kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.835   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.375   97,87   1,56%
  • KOMPAS100 833   11,37   1,38%
  • LQ45 633   7,57   1,21%
  • ISSI 221   4,34   2,00%
  • IDX30 351   3,57   1,03%
  • IDXHIDIV20 434   1,47   0,34%
  • IDX80 95   1,26   1,34%
  • IDXV30 119   0,20   0,17%
  • IDXQ30 112   0,55   0,49%

Enam Emiten Ini Jadwalkan Pembagian Dividen pada September-Oktober 2026


Kamis, 24 September 2026 / 05:30 WIB
Enam Emiten Ini Jadwalkan Pembagian Dividen pada September-Oktober 2026
ILUSTRASI. Pembagian dividen sejumlah emiten pada akhir September hingga Oktober 2026 menjadi perhatian investor pasar saham (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembagian dividen sejumlah emiten pada akhir September hingga Oktober 2026 menjadi perhatian investor pasar saham. Namun, mengejar dividen tidak semata-mata soal besarnya dividend yield, sebab harga saham berpotensi terkoreksi setelah memasuki periode ex-dividend.

Beberapa emiten yang akan membagikan dividen antara lain PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI), PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA), PT Victoria Investama Tbk (VICO), PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII), PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR), dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan investor perlu memahami bahwa dividend yield bukan berarti return yang pasti diterima. Secara teoritis, harga saham akan menyesuaikan turun sebesar nilai dividen pada ex-date.

Namun, penurunan harga aktual bisa berbeda karena dipengaruhi sentimen pasar, likuiditas, kondisi IHSG, serta ekspektasi investor terhadap prospek emiten.

"Risiko dividend trap muncul ketika investor membeli saham hanya karena yield terlihat tinggi, tetapi setelah ex-date harga mengalami koreksi lebih dalam daripada nilai dividen sehingga capital loss menggerus bahkan melebihi pendapatan dividen," ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (23/9/2026).

Menurut dia, investor perlu mencermati sejumlah indikator sebelum membeli saham untuk mengejar dividen. Di antaranya payout ratio, arus kas, laba yang mendasari pembagian dividen, rekam jejak pembagian dividen, serta apakah dividen tersebut bersifat rutin atau hanya interim maupun khusus.

Baca Juga: Begini Arah Pasar Saham Usai Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga 5,75%

Investor juga disarankan tidak sekadar membeli saham pada hari terakhir cum date. Nafan menyarankan investor melakukan akumulasi secara bertahap apabila valuasi dan fundamental emiten memang mendukung.

Investor juga perlu menghitung total return yang merupakan dividen diterima dikurangi potensi capital loss setelah ex-date. Dengan demikian, saham dengan dividend yield tinggi belum tentu memberikan total return yang tinggi.

Untuk investor jangka pendek, disiplin terhadap level support dan batas risiko menjadi penting. Sementara investor jangka menengah hingga panjang dapat lebih berfokus pada kemampuan emiten menghasilkan laba dan arus kas secara berkelanjutan setelah distribusi dividen.

"Dalam konteks ini, pembagian dividen sebaiknya dipandang sebagai bagian dari total return, bukan sebagai alasan tunggal untuk membeli saham," kata Nafan.

Prospek BSSR dan KKGI

Dari sisi fundamental, Nafan melihat BSSR masih ditopang kinerja yang cukup solid. Pada semester I 2026, pendapatan BSSR tumbuh 17,2% menjadi sekitar Rp6,21 triliun dan laba bersih naik 34,4% menjadi Rp1,08 triliun. Neraca BSSR juga relatif kuat dengan tidak adanya utang berbunga material dalam laporan tersebut.

Dengan kondisi tersebut, prospek BSSR setelah pembagian dividen masih berkaitan dengan harga dan volume produksi batubara serta kemampuan perseroan menjaga margin. Namun, investor tetap perlu mengantisipasi volatilitas harga komoditas karena bisnis BSSR bersifat siklikal.

KKGI juga dinilai memiliki daya tarik dari sisi arus kas dan posisi neraca yang relatif konservatif. Pada semester I 2026, pendapatan KKGI naik 4,6% menjadi Rp1,21 triliun dan laba bersih meningkat 122,2% menjadi Rp37,1 miliar.

Meski demikian, profitabilitas KKGI masih lebih kecil dibandingkan BSSR