Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi mengalami tekanan jangka pendek lanjutan apabila bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed memutuskan menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung 15-16 September 2026.
Menjelang rapat FOMC, Rabu (16/9/2026), IHSG melemah 0,38% ke posisi 6.436,85. Dalam lima hari perdagangan terakhir, IHSG telah terkoreksi mencapai 3,61%.
Head of Equity Research J.P. Morgan Indonesia, Benny Kurniawan, menyampaikan pandangannya terkait dampak kebijakan suku bunga The Fed terhadap pasar saham domestik.
Baca Juga: The Fed Berpotensi Kerek Suku Bunga, Pasar Keuangan Indonesia Terancam
Benny mengatakan, potensi kenaikan lebih lanjut suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan tetap menjadi hambatan bagi saham-saham Indonesia dan berpotensi menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek.
"Namun, prospek jangka menengah dan panjang akan tetap bergantung pada kombinasi kondisi global dan fundamental domestik," kata Benny kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).
Adapun, berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan kali ini telah mencapai 92,5%. Kenaikan suku bunga global tersebut tentunya akan membawa dampak ke pasar saham domestik yang tercermin dari IHSG.
Selain pasar saham, tekanan juga terlihat pada rupiah. Pada Rabu (16/9), rupiah di pasar spot melemah tipis 0,01% menjadi Rp 17.696 per dolar AS. Ini sekaligus mencatat pelemahan lima hari perdagangan berturut-turut.
Baca Juga: Saham Rokok Tertekan Usai Reshuffle Menkeu, Ketidakpastian Cukai Jadi Pemicu
Pada pasar obligasi, mengacu data Bloomberg pada Rabu (16/9/2026) pukul 16:15 WIB, yield SBN tenor 10 tahun turun 1,3 bps menjadi 7,14%. Sementara, yield SBN tenor 5 tahun juga ikut turun 2,7 bps menjadi 6,97%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














