kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Ruang Pemulihan Indeks Kompas 100 di Semester II-2026 Terbuka, Ini Saran Analis


Selasa, 30 Juni 2026 / 18:40 WIB
Ruang Pemulihan Indeks Kompas 100 di Semester II-2026 Terbuka, Ini Saran Analis
ILUSTRASI. IHSG Menguat-Suasana di Bursa Efek Indonesia (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja indeks Kompas 100 masih berada di zona negatif sepanjang semester I-2026. Hingga penutupan perdagangan Selasa (30/6/2026), indeks Kompas 100 tercatat anjlok 39,01 % secara year to date (ytd). 

Penurunan tersebut bahkan lebih dalam dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada periode yang sama, IHSG terkoreksi 34,74%.

Kendati tertekan sepanjang semester I-2026, prospek indeks Kompas100 pada semester II-2026 dianggap masih cukup positif. Potensi pemulihan tetap terbuka meski pergerakannya diperkirakan berlangsung secara bertahap. 

Baca Juga: Simak Strategi Investasi pada Semester II–2026 Agar Tetap Cuan

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari mengatakan koreksi indeks Kompas100 hampir 39% sepanjang semester pertama telah membawa valuasi banyak saham blue chip ke level yang lebih atraktif secara historis, sehingga ruang penurunan mulai lebih terbatas meski volatilitas jangka pendek masih berpotensi berlanjut. 

Namun, hingga saat ini pasar belum mendapat katalis yang cukup kuat untuk memicu pembalikan tren karena investor asing masih konsisten mencatatkan net sell hingga per 30 Juni 2026 meski Indonesia tetap mempertahankan status emerging market di MSCI. 

Brigita berpendapat, sentimen positif semester kedua akan datang dari potensi penurunan harga energi yang dapat memperbaiki margin emiten konsumer, disiplin harga di sektor telekomunikasi yang menjaga profitabilitas operator, serta pertumbuhan laba perbankan yang masih solid meski margin bunga mulai tertekan. 

Di sisi lain, pasar masih dibayangi ketidakpastian arus dana asing, tingginya suku bunga, potensi pelemahan daya beli, serta evaluasi lanjutan MSCI pada November 2026. 

"Dengan demikian, kami melihat semester kedua lebih sebagai fase bottoming dan akumulasi dibandingkan reli yang berlangsung agresif," kata Brigita kepada Kontan, Selasa (30/6/2026).

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengamini. Prospek Indeks Kompas100 pada semester II-2026 berpotensi membaik dibandingkan semester pertama, meskipun volatilitas diperkirakan masih cukup tinggi.

Baca Juga: Alokasikan 98% Laba Bersih, Mitratel (MTEL) Tebar Dividen Tunai Rp 2,08 Triliun

Koreksi sepanjang semester pertama membuat valuasi menjadi lebih menarik dibandingkan rata-rata historisnya. Ini membuka peluang terjadinya re-rating apabila didukung oleh perbaikan sentimen global maupun domestik.

Dari sisi domestik, terdapat beberapa faktor yang berpotensi menjadi katalis positif, antara lain ekspektasi percepatan belanja pemerintah pada semester kedua, berlanjutnya proyek-proyek strategis nasional, stabilitas inflasi yang relatif terjaga, serta potensi pertumbuhan konsumsi masyarakat. Selain itu, apabila kinerja keuangan emiten pada semester I-2026 menunjukkan perbaikan, hal tersebut dapat meningkatkan kembali minat investor terhadap saham-saham blue chip yang menjadi konstituen utama Kompas 100.

Di sisi global, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, perkembangan tensi geopolitik, stabilitas harga komoditas, serta arus dana asing (foreign flow) masih akan menjadi faktor yang sangat menentukan. Jika ketidakpastian global mulai mereda dan terjadi normalisasi aliran dana ke emerging markets, maka saham-saham berkapitalisasi besar berpeluang menjadi tujuan utama investor institusi.

Sementara itu, sentimen yang masih berpotensi menjadi pemberat antara lain perlambatan ekonomi global, ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta kemungkinan investor asing masih menerapkan strategi wait and see apabila belum terdapat katalis yang cukup kuat.

