnis besar.

Namun, manfaat fundamentalnya tetap harus dibuktikan setelah dana rights issue benar-benar digunakan.

Baca Juga: NexAI Bidik Rp 2,54 Triliun dari Rights Issue Guna Kembangkan AI Data Center

"Pasar saham biasanya bergerak berdasarkan ekspektasi lebih dahulu, sedangkan pertumbuhan laba datang kemudian," pungkas Hendra.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×