Reporter: Anna Suci Perwitasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) cetak kenaikan laba kotor hingga 105% di tengah penurunan pendapatan di sembilan bulan pertama 2026.
Di mana, pendapatan konsolidasian TOBA turun 11% secara tahunan menjadi US$ 257,3 juta di periode Januari - September 2026. Penurunan pendapatan terjadi berasal dari bisnis legacy TOBA.
Walau demikian, laba kotor tumbuh TOBA sukses melonjak 105% menjadi US$ 45,2 juta di sembilan bulan pertama 2026. Margin laba kotor tumbuh lebih dari dua kali lipat pada 18%, dibandingkan dengan 8% pada tahun sebelumnya.
TOBA pun berhasil memperbaiki rugi bersih. TBS mencatat, rugi bersih konsolidasian sebesar US$ 35,4 juta hingga September 2026. Realisasi itu menyusut 72% dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan rugi bersih US$ 127,9 juta.
Baca Juga: BEI Luncurkan Indeks IDX Commodity 20, Ini Saham Komoditas yang Jadi Pilihan Analis
Perbaikan profitabilitas karena TOBA tidak lagi mencatatkan rugi dari divestasi bisnis pembangkit listrik tenaga batubara yang merupakan beban sewaktu, tidak berulang, dan non-kas, yang dibukukan pada tahun 2025.
Rugi bersih pada periode ini mencakup beban yang terkait dengan akuisisi yang dilakukan TOBA terhadap Cora Environment Pte. Ltd. (Cora), di mana sebagian besarnya terdiri dari beban terkait depresiasi dan amortisasi yang merupakan beban non-kas.
Hal tersebut juga termasuk beban sewaktu terkait refinancing terhadap pinjaman senior dari entitas-entitas bisnis pengelolaan limbah TOBA, yang dilakukan untuk menurunkan biaya modal serta meningkatkan struktur permodalan.
Sementara itu, rugi bersih yang dicatatkan pada saat ini sejalan dengan ekspektasi manajemen TOBA sebagai bagian dari transisi yang sedang berlangsung dari bisnis legacy menuju bisnis infrastruktur berkelanjutannya.
TBS juga mencatatkan EBITDA konsolidasian yang disesuaikan sebesar US$ 44,4 juta pada sembilan bulan pertama 2026, atau tumbuh 39% year-on-year. EBITDA yang disesuaikan ini mengecualikan beban pendanaan akuisisi bisnis dan beban-beban terkait depresiasi dan amortisasi.
Margin EBITDA yang disesuaikan pada periode ini adalah sebesar 17%, tumbuh enam poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Merdeka Battery (MBMA) Gelar Private Placement, Bakal Terbitkan 10,8 Miliar Saham
“Pada sembilan bulan pertama tahun 2026, TBS terus membuktikan bahwa transformasi yang sedang dijalankannya menghasilkan pendapatan yang berkualitas. Kami juga tetap berkomitmen untuk melanjutkan transformasi kami seiring terus memperbesar bisnis infrastruktur berkelanjutan kami di Indonesia dan kawasan Asia, sementara pada saat yang sama, tetap mengelola bisnis legacy kami secara bertanggung jawab,” kata Direktur dan Chief Financial Officer TOBA Juli Oktarina dalam rilis yang diterima KONTAN, Jumat (30/10/2026)
Bisnis infrastruktur berkelanjutan TBS tetap menjadi kontributor utama bagi pendapatan dan profitabilitas secara keseluruhan.
Bisnis pengelolaan limbah dan kendaraan listrik TOBA secara kolektif berkontribusi 66% kepada pendapatan konsolidasian dan 71% pada EBITDA yang disesuaikan. Hasil ini membuktikan transisi TOBA dari bisnis legacy-nya menghasilkan bauran pendapatan dan profitabilitas baru dengan struktur pendapatan yang berkualitas, stabil, dan berkelanjutan.
Terkait dengan arus kas, TOBA mencatatkan arus kas dari aktivitas operasi sebesar US$ 20,3 juta, membalikkan arus kas dari aktivitas operasi yang negatif pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
TBS mencatatkan seluruh capaian kinerja finansial ini sementara tetap mempertahankan profil utang yang sehat, dengan likuiditas yang kuat dan pilihan pendanaan yang beragam untuk mendukung beban operasional dan belanja modal, serta untuk mendanai ekspansi melalui akuisisi anorganik yang potensial. Per 30 September 2026, saldo kas (termasuk kas yang dibatasi penggunaannya) TBS adalah sebesar US$ 89,6 juta.
Pengelolaan Limbah
Bisnis pengelolaan limbah TBS mencatatkan pertumbuhan yang solid pada periode Januari-September 2026. Pendapatan TOBA dari bisnis ini mencapai US$ 157,3 juta, tumbuh 41% YoY. Pertumbuhan ini menghasilkan peningkatan pada margin laba kotor bisnis pengelolaan limbah sebesar 13,3%.
Secara kolektif bisnis pengelolaan limbah TBS mengumpulkan 755.990 ton limbah sepanjang di sembilan bulan pertama 2026.
