Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
Ia mencontohkan, pada INKP terdapat laba selisih kurs yang signifikan sehingga turut mendorong lonjakan laba bersih.
“Keuntungan selisih kurs ini cukup besar, jadi memang perlu dipisahkan mana yang operasional dan mana yang non-operasional,” jelasnya.
Meski demikian, Sukarno tetap melihat prospek industri kertas hingga akhir 2026 masih positif, didukung pemulihan aktivitas manufaktur global serta meningkatnya permintaan kemasan.
“Segmen packaging masih akan jadi penopang utama, seiring pertumbuhan e-commerce dan perdagangan global,” katanya.
Namun, ia mengingatkan adanya tekanan struktural pada segmen kertas cetak dan tulis akibat digitalisasi
Baca Juga: Laba Emiten Nikel Melesat di 2025, Begini Proyeksi dan Rekomendasi Sahamnya di 2026
Untuk Semester II-2026, Sukarno menilai sejumlah katalis masih akan mendukung kinerja, seperti pemulihan permintaan ekspor, potensi kenaikan harga pulp, serta pelemahan rupiah.
“Selain itu, kalau suku bunga global mulai turun, ini juga bisa dorong aktivitas manufaktur dan konsumsi,” imbuhnya.
Di sisi lain, risiko tetap perlu dicermati, mulai dari perlambatan ekonomi global, potensi oversupply pulp, hingga volatilitas biaya energi dan logistik.
“Kalau rupiah nanti menguat, kontribusi laba dari selisih kurs juga bisa berkurang, jadi pertumbuhan laba bisa lebih moderat,” katanya.
Baca Juga: Laba Emiten Semester I Beri Sinyal Membaik, CGS: Hanya 18% Emiten Meleset dari Target
Sukarno merekomendasikan beli saham INKP dengan target harga Rp11.600 per saham dan TKIM dengan target harga Rp3.200 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
