kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.546.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

BEI Luncurkan Indeks IDX Commodity 20, Ini Saham Komoditas yang Jadi Pilihan Analis


Jumat, 30 Oktober 2026 / 21:48 WIB
BEI Luncurkan Indeks IDX Commodity 20, Ini Saham Komoditas yang Jadi Pilihan Analis
ILUSTRASI. BEI meluncurkan IDX Commodity 20 berisi 20 saham komoditas. Simak metodologi indeks, prospek sektor, dan saham pilihan analis. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadirkan indeks baru untuk memberikan gambaran lebih spesifik mengenai kinerja saham-saham berbasis komoditas di pasar modal. Indeks bernama IDX Commodity 20 (IDXCMDTY20) tersebut resmi diluncurkan pada 30 Oktober 2026.

Peluncuran indeks ini mengacu pada pengumuman BEI No. Peng-00208/BEI.POP/10-2026. IDX Commodity 20 mengukur kinerja harga 20 saham perusahaan penghasil komoditas maupun perusahaan yang bergerak dalam rantai pasok industri komoditas. Saham-saham yang menjadi konstituen indeks dipilih berdasarkan kapitalisasi pasar yang tinggi dan likuiditas transaksi yang baik.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Iding Pardi menjelaskan, kehadiran indeks IDX Commodity 20 memberikan acuan investasi bagi investor untuk memantau kinerja saham-saham perusahaan berbasis komoditas di pasar saham.

Baca Juga: BEI Bakal Depak Saham HSC dari Indeks, Bagaimana Nasib Emiten?

“Serta dapat menjadi referensi bagi investor dalam mengidentifikasi peluang investasi pada perusahaan yang bergerak di berbagai industri komoditas serta mendukung strategi diversifikasi portofolio,” katanya kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Selain menjadi tolok ukur kinerja saham, Iding mengatakan, indeks IDX Commodity 20 juga berpotensi mendorong penciptaan produk investasi berbasis indeks, seperti reksadana maupun Exchange-Traded Fund (ETF).

“Ini memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap saham-saham perusahaan berbasis komoditas melalui instrumen investasi yang terstruktur dan transparan,” jelasnya.

Dari sisi metodologi, penghitungan indeks IDX Commodity 20 menggunakan metode Capped Adjusted Free Float Market Capitalization Weighted. Metode tersebut menerapkan pembatasan bobot maksimal setiap saham sebesar 15% yang disesuaikan pada saat evaluasi indeks.

Iding menjelaskan, pemilihan konstituen IDX Commodity 20 dilakukan melalui proses seleksi dengan mempertimbangkan sejumlah kriteria, terutama likuiditas saham. Hal ini bertujuan memastikan saham-saham yang masuk indeks dapat diperdagangkan secara aktif.

“Khususnya dalam mendukung kebutuhan para Manajer Investasi dalam membuat dan mengelola produk atas indeks tersebut,” kata dia.

Adapun saham yang dapat menjadi konstituen IDX Commodity 20 harus telah tercatat di BEI minimal selama enam bulan, aktif diperdagangkan dalam enam bulan terakhir, serta memenuhi klasifikasi industri berbasis komoditas berdasarkan IDX Industrial Classification (IDXIC).

Sebaliknya, saham yang masuk dalam daftar kepemilikan saham dengan konsentrasi tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), memiliki Notasi Khusus, atau termasuk dalam Efek dalam Pemantauan Khusus selama enam bulan terakhir tidak memenuhi kriteria seleksi awal.

Dari seluruh saham yang lolos kriteria tersebut, BEI kemudian memilih 20 saham dengan peringkat tertinggi berdasarkan tiga faktor, yakni nilai transaksi, frekuensi transaksi, dan free float di pasar reguler selama enam bulan terakhir.

Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama menilai, indeks IDX Commodity 20 dapat menjadi acuan bagi investor untuk mengidentifikasi saham-saham komoditas yang memiliki kinerja lebih baik dibandingkan saham lainnya.

Baca Juga: Wall Street Beragam, Nasdaq Anjlok Seiring Kekhawatiran Investor Terhadap Belanja AI

Menurut Kevin, investor juga perlu mencermati penyebab apabila suatu saham tertinggal dari kinerja indeks. Pasalnya, setiap emiten memiliki karakteristik bisnis dan sensitivitas yang berbeda terhadap perubahan harga komoditas.

“Karena itu, indeks IDX Commodity 20 ini dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja portofolio, bukan sebagai satu-satunya dasar keputusan investasi,” jelasnya.

Senada, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menyambut positif peluncuran IDX Commodity 20. Menurut dia, indeks tersebut memberikan acuan yang lebih spesifik bagi investor dalam memantau perkembangan saham-saham sektor komoditas.

“Namun investor perlu memahami bahwa indeks ini bukan indikator langsung pergerakan harga komoditas. Kinerjanya juga dipengaruhi valuasi, prospek laba, struktur permodalan dan sentimen masing-masing emiten,” tuturnya.

Rully juga menyoroti konsentrasi bobot saham dalam indeks tersebut yang masih cukup tinggi. Saham AMMN, BRMS, BRPT, dan TPIA tercatat menguasai sekitar 47% dari total bobot indeks.

Kondisi tersebut membuat pergerakan IDX Commodity 20 berpotensi sangat dipengaruhi oleh kinerja keempat saham tersebut. Dengan demikian, investor perlu memperhatikan komposisi indeks sebelum menjadikannya sebagai acuan dalam mengambil keputusan investasi.

Secara keseluruhan, Rully menilai prospek sektor komoditas hingga pertengahan 2027 masih cukup menarik. Meski demikian, pergerakan saham-saham komoditas diperkirakan semakin selektif dan tidak merata seperti yang terjadi pada 2026.

“Untuk emas, prospeknya masih didukung oleh ketidakpastian geopolitik dan kebutuhan diversifikasi aset, tetapi setelah kenaikan harga cukup tinggi ada risiko koreksi dan volatilitas,” jelasnya.

Baca Juga: Waspada! Yield SBN 10 Tahun Berpotensi Melonjak ke Level 7,8%

Sementara itu, komoditas tembaga dinilai memiliki dukungan permintaan yang lebih struktural. Namun, prospek pertumbuhan laba emiten tetap bergantung pada kapasitas produksi dan keberhasilan pengembangan proyek masing-masing perusahaan.

“Sementara nikel masi menghadapi tantangan dari sisi keseimbangan pasokan dan permintaan global. Ada potensi pemulihan, tetapi belum tentu seluruh produsen merasakan manfaat yang sama,” kata Rully.

Investment Growth Specialist Korea Investment and Sekuritas Indonesia Ahmad Faris Mu’tashim menambahkan, harga komoditas diperkirakan cenderung stabil pada sisa 2026, sebelum mengalami perlambatan pada semester II-2026.

“Khusus untuk emas, pergerakannya akan menyesuaikan ekspektasi arah suku bunga Amerika Serikat sehingga ada variabel tambahan yang perlu diperhatikan,” katanya.

Terkait pilihan saham dari konstituen awal IDX Commodity 20, Ahmad menjagokan saham AADI. Emiten tersebut dinilai memiliki struktur kas yang solid serta potensi imbal hasil dividen (dividend yield) yang besar.

Sementara itu, Rully memilih saham AADI, INCO, TINS, dan MEDC. Adapun pilihan saham dari Kiwoom Sekuritas mencakup ADRO, ANTM, dan AMMN.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×