Secara kolektif, bisnis pengelolaan limbah TBS melayani lebih dari 470.000 rumah tangga dan pelaku usaha di Indonesia dan Singapura.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif Pekan Depan, Simak Proyeksinya
Lebih lanjut, Cora terlibat dalam Skema Pengembalian Wadah Minuman (BCRS), skema yang diinisiasi oleh Pemerintah Singapura untuk mengurangi sampah wadah minuman berbahan plastik dan logam.
Melalui Fasilitas Pemulihan Materialnya, Cora menghitung, memilah, dan menggabungkan wadah minuman yang dikumpulkan untuk menjadi bahan bersih dan berkualitas tinggi yang kemudian dapat didaur ulang.
Sejak menjalankan operasional untuk BCRS pada Agustus 2026, sampai dengan akhir September 2026, lebih dari 30 juta wadah minuman telah dikumpulkan dan diproses.
Energi Terbarukan
TBS mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Mini-Hidro Sumberjaya di Lampung dengan kapasitas 6MW, di mana TBS memiliki kepemilikan minoritas pada perusahaan operatornya, PT Adimitra Energi Hidro. Pada periode Januari-September 2026, pembangkit listrik ini telah menghasilkan 20,8GWh listrik dengan ketersediaan sebesar 97%.
TBS terus melanjutkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya terapung dengan kapasitas 46MWp (megawatt peak) di bawah PT Nusantara Tembesi Baru Energi, di mana TOBA memegang kepemilikan minoritas, dengan target operasi komersial dimulai pada kuartal terakhir 2026.
Setelah pembangkit listrik ini beroperasi, TOBA mengharapkan mendapatkan sumber pendapatan baru bagi bisnis infrastruktur berkelanjutannya.
Karena kepemilikan TOBA pada bisnis energi terbarukan merupakan kepemilikan minoritas, TOBA mencatatkan pendapatan dari bisnis ini sebagai bagian dari laba entitas asosiasi dan ventura bersama. Pada sembilan bulan pertama 2026, TBS menerima US$ 0,3 juta sebagai bagian dari laba entitas asosiasi dan ventura bersama, tumbuh 77% year-on-year.
Kendaraan Listrik
Melalui Electrum, anak perusahaan ventura bersama TBS dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), bisnis kendaraan listrik TOBA memperlihatkan pertumbuhan berkelanjutan, dengan lebih banyak motor yang beroperasi dan stasiun penukaran baterai (BSS) yang semakin tersedia luas.
Per 30 September 2026, lebih dari 14.000 sepeda motor listrik telah beroperasi di jalan, 115% lebih tinggi dibandingkan per 30 September 2025.
Pada periode Januari-September 2026, pengguna Electrum telah menjalani 244 juta kilometer.
Untuk mendukung penggunaan yang lebih baik, jumlah BSS yang tersedia tumbuh 85% YoY, dengan 701 BSS aktif Electrum di area operasionalnya. Pengguna Electrum secara keseluruhan mengganti baterai lebih dari 1,8 juta kali rata-rata setiap bulannya.
Sebagai hasilnya, Electrum terus mencatatkan peningkatan kinerja finansial. Pada 9M2026, bisnis kendaraan listrik TBS mencatatkan pendapatan sebesar US$12,9 juta, tumbuh 120% dibandingkan tahun sebelumnya. Bisnis ini juga mencatatkan laba kotor sebesar US$1,2 juta pada periode yang sama, membalikkan rugi kotor sebesar US$0,7 juta pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Electrum menawarkan tiga model sepeda motor listrik, yaitu Electrum H1, H3, dan H5. Dirancang secara khusus dengan menyesuaikan pada kondisi dan perilaku pengguna di Indonesia untuk mendukung penggunaan mobilitas dan produktif, model-model ini tetap ditawarkan dengan skema sewa harian serta skema sewa-untuk-milik (rent-to-own), dengan jumlah besar pengguna berasal dari pengemudi ride-hailing dan kurir logistik.
Bisnis Legacy
Dalam transformasinya saat ini, TBS terus mengelola bisnis legacy-nya secara bertanggung jawab. Bisnis pertambangan dan perdagangan batubara masih menjadi kontributor bagi portofolio TOBA di tengah transisi ini. TOBA mengelola aset dan seluruh beban terkait dengan disiplin tinggi sepanjang periode transisi.
Pada periode Januari-September 2026, bisnis pertambangan batubara mencatatkan pendapatan sebesar US$ 61,8 juta, lebih rendah 10% YoY.
Sebagian dari dampak penurunan ini diimbangi dengan harga penjualan rata-rata yang lebih tinggi karena fluktuasi harga komoditas global. Segmen ini juga mencatatkan laba kotor sebesar US$ 21,6 juta dan EBITDA sebesar US$ 20,1 juta hingga kuartal III-2026.
Baca Juga: Pendapatan Multivision Plus (RAAM) Naik 32%, Tapi Masih Rugi hingga Kuartal III-2026
Bisnis perdagangan batubara mencatatkan pendapatan sebesar US$ 19,5 juta pada periode Januari-September 2026, lebih rendah 76% dibandingkan tahun sebelumnya, disebabkan aktivitas perdagangan yang lebih rendah pada periode tersebut.
Segmen ini mencatatkan laba kotor sebesar US$ 0,6 juta serta rugi EBITDA sebesar US$ 0,5 juta pada periode yang sama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













