Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja emiten properti yang terafiliasi dengan Sugianto Kusuma atau Aguan mencatatkan pertumbuhan signifikan pada semester I 2026.
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan anak usahanya, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), sama-sama membukukan lonjakan laba bersih hingga ratusan persen, ditopang kuatnya monetisasi kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK2).
Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026, PANI membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,68 triliun, melonjak 483,78% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Rp 285,86 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan laba tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan neto yang mencapai Rp 2,92 triliun, meningkat 77,61% YoY dari Rp 1,64 triliun.
Kontributor terbesar pendapatan berasal dari segmen penjualan tanah dan bangunan senilai Rp 2,86 triliun, disusul pendapatan sewa sebesar Rp 34,77 miliar, serta segmen lainnya sebesar Rp 25,56 miliar.
Baca Juga: Saham Bach Multi (BACH) Menghijau, Prospek Infrastruktur Telekomunikasi Masih Cerah
Sementara itu, CBDK juga mencatatkan kinerja impresif. Emiten tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp 1,68 triliun pada semester I 2026, naik 225,49% YoY.
Pendapatan neto CBDK mencapai Rp 2,2 triliun, meningkat 84,18% dibandingkan Rp 1,19 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebagian besar pendapatan CBDK juga berasal dari penjualan tanah dan bangunan senilai Rp 2,15 triliun, diikuti pendapatan sewa sebesar Rp 34,7 miliar dan segmen lainnya sebesar Rp 16,71 miliar.
Monetisasi PIK2 Jadi Penopang Kinerja
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menilai pertumbuhan kinerja kedua emiten tersebut didorong kuatnya monetisasi kawasan PIK2.
Menurutnya, PANI memperoleh dukungan dari tingginya penjualan produk residensial yang menjadi kontributor utama marketing sales.
“Tingginya penjualan tersebut kemudian berlanjut pada meningkatnya serah terima unit kepada pembeli sehingga mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).
Ia menambahkan, pengembangan kawasan PIK2 yang semakin matang turut menjaga permintaan properti meskipun pasar masih menghadapi tekanan suku bunga yang tinggi.
Di sisi lain, CBDK memperoleh dorongan dari penjualan lahan komersial, Bizpark, serta produk residensial seiring berkembangnya ekosistem Central Business District (CBD) PIK2.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Masih Tertekan Pekan Depan, Simak Sentimen yang Membayangi
Meski demikian, Brigita mengingatkan investor tetap mencermati kualitas laba yang dihasilkan.
“Namun, tetap perlu mencermati kualitas laba karena arus kas operasional masih relatif lemah dibandingkan pertumbuhan laba,” paparnya.
Pendapatan One-Off Ikut Mendongkrak PANI
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, mengatakan kinerja PANI juga terdorong oleh backlog marketing sales dari tahun-tahun sebelumnya serta adanya pendapatan one-off.
Menurut Adrian, PANI memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp 1,2 triliun dari PT Fin Centerindo Tiga yang bersifat tidak berulang (one-off).
Selain itu, peningkatan kepemilikan PANI di CBDK juga memperbesar kontribusi laba melalui proses konsolidasi.
“Peningkatan kepemilikan PANI terhadap CBDK juga membuat laba PANI ikut meningkat efek dari konsolidasi perusahaan terhadap perusahaan induk,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (31/6).
Prospek Semester II Masih Positif
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai PANI dan CBDK masih memiliki peluang melanjutkan pertumbuhan pada semester II 2026.
Menurutnya, PANI masih akan ditopang akselerasi penjualan lahan komersial dan residensial PIK2 yang menyasar segmen menengah atas sehingga relatif tidak sensitif terhadap suku bunga.
Di sisi lain, CBDK diperkirakan memperoleh dorongan dari optimalisasi monetisasi aset kawasan CBD seiring meningkatnya operasional NICE serta bertambahnya pipeline tenant.
“Faktor utama keberlanjutan adalah ekosistem PIK2 yang terus berkembang dengan infrastruktur semakin lengkap yang menarik pembeli dan tenant secara organik,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas Pekan Depan, Saham-Saham Ini Bisa Ditimbang
Abida menilai dampak suku bunga tinggi terhadap kedua emiten relatif terbatas karena mayoritas konsumennya berasal dari segmen kelas atas dan korporasi.
Meski begitu, ia mengingatkan adanya risiko yang tetap perlu diperhatikan.
“Risiko yang lebih relevan di semester II 2026 adalah kepastian timeline penyelesaian infrastruktur kawasan dan kemampuan eksekusi pipeline penjualan yang sudah terbentuk,” paparnya.
Tantangan Masih Ada
Brigita memperkirakan prospek PANI masih cukup positif pada semester II 2026. Hingga semester pertama, realisasi marketing sales perusahaan baru mencapai sekitar 45% dari target tahunan, sehingga masih tersedia ruang pertumbuhan pada paruh kedua.
Katalis utamanya berasal dari berlanjutnya pengembangan kawasan PIK2 dan meningkatnya aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa sejumlah faktor eksternal masih dapat memengaruhi laju penjualan.
“Namun, suku bunga yang masih tinggi, daya beli yang belum pulih sepenuhnya, serta kondisi ekonomi global tetap menjadi faktor yang dapat memengaruhi kecepatan penjualan,” katanya.
Untuk CBDK, Brigita melihat prospeknya tetap menarik berkat semakin aktifnya kawasan CBD PIK2 melalui operasional NICE, kehadiran institusi keuangan, serta peningkatan konektivitas dari Jalan Tol KATARAJA yang berpotensi meningkatkan permintaan lahan komersial dan aktivitas bisnis.
Meski demikian, ia kembali mengingatkan pentingnya mencermati kualitas pertumbuhan perusahaan.
“Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati keberlanjutan penjualan dan kualitas arus kas di tengah kondisi pasar properti yang masih menantang,” tuturnya.
Baca Juga: Saham-Saham yang Banyak Dijual Asing dalam Sebulan, Ada ASII, BBRI & BMRI
Valuasi Masih Menarik
Harga saham PANI dan CBDK telah terkoreksi lebih dari 50% sejak awal 2026. Menurut Brigita, kondisi tersebut membuat valuasi kedua saham menjadi lebih menarik, meski investor tetap perlu memperhatikan perbaikan arus kas agar pertumbuhan perusahaan berkelanjutan.
“Selama pengembangan kawasan PIK2 berjalan sesuai rencana, peluang re-rating valuasi masih terbuka,” paparnya.
Sementara itu, Adrian memperkirakan pertumbuhan kinerja PANI pada semester II akan lebih moderat karena lonjakan laba kuartal II sebagian ditopang pendapatan one-off. Namun, secara keseluruhan pertumbuhan sepanjang 2026 diperkirakan tetap positif berkat kontribusi marketing sales yang terjaga.
Ia juga menilai PANI memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan emiten properti yang menyasar segmen menengah ke bawah karena basis konsumennya berasal dari kelompok menengah atas. Selain itu, realisasi marketing sales yang telah mencapai sekitar 45% dari target tahunan turut menjadi penopang prospek perusahaan.
“Kami menilai valuasi PANI saat ini menarik berdasarkan metrik historis PE Band dan PBV perusahaan 3 tahun terakhir diperdagangkan di area SD-2 dan SD-1,” katanya.
Adrian merekomendasikan beli (buy) saham PANI dengan target harga Rp 8.500 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
