kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.004   -28,00   -0,16%
  • IDX 6.223   -12,70   -0,20%
  • KOMPAS100 816   -0,20   -0,02%
  • LQ45 622   0,92   0,15%
  • ISSI 215   0,31   0,14%
  • IDX30 349   -0,73   -0,21%
  • IDXHIDIV20 429   -0,88   -0,21%
  • IDX80 93   0,08   0,09%
  • IDXV30 119   0,87   0,74%
  • IDXQ30 112   -0,12   -0,11%

GOTO Cetak Laba di Semester I, Tapi Aturan Baru Bisa Bikin Kembali Merugi


Senin, 03 Agustus 2026 / 14:38 WIB
Diperbarui Senin, 03 Agustus 2026 / 14:39 WIB
GOTO Cetak Laba di Semester I, Tapi Aturan Baru Bisa Bikin Kembali Merugi
ILUSTRASI. Ojek Online Mengangkut Penumpang (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatatkan kinerja yang solid sepanjang semester I 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 423 miliar. Meski demikian, tantangan yang lebih besar diperkirakan baru akan muncul pada paruh kedua tahun ini, terutama setelah mulai berlakunya kebijakan batas tarif komisi (take rate) sebesar 8% untuk layanan transportasi roda dua pada Juli 2026.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Etta Rusdiana Putra dalam riset Senin 3 Agustus 2026 menilai capaian semester pertama menunjukkan keberhasilan transformasi operasional perseroan. Oleh karena itu, Maybank tetap mempertahankan rekomendasi buy terhadap saham GOTO dengan target harga Rp 80 per saham. 

"Kami memandang hasil semester I 2026 cukup kuat, seiring GOTO membukukan laba kuartalan keduanya sebesar Rp 253 miliar pada kuartal II 2026. Namun, kami melihat kuartal III 2026 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kisah pemulihan kinerja perusahaan, terutama setelah penerapan regulasi take rate 8% untuk layanan transportasi roda dua mulai Juli," kata Etta dalam risetnya.

Baca Juga: Pendapatan Hartadinata (HRTA) Melonjak 124,61%, Laba Naik 100,86% di Semester I-2026

Sepanjang enam bulan pertama 2026, pendapatan GOTO mencapai Rp 11 triliun atau tumbuh 29% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut telah mencapai sekitar 64% dari proyeksi pendapatan penuh tahun 2026 sebesar Rp 17,3 triliun.

Di sisi profitabilitas, perusahaan ini membukukan laba operasional sebesar Rp 782 miliar, berbalik dari proyeksi rugi operasional Rp 372 miliar untuk sepanjang tahun. Sementara itu, laba bersih semester I mencapai Rp 423 miliar, jauh lebih baik dibandingkan estimasi rugi bersih Rp 575 miliar.

Kontributor utama pertumbuhan berasal dari bisnis On-Demand Services (ODS) yang mencatatkan pendapatan bersih Rp 6,9 triliun atau naik 16% secara tahunan. Bisnis teknologi finansial (fintech) tumbuh lebih agresif dengan pendapatan meningkat 55% menjadi Rp 4 triliun. Adapun pendapatan dari biaya layanan e-commerce naik 5% menjadi Rp 551 miliar.

Meski demikian, Etta mengingatkan bahwa sejumlah risiko masih membayangi kinerja GOTO pada semester II 2026. Menurutnya, implementasi aturan take rate 8% menjadi perhatian utama mengingat bisnis transportasi roda dua masih menyumbang sekitar 7% terhadap total pendapatan grup.

Selain itu, terdapat potensi risiko kebijakan apabila pemerintah memperluas pengaturan take rate ke layanan transportasi roda empat maupun pesan-antar makanan. Faktor eksternal seperti kenaikan harga energi global yang berpotensi mendorong kembali subsidi di Indonesia, serta tekanan makroekonomi berupa suku bunga yang lebih tinggi dan pelemahan nilai tukar rupiah juga dinilai dapat memengaruhi pertumbuhan pembiayaan dan kualitas kredit bisnis fintech GOTO.

"Karena itu kami mempertahankan asumsi saat ini dan mengambil pendekatan konservatif dengan tetap memperhitungkan take rate 8% pada bisnis On-Demand Services," ujar Etta.

Di sisi lain, manajemen GOTO tetap optimistis terhadap prospek bisnis tahun ini. Perseroan mempertahankan target adjusted EBITDA sebesar Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun.

Optimisme tersebut didorong oleh prospek bisnis fintech yang lebih kuat. GOTO menaikkan target adjusted EBITDA segmen fintech menjadi Rp 1,7 triliun-Rp 1,8 triliun dari sebelumnya Rp 1,4 triliun-Rp 1,5 triliun. Sementara itu, target adjusted EBITDA bisnis On-Demand Services disesuaikan menjadi Rp 1,4 triliun-Rp 1,5 triliun dari sebelumnya Rp 1,7 triliun-Rp 1,8 triliun, seiring perkiraan dampak terbatas dari regulasi baru.

Baca Juga: IHSG Berbalik Melemah ke 6,234,3 di Sesi Pertama, Top Losers LQ45: INDY, ESSA, CPIN

Selain itu, perusahaan juga berencana membatalkan 32 miliar saham treasuri atau setara sekitar 2,7% dari total saham beredar. Menurut Maybank Sekuritas Indonesia, langkah tersebut berpotensi menjadi katalis positif tambahan bagi nilai saham GoTo di masa mendatang.

Hingga akhir 2026, Maybank Sekuritas memperkirakan GOTO masih akan membukukan kerugian sebesar Rp 375 miliar. Sementara pendapatan turun menjadi Rp 17,31 triliun dari 2025 sebesar Rp 18,32 triliun 

Pada tahun 2027, Maybank Sekuritas memperkirakan GOTO baru akan membukukan laba bersih sebesar Rp 950 miliar dengan pendapatan sebesar Rp 18,38 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×