kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Menilik rencana emiten kabel di sisa tahun ini


Senin, 23 September 2019 / 19:56 WIB
Menilik rencana emiten kabel di sisa tahun ini
ILUSTRASI. Kabel Bawah Tanah PLN ilustrasi kabel Voksel Electric

Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki akhir kuartal ketiga 2019, emiten kabel berlomba-lomba untuk menggenjot kinerja. Beberapa emiten pun sudah menghabiskan lebih dari setengah anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) guna meningkatkan kegiatan operasional perusahaan.

PT Kabelindo Murni Tbk (KBLM) misalnya, mengalokasikan anggaran capex sebesar Rp 20 miliar untuk tahun ini. Seluruh capex difokuskan untuk menambah kapasitas produksi kabel low voltage dari semula 650 ton menjadi 800 ton.

Baca Juga: Sinarmas Sekuritas siapkan IPO dua calon emiten jelang akhir tahun 2019

Hingga saat ini, KBLM telah menggunakan hampir seluruh capexnya. “Realisasi capex sudah 80%,” terang Petrus.

Pun, tahun ini KBLM tidak terlalu ‘menggantungkan’ penjualan kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tahun ini KBLM hanya menargetkan kontribusi penjualan ke PLN sebesar 30% dari total pendapatan.

Sebagai gambaran, tahun lalu KBLM berhasil mencatat realisasi penjualan kabel kepada PLN sebesar Rp 431,38 miliar atau 34,69% dari total penjualan sepanjang 2018.

Hal yang berbeda dilakukan oleh PT Voksel Electric Tbk (VOKS). Tahun ini, VOKS masih ‘menggantungkan’ nasibnya pada penjualan dan proyek dari PLN.

“Fokus kami tetap di supply ke proyek-proyek PLN dan kontraktor PLN,” ujar Sekretaris Perusahaan VOKS Sachje Amelia Siddharta ketika dihubungi Kontan.co.id beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Upayakan perbaikan kinerja, begini rekomendasi untuk Waskita Karya (WSKT)

Meski demikian, VOKS juga melirik segmen lain guna menggenjot pendapatan, yakni dengan menggandeng sektor ritel. Salah satunya bekerjasama dengan PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES, anggota indeks Kompas100) sebagai penyuplai kabel listrik.

Hingga saat ini, VOKS telah menyerap 75% dari total anggaran belanja modal sebesar US$ 7,5 juta . Mayoritas digunakan untuk keperluan peremajaan mesin, sisanya adalah untuk keperluan peremajaan gedung.

Di saat emiten lain sudah menyerap lebih dari separuh capex, hal berbeda justru dilakukan oleh PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk.

Tahun ini, PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI) menganggarkan capex sebesar Rp 46,5 miliar. Dana ini berasal dari penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) sebesar Rp 50 miliar.

Meski demikian, hingga saat ini emiten dengan kode saham CCSI tersebut belum menggunakan dana capexnya. “Serapan capex masih belum ada,” ujar Deputy Finance Director & Investor Relations CCSI Mario Palilingan, Senin (16/9).

Baca Juga: Tujuh saham penghuni baru indeks FTSE kompak melemah pada perdagangan hari ini

Sebab, saat ini CCSI tengah melakukan persiapan untuk beberapa proyek sehingga CCSI belum menyerap anggaran belanja modal.

Berdasarkan catatan Kontan.co.id, saat ini CCSI tengah merambah proyek kabel fiber optic bawah laut. Proyek kabel fiber optic bawah laut adalah strategi CCSI untuk memperoleh recurring income dan meningkatkan kinerja keuangannya.

Persiapan ini diprediksi akan selesai pada akhir tahun. Barulah setelahnya CCSI menentukan kapan pembangunan tersebut siap dimulai.

Sementara itu, PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI) berencana untuk meningkatkan pasar ekspor. Kontan.co.id mencatat, sepanjang semester pertama 2019 KBLI mencatat pendapatan dari segmen ekspor sebesar Rp 19,23 miliar.

Angka ini cukup kecil bila dibandingkan pendapatan dari penjualan lokal yang mencapai Rp 1,73 triliun. Bila dibandingkan dengan total pendapatan, maka kontribusi pasar ekspor hanya sebesar 1,03%.

Dalam pengembangan ekspor ini, KBLI akan banyak menyasar Negara-negara berkembang dan Negara Timur Tengah yang gencar membangun jaringan listrik.

Melihat kondisi ini, Analis Panin Sekuritas melihat emiten kabel masih cukup menarik. Namun, ia menilai rencana pemerintah untuk membangun megaproyek listrik 35.000 MW yang belum terealisasikan membuat emiten kabel minim katalis positif.

“Megaproyek ini masih belum ada realisasi, sehingga masih sebatas sentimen bagi emiten kabel,” ujar William saat dihubungi Kontan.co.id, Senin, (23/9).

Baca Juga: UOB Kay Hian Sekuritas menyiapkan tujuh perusahaan untuk IPO di sisa tahun ini

Meski demikian, ia masih merekomendasikan saham KBLI. Menurutnya, secara teknikal saham KBLI masih menarik. Secara year-to-date (ytd), saham KBLI telah menguat 125,17%, dan sejak sebulan ke belakang KBLI telah menghijau sebesar 15,25%.

Selain itu, KBLI juga mencatatkan kinerja yang cukup prima sepanjang semester pertama 2019. Pendapatan KBLI tumbuh 16,31% menjadi Rp 1,87 triliun sementara laba bersihnya naik 237% menjadi Rp 176,73 miliar.

Untuk itu, William merekomendasikan untuk beli (buy) saham KBLI dengan target harga Rp 755 per saham.

Pada perdagangan hari ini, VOKS, KBLI, dan CCSI kompak terkoreksi. VOKS terkoreksi 0,57% ke level Rp 348 per saham, KBLI turun 0,73% ke level Rp 680 per saham, dan CCSI melemah 0,65% ke level Rp 308 per saham.

Sementara pada penutupan perdagangan hari ini, KBLM bergeming di level Rp 322 per saham.


Tag


TERBARU

×