Reporter: Yuliana Hema | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan indeks baru, yakni IDX Commodity 20 (IDXCMDTY20) pada 30 Oktober 2026. Ini mengacu pengumuman BEI No. Peng-00208/BEI.POP/10-2026.
Indeks mengukur kinerja harga dari 20 saham perusahaan penghasil komoditas dan perusahaan yang bergerak di rantai pasok industri komoditas dengan kapitalisasi pasar yang tinggi dan likuiditas transaksi yang baik.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Iding Pardi menjelaskan dengan indeks baru ini, BEI menyediakan sebuah acuan investasi yang membantu investor memantau kinerja saham-saham perusahaan berbasis komoditas di pasar saham.
“Serta dapat menjadi referensi bagi investor dalam mengidentifikasi peluang investasi pada perusahaan yang bergerak di berbagai industri komoditas serta mendukung strategi diversifikasi portofolio,” katanya kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 7,03% Sepekan, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham Pekan Depan
Selain itu, kata Iding, indeks IDX Commodity 20 juga membuka peluang bagi penciptaan produk investasi berbasis indeks seperti reksadana maupun Exchange-Traded Fund (ETF).
“Ini memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap saham-saham perusahaan berbasis komoditas melalui instrumen investasi yang terstruktur dan transparan,” jelasnya.
Adapun metode penghitungan indeks IDX Commodity 20 menggunakan Capped Adjusted Free Float Market Capitalization Weighted dengan pembatasan bobot saham paling tinggi 15% yang disesuaikan pada evaluasi.
Iding menjelaskan konstituen saham IDX Commodity 20 dipilih melalui proses seleksi yang menggunakan kriteria likuiditas untuk memastikan saham yang terpilih memiliki likuiditas yang baik.
“Khususnya dalam mendukung kebutuhan para Manajer Investasi dalam membuat dan mengelola produk atas indeks tersebut,” kata dia.
Untuk menjadi konstituen indeks IDX Commodity 20, kata Iding, saham harus telah tercatat di BEI selama minimal enam bulan, aktif diperdagangkan selama enam bulan terakhir serta memenuhi klasifikasi industri berbasis komoditas berdasarkan IDX Industrial Classification (IDXIC).
Saham yang masuk dalam daftar kepemilikan saham konsentrasi tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), memiliki Notasi Khusus atau termasuk dalam Efek dalam Pemantauan Khusus selama enam bulan terakhir, tidak memenuhi kriteria seleksi awal.
Baca Juga: Peretasan Binance Picu Tekanan Jual, BNB Jadi yang Paling Terdampak
Dari saham yang memenuhi kriteria indeks, lanjut Iding, BEI memilih 20 saham dengan peringkat tertinggi berdasarkan tiga faktor, yaitu nilai transaksi, frekuensi dan free float di pasar reguler selama enam bulan terakhir.
Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama bilang indeks ini bisa menjadi acuan untuk melihat saham komoditas mana yang memiliki performa lebih baik.
Jika tertinggal, Kevin menyarankan investor melihat penyebab penurunannya. Ini penting karena bisnis setiap emiten memiliki bisnis dan sensitivitas harga yang berbeda.
“Karena itu, indeks IDX Commodity 20 ini dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja portofolio, bukan sebagai satu-satunya dasar keputusan investasi,” jelasnya.
Sementara itu, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menyebut peluncuran indeks ini merupakan perkembangan positif karena memberikan acuan yang lebih spesifik.
“Namun investor perlu memahami bahwa indeks ini bukan indikator langsung pergerakan harga komoditas. Kinerjanya juga dipengaruhi valuasi, prospek laba, struktur permodalan dan sentimen masing-masing emiten,” tuturnya.
Baca Juga: Transformasi Berbuah, Bisnis Limbah & Kendaraan Listrik Dongkrak Profitabilitas TOBA
Rully mencermati bobot indeks ini masih cukup terkonsentrasi. Di mana, AMMN, BRMS , BRPT dan TPIA menguasai sekitar 47% dari total bobot. Artinya, pergerakan indeks dapat cukup banyak dipengaruhi oleh saham tersebut.
Secara keseluruhan, Rully menilai prospek sektor komoditas hingga pertengahan 2027 masih cukup menarik. Namun ada kemungkinan pergerakannya akan semakin selektif dan tidak merata seperti di 2026.
“Untuk emas, prospeknya masih didukung oleh ketidakpastian geopolitik dan kebutuhan diversifikasi aset, tetapi setelah kenaikan harga cukup tinggi ada risiko koreksi dan volatilitas,” jelasnya.
Bergeser ke komoditas tembaga, dia menilai hasil bumi ini punya dukungan permintaan yang lebih struktural. Namun prospek laba emiten masih bergantung pada kapasitas produksi dan keberhasilan pengembangan proyek.
“Sementara nikel masi menghadapi tantangan dari sisi keseimbangan pasokan dan permintaan global. Ada potensi pemulihan, tetapi belum tentu seluruh produsen merasakan manfaat yang sama,” kata Rully.
Investment Growth Specialist Korea Investment and Sekuritas Indonesia Ahmad Faris Mu’tashim menambahkan harga komoditas akan cenderung stabil di sisa 2026 dan akan melambat pada semester II-2026.
Baca Juga: Fundamental Membaik, Tekanan Eksternal Masih Bayangi Laju Saham GOTO
“Khusus untuk emas, pergerakannya akan menyesuaikan ekspektasi arah suku bunga Amerika Serikat sehingga ada variabel tambahan yang perlu diperhatikan,” katanya.
Dari konstituen awal indeks IDX Commodity 20 ini, Ahmad menjagokan saham AADI karena punya struktur kas yang solid dan potensi dividen yield yang besar.
Sementara, saham pilihan Rully jatuh pada AADI, INCO, TINS dan MEDC. Sedangkan saham pilihan Kiwoom Sekuritas ada di ADRO, ANTM dan AMMN.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














