Reporter: Yuliana Hema | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perubahan kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi perbankan dalam mengelola likuiditas, termasuk PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA).
Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) menaikkan batas maksimal insentif KLM menjadi 6% dari Dana Pihak Ketiga (DPK), dari sebelumnya 5,5%. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada 1 September 2026.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin menyebut tambahan insentif KLM berpotensi memperkuat likuiditas perbankan.
Menurutnya, di saat yang sama kebijakan ini dapat membantu bank mengurangi ketergantungan pada sumber pendanaan yang mahal atau berjangka pendek.
“Meskipun kebijakan ini tidak secara langsung meningkatkan modal regulasi, kebijakan ini memberikan fleksibilitas neraca yang lebih besar,” tulis Nurkholis dalam risetnya belum lama ini.
Baca Juga: Bank Woori Saudara (SDRA) Tawarkan SR025, Perluas Akses Investasi Ritel
Nurkholis bilang tambahan fleksibilitas likuiditas tersebut dapat membantu perbankan menopang Liquidity Coverage Ratio (LCR). Dengan ruang likuiditas yang lebih besar, bank juga berpeluang mengoptimalkan struktur pendanaannya.
Dalam skema terbaru, insentif KLM terdiri atas kanal pembiayaan maksimal 4% dari DPK dan KLM Pendalaman Pasar Uang maksimal 2%. Kedua kanal tersebut memiliki tujuan berbeda dalam mendukung likuiditas dan intermediasi perbankan.
Kanal pembiayaan diarahkan untuk mendukung penyaluran kredit ke sektor prioritas. Sementara kanal pendalaman pasar uang ditujukan untuk mengurangi segmentasi likuiditas antarbank serta meningkatkan aktivitas pasar uang domestik.
Perubahan tersebut juga membuka peluang bagi BWS untuk mengoptimalkan likuiditas. Per Juni 2026, BWS membukukan DPK sebesar Rp 29,46 triliun, sehingga batas maksimal KLM 6% secara ilustratif setara sekitar Rp 1,77 triliun.
Sementara itu, kenaikan batas maksimal insentif sebesar 0,5 poin persentase dari skema sebelumnya secara ilustratif setara sekitar Rp 147,3 miliar berdasarkan posisi DPK BWS per Juni 2026.
Baca Juga: Bank Woori Saudara (SDRA) Gandeng Grab Perkuat Layanan Digital, Cek Prospek Sahamnya
Namun, perhitungan tersebut belum mencerminkan nilai insentif yang pasti diterima BWS. Realisasi insentif tetap bergantung pada pemenuhan kriteria BI, termasuk penyaluran kredit ke sektor prioritas dan komposisi surat berharga.
Dari sisi penyaluran kredit, BWS mencatat total kredit sebesar Rp 40,34 triliun per Juni 2026. Portofolio tersebut terutama ditopang kredit modal kerja sebesar Rp 20,90 triliun.
Kemudian, kredit konsumsi BWS mencapai sekitar Rp 17,06 triliun, sedangkan kredit investasi tercatat R p2,39 triliun pada periode yang sama. Komposisi tersebut menjadi basis bagi BWS untuk mengoptimalkan penyaluran kredit.
Dari sisi likuiditas, BWS memiliki Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 235,83%. Sementara itu, Net Stable Funding Ratio (NSFR) berada di level 108,82% pada Juni 2026.
BWS juga memiliki rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 32,02%. Posisi tersebut memberikan ruang bagi BWS untuk mengembangkan bisnis dengan tetap memperhatikan kecukupan likuiditas dan modal.
Baca Juga: Masuk Era Suku Bunga Tinggi, Intip Prospek Saham Bank Woori Saudara (SDRA)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














