Reporter: Vivit Dewi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masa penawaran Sukuk Ritel (SR) seri SR025 berakhir hari ini, Rabu (16/9/2026) pukul 12.00 WIB. Namun, menjelang penutupan masih terlihat adanya kuota yang belum terserap pada kedua tenor SR025.
Sebagai informasi, SR025-T3 menawarkan imbal hasil tetap 6,80% per tahun dengan tenor tiga tahun. Sedangkan SR025-T5 memberikan imbal hasil 6,90% per tahun dengan tenor lima tahun.
Menurut pantauan Kontan pada Rabu (16/9/2026) pukul 10.30 WIB, SR025-T3 masih menyisakan 1,33% dari kuota Rp 15 triliun. Dengan kata lain, sekitar 98,67% atau Rp 14,80 triliun telah terserap.
Baca Juga: Menjelang Rilis FOMC, Intip Sentimen dan Proyeksi Rupiah Kamis (17/9)
Sementara itu, SR025-T5 menyisakan 20,52% dari kuota Rp 5 triliun. Artinya, sekitar 79,48% atau Rp 3,97 triliun telah terserap hingga waktu tersebut.
Meski begitu, angka tersebut belum mencerminkan realisasi penjualan akhir karena penawaran baru ditutup dua jam kemudian. Data penjualan final SR025 juga masih menunggu pengumuman resmi.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengatakan, perbedaan serapan antara kedua tenor tersebut berkaitan dengan pertimbangan investor terhadap jangka waktu investasi. Menurut dia, tambahan imbal hasil pada tenor lima tahun belum cukup untuk membuat investor beralih dari tenor yang lebih pendek.
"Gap T3 vs T5 didorong oleh keengganan investor terhadap risiko tenor panjang, sementara selisih kupon hanya 10 bps belum cukup jadi kompensasi," kata David kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).
Pilihan investor terhadap tenor pendek juga terlihat dari pola transaksi di Bareksa. Chief Operating Officer (COO), Bareksa Ni Putu Kurniasari mengatakan, tenor tiga tahun masih menjadi pilihan yang paling banyak diminati investor SBN ritel.
"Tenor paling diminati selalu T3, karena banyak juga yang menggunakan SBN ritel sebagai alat investasi untuk kebutuhan menengah (tidak hanya jangka panjang)," kata Ni Putu.
Menurut Ni Putu, status SR025 sebagai surat berharga yang bisa diperdagangkan kembali turut menjadi pertimbangan. Bagi investor yang membutuhkan dana sebelum jatuh tempo, kepemilikan dapat dilepas melalui pasar sekunder.
Baca Juga: Rencana Lippo Karawaci (LPKR) Tarik Saham Treasuri Terkendala Harga, Simak Prospeknya
Di tengah pilihan instrumen pendapatan tetap yang cukup beragam, SR025 juga harus bersaing dengan surat utang negara yang diperdagangkan di pasar sekunder. Pergerakan suku bunga turut memengaruhi daya tarik masing-masing instrumen bagi investor.
"Investor yang lebih berpengalaman berpotensi mengalihkan sebagian dana ke seri FR di pasar sekunder dengan YTM lebih tinggi seiring harga yang tertekan akibat kenaikan BI Rate," pungkas David.
David juga melihat investor mulai mempertimbangkan seri SBN ritel berikutnya, yakni SBR015 dan ST017. Kedua seri tersebut menggunakan skema imbal hasil mengambang dengan batas minimum atau floating with floor, berbeda dengan SR025 yang menawarkan kupon tetap.
"Skema floating with floor pada SBR015 dan ST017 berpotensi lebih menarik di tengah suku bunga yang masih tinggi dan penuh ketidakpastian," ujar David.
Untuk diketahui, periode penawaran SR025 berlangsung mulai 21 Agustus hingga 16 September 2026 pukul 12.00 WIB. Realisasi penjualan final masih menunggu pengumuman, termasuk tambahan serapan yang terjadi pada jam-jam terakhir sebelum penutupan.
SR025 berakhir, pemerintah dijadwalkan kembali menawarkan SBR015 pada 28 September hingga 22 Oktober 2026, kemudian dilanjutkan dengan ST017 pada 6 November hingga 2 Desember 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














