kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -7.000   -0,27%
  • USD/IDR 18.040   32,00   0,18%
  • IDX 6.295   60,82   0,98%
  • KOMPAS100 826   8,22   1,00%
  • LQ45 630   6,27   1,00%
  • ISSI 217   1,60   0,74%
  • IDX30 354   3,94   1,13%
  • IDXHIDIV20 434   3,81   0,89%
  • IDX80 94   0,88   0,94%
  • IDXV30 119   0,72   0,60%
  • IDXQ30 113   0,96   0,85%

Kinerja Sido Muncul (SIDO) Tertekan pada Semester I-2026, Cek Rekomendasinya


Selasa, 04 Agustus 2026 / 14:47 WIB
Kinerja Sido Muncul (SIDO) Tertekan pada Semester I-2026, Cek Rekomendasinya
ILUSTRASI. Fasilitas produksi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (DOK/SIDO)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) tertekan pada Semester I-2026. Emiten jamu ini mencatatkan penjualan sebesar Rp1,47 triliun, turun dari Rp1,83 triliun secara tahunan (year-on-year/YoY).

Sejalan dengan itu, laba bersih SIDO juga merosot signifikan menjadi Rp333,7 miliar dari sebelumnya Rp600,47 miliar.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai, penurunan kinerja SIDO dipicu oleh kombinasi faktor makro dan struktural.

Baca Juga: Reksadana Pasar Uang Jadi Juara Sepanjang 2026, Tapi Bulanan Saham Paling Moncer

“Penurunan penjualan secara tahunan didorong tiga faktor: daya beli konsumen menengah-bawah tertekan di tengah BI Rate 5,75% dan inflasi 3,06% langsung pukul volume produk herbal yang semi-discretionary,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (4/8/2026).

Selain itu, persaingan di industri juga semakin ketat, terutama dari private label dan merek independen di kanal digital.

“Persaingan makin intensif dari private label dan merek independen di kanal digital, ini merupakan tekanan yang tidak akan hilang,” tambahnya.

Ia juga menyoroti adanya high base effect pada Semester I-2025 yang membuat penurunan kinerja tahun ini terlihat lebih dalam.

Dari sisi profitabilitas, Wafi menyebut tekanan terjadi secara berlapis, baik dari sisi margin maupun kenaikan beban operasional.

“Tekanan laba kotor yang berlapis plus kenaikan beban pemasaran menjelaskan kenapa laba turun lebih dalam daripada revenue,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi ini mencerminkan operating leverage negatif, di mana biaya tetap tidak turun seiring penurunan pendapatan. Di sisi lain, manajemen juga meningkatkan belanja pemasaran untuk mempertahankan pangsa pasar.

Margin pressure berlanjut sampai volume pulih atau ada cost restructuring yang signifikan,” imbuhnya.

Senada, Analis MNC Sekuritas Catherine Florencia dalam risetnya menyebut kinerja SIDO pada Semester I-2026 berada di bawah ekspektasi.

SIDO hanya membukukan laba bersih sebesar Rp333,7 miliar atau turun 44,4% YoY, setara dengan 30% dari estimasi laba tahun penuh.

“Kami menilai hasil ini lebih buruk dari perkiraan, karena pemulihan belum cukup untuk menutupi penurunan tajam pada segmen herbal,” tulis Catherine dalam risetnya.

Ia menjelaskan, segmen herbal yang selama ini menjadi kontributor utama justru mengalami penurunan signifikan. Pendapatan segmen ini turun 40,8% YoY menjadi Rp638,9 miliar pada Semester I-2026.

Sebaliknya, segmen makanan dan minuman memang tumbuh 10,8% YoY menjadi Rp760,4 miliar, namun memiliki margin yang lebih rendah dibandingkan segmen herbal.

Kondisi ini membuat margin laba kotor dan laba operasional SIDO tertekan.

“Tekanan margin masih signifikan, seiring penurunan kontribusi segmen herbal yang memiliki margin tinggi,” tulisnya.

Untuk prospek ke depan, Wafi menilai kinerja SIDO pada Semester II-2026 berpotensi membaik, meski belum signifikan.

“Prospek H2 moderat-cautious. Penguatan musiman dari produk kesehatan menjelang musim hujan bisa bantu, tapi pemulihan tidak akan terlalu besar, lebih ke stabilisasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, terdapat sejumlah katalis yang berpotensi mendorong pemulihan kinerja SIDO, seperti stabilisasi nilai tukar rupiah, potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia, hingga inovasi produk.

“Empat katalis pemulihan antara lain stabilisasi rupiah, sinyal rate cut BI di kuartal IV, inovasi produk ke segmen premium, serta potensi keterkaitan dengan program pemerintah,” paparnya.

Meski demikian, Wafi menyarankan investor untuk tetap berhati-hati terhadap saham SIDO.

“Decline H1 yang significant mengubah risk-reward calculus, jadi wait and see sampai ada kejelasan apakah H2 menunjukkan stabilisasi yang genuine sebelum akumulasi,” tutupnya.

Sementara itu, MNC Sekuritas masih menempatkan target harga saham SIDO dalam status review, seiring risiko penurunan kinerja yang masih membayangi.

Baca Juga: Temui 100 Investor Global, OJK: Reformasi Integritas Pasar Modal Tuai Apresiasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×