Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 mencatatkan kinerja keuangan yang lebih baik dari perkiraan pasar pada semester I-2026. Pertumbuhan laba bersih dan pendapatan di sejumlah emiten menjadi sinyal positif bagi prospek pasar saham hingga akhir tahun. Lalu, saham blue chip di indeks LQ45 apa saja yang memiliki prospek investasi cerah hingga akhir tahun 2026 ini?
Berdasarkan laporan keuangan yang telah dipublikasikan, sebanyak 29 emiten konstituen LQ45 telah menyampaikan kinerja semester pertama 2026. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih secara tahunan (year on year/YoY).
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi emiten dengan pertumbuhan laba bersih tertinggi setelah mencatat lonjakan 919,58% YoY menjadi US$ 19,78 juta.
Di posisi berikutnya, PT Indika Energy Tbk (INDY) membukukan kenaikan laba bersih sebesar 354% YoY, disusul PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang mencatat pertumbuhan laba 313,4% YoY.
Meski demikian, tidak semua emiten berhasil mencetak pertumbuhan. Terdapat enam anggota LQ45 yang masih membukukan penurunan laba bersih pada semester I-2026, yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).
Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (3 Agustus 2026), NCKL dan INDY Disorot
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai secara keseluruhan kinerja emiten LQ45 pada semester pertama tahun ini tergolong solid dan mayoritas berada di atas ekspektasi pasar.
Menurut dia, pemulihan konsumsi domestik dan meningkatnya daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan laba emiten.
Hal itu terlihat dari kinerja emiten sektor konsumer dan poultry. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) membukukan kenaikan laba bersih 95,1% YoY menjadi Rp 3,7 triliun. Sementara PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatat pertumbuhan laba 37,7% YoY menjadi Rp 2,97 triliun, sedangkan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) membukukan kenaikan laba 26,49% YoY menjadi Rp 1,21 triliun.
Selain sektor konsumer, perbaikan efisiensi operasional juga mendorong kinerja emiten teknologi dan telekomunikasi.
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berhasil membalikkan kinerja dengan mencatat laba bersih Rp 607,48 miliar pada semester I-2026. Sementara PT Indosat Tbk (ISAT) membukukan lonjakan laba bersih sebesar 84,5% YoY menjadi Rp 4,3 triliun.
Di sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tetap menunjukkan kinerja yang kuat dengan pertumbuhan laba bersih 24,4% YoY menjadi Rp 30,4 triliun. Sementara sektor pertambangan logam juga mencatatkan perbaikan melalui peningkatan kinerja INCO, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).
"Tekanan hanya terlihat pada beberapa emiten yang terdampak siklus penurunan alat berat dan dinamika sektor komoditas batu bara, seperti UNTR dan ASII. Namun, secara agregat, pilar utama LQ45 menunjukkan performa yang sangat sehat," ujar Elandry kepada Kontan, Senin (3/8).
Tonton: Hyundai IONIQ 9 Resmi Meluncur di Indonesia
Saham Blue Chip LQ45 yang Dinilai Menarik
Memasuki semester II-2026, Elandry melihat sejumlah saham LQ45 masih memiliki prospek yang menarik.
BMRI tetap menjadi pilihan utama berkat pertumbuhan laba yang konsisten, didukung ekspansi kredit korporasi dan transformasi digital yang meningkatkan efisiensi operasional.
ISAT juga dipandang masih memiliki ruang pertumbuhan setelah membukukan kenaikan pendapatan 13,1% YoY dan lonjakan laba bersih 84,5% YoY yang ditopang peningkatan average revenue per user (ARPU) serta sinergi pascamerger.
Di sektor konsumer, CPIN dinilai mampu memanfaatkan membaiknya margin pakan ternak dan stabilnya harga ayam hidup sehingga laba bersihnya hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, INCO dinilai menarik setelah berhasil meningkatkan efisiensi biaya dan volume produksi nikel yang mendorong lonjakan laba lebih dari tiga kali lipat.
Di sektor teknologi, GOTO juga dinilai mulai menunjukkan fundamental yang membaik setelah berhasil mencetak laba bersih pada semester pertama tahun ini.
Menurut Elandry, keberhasilan tersebut memperkuat optimisme pasar terhadap strategi monetisasi dan efisiensi biaya yang dijalankan perseroan.
"Prospek saham-saham konstituen Indeks LQ45 hingga akhir tahun 2026 diproyeksikan sangat cerah dan berpotensi besar mengungguli kinerja IHSG secara keseluruhan," katanya.
Ia menambahkan, potensi masuknya kembali dana asing (foreign inflow) diperkirakan akan mengalir ke saham-saham blue chip yang memiliki likuiditas tinggi dan fundamental kuat.
Selain itu, peluang penurunan suku bunga acuan pada paruh kedua 2026 diperkirakan menjadi katalis positif bagi sektor perbankan, konsumer, ritel, properti, hingga infrastruktur yang mendominasi indeks LQ45.
Tonton: Anggaran Makan Bergizi Gratis Tetap Berjalan, Skema Baru Berlaku 2028
Saham Pilihan Analis untuk Semester II-2026
- BMRI: didukung pertumbuhan kredit dan efisiensi digital.
- ISAT: prospek ditopang kenaikan ARPU dan sinergi pascamerger.
- CPIN: memperoleh manfaat dari pemulihan margin pakan dan harga ayam.
- INCO: terdorong efisiensi biaya serta peningkatan produksi nikel.
- GOTO: mulai menunjukkan profitabilitas melalui strategi monetisasi dan efisiensi biaya.
Ramai Dikeluhkan Seller, DJP Siap Evaluasi Pajak 0,5% di Marketplace
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
