Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Momentum penerbitan Sukuk Tabungan seri ST017 yang dijadwalkan pada 6 November hingga 22 Desember 2026 membuka peluang bagi investor untuk melakukan diversifikasi aset.
Instrumen syariah non tradable ini dapat diakses dengan modal awal terjangkau mulai dari Rp 1.000.000 serta ditawarkan dalam dua pilihan jatuh tempo, yakni tenor dua tahun (T2) dan empat tahun (T4).
Sebelum menambah porsi SBN ritel ke dalam keranjang investasi, Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjabarkan lima sentimen makroekonomi yang patut dianalisis.
Baca Juga: Kontrak Baru dan Sukuk Jadi Katalis Positif Darma Henwa (DEWA), Cek Rekomendasinya
Kelima faktor tersebut meliputi arah pergerakan BI-Rate, fluktuasi nilai tukar rupiah dan yield SBN yang mencerminkan premi risiko, tingkat inflasi sebagai penentu imbal hasil riil, prospek fiskal terkait suplai obligasi pemerintah, serta ketersediaan instrumen pembanding seperti reksa dana pasar uang dan emas.
Berdasarkan karakteristiknya, instrumen ini menawarkan manajemen risiko yang solid namun menuntut pengorbanan di sisi kebebasan arus kas.
"Kelemahannya adalah likuiditas terbatas karena tidak diperdagangkan. Karena itu, ST017 paling tepat ditempatkan sebagai komponen stabilisasi portofolio, bukan pengganti seluruh aset likuid atau aset pertumbuhan," kata Syafruddin kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).
Di sisi lain, daya tarik utama ST017 terletak pada proteksi tingkat imbalannya. Instrumen ini menggunakan skema kupon mengambang dengan batas minimal (floating with floor).
Artinya, besaran kupon akan ikut naik apabila Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan, namun tidak akan pernah turun di bawah batas minimal yang ditetapkan pada masa awal penawaran meskipun BI-Rate nantinya dipangkas.
Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan Suminto menuturkan bahwa mekanisme inilah yang secara konsisten menjadi tameng bagi investor ritel terhadap ketidakpastian pasar, terbukti dari partisipasi masyarakat pada seri-seri sebelumnya seperti SBR015 dan ST016.
Baca Juga: Peluang Tokenisasi Sukuk Negara Valas Mulai Dilirik
Melansir laman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, hasil penjualan SBR015 mencapai Rp 17 T dengan total investor mencapai 62.529 investor, terdiri atas 51.702 investor seri SBR015T2 dan 14.156 investor seri SBR015T4, dengan 3.329 investor berpartisipasi pada kedua tenor.
Sedangkan penjualan ST016 mencapai Rp 22 T dengan total 81.667 investor.
"Dengan karakteristik kupon mengambang dengan batas minimal, instrumen ritel ini tetap menawarkan kepastian kupon minimum, sehingga menjadi daya tarik bagi investor sesuai dengan profil dan tujuan investasinya," pungkas Suminto.
Bagi investor yang berminat meracik portofolionya dengan instrumen hijau ini, transaksi dapat dilakukan secara daring.
Prosesnya mencakup empat tahap utama: registrasi melalui Mitra Distribusi (Midis) untuk mendapatkan nomor Single Investor Identification (SID), tahap pemesanan (order), penyetoran dana melalui bank persepsi, dan tahap konfirmasi penempatan investasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