"Secara keseluruhan, saya memperkirakan semester II-2026 akan lebih kondusif dibanding semester pertama, namun pergerakan pasar diperkirakan tetap bersifat selektif dengan fokus utama pada emiten yang memiliki fundamental kuat, profitabilitas yang stabil, serta prospek pertumbuhan laba yang berkelanjutan," ucap Alrich kepada Kontan, Selasa (30/6/2026).

Saham Pilihan Kompas 100

Brigita menyampaikan emiten yang memiliki fundamental kuat, valuasi menarik, dan punya katalis yang jelas bisa menjadi pilihan investor untuk jangka panjang.

Baca Juga: Safe Haven Masih Diburu, Cermati Prospek dan Rekomendasi Saham HRTA di 2026

Pada sektor perbankan, BBCA tetap menjadi pilihan utama berkat kualitas aset dan profitabilitas yang konsisten, sementara BBNI menarik karena kombinasi pertumbuhan kredit yang kuat dan valuasi yang masih relatif murah sehingga berpotensi mengalami re-rating. 

Untuk sektor telekomunikasi, TLKM layak dikoleksi karena disiplin harga industri masih terjaga, persaingan tarif tidak mengarah pada perang harga, serta valuasinya sudah berada di level yang atraktif. 

Lalu, sektor konsumer, seperti KLBF, MYOR, dan AMRT dinilai menarik. Harga minyak global yang mulai landai berpotensi menekan biaya bahan baku dan kemasan sehingga mendukung perbaikan margin mulai akhir tahun, sementara potensi penurunan harga BBM nonsubsidi dapat membantu pemulihan daya beli masyarakat. 

Selanjutnya pada sektor komoditas, ANTM tetap menarik sebagai eksposur terhadap emas dan hilirisasi mineral serta sektor holdings, ASII menjadi pilihan yang menarik karena valuasi sudah atraktif, didukung diversifikasi bisnis dengan potensi kenaikan kinerja UNTR seiring relaksasi RKAB, serta rencana buyback bisa menopang harga saham pada semester kedua.

Senada, Alrich juga cenderung memilih saham-saham berfundamental kuat, memiliki pangsa pasar dominan, arus kas yang sehat, serta mampu mempertahankan pertumbuhan laba dalam berbagai kondisi ekonomi.

Pada sektor perbankan, BBCA masih menjadi salah satu pilihan utama karena memiliki kualitas aset yang sangat baik, profitabilitas tinggi, serta kemampuan menjaga pertumbuhan kredit secara konsisten. BMRI juga menarik didukung transformasi digital, pertumbuhan kredit korporasi dan ritel, serta valuasi yang relatif menarik dibandingkan potensi pertumbuhan laba.

Untuk sektor kesehatan, KLBF tetap menjadi salah satu pilihan defensif. Diversifikasi bisnis yang luas mulai dari farmasi, nutrisi, hingga distribusi memberikan stabilitas pendapatan. Selain itu, ekspansi pada produk kesehatan preventif dan digital health menjadi prospek pertumbuhan jangka panjang.

Baca Juga: Rotasi Sektor Berpeluang Terjadi pada Semester II-2026, Ini Saham Pilihannya

Di sektor telekomunikasi, TLKM masih memiliki fundamental yang solid melalui dominasi bisnis telekomunikasi nasional, pertumbuhan layanan data, pengembangan bisnis data center, serta monetisasi infrastruktur digital.

Untuk sektor konsumer, ICBP dan MYOR layak diperhatikan karena didukung permintaan domestik yang relatif stabil, jaringan distribusi yang kuat, serta kemampuan menjaga margin meskipun terjadi fluktuasi biaya bahan baku.

Namun, untuk rekomendasi dan target harga secara teknikalnya, Alrich menyarankan strategi wait and see untuk saham BMRI, BBCA dan TLKM. Sementara itu, untuk saham yang telah mencatatkan kenaikan signifikan, seperti KLBF dan MYOR, strategi sell on strength dinilai lebih tepat. Sejumlah saran itu dilontarkan mengingat kondisi IHSG saat ini terlalu volatil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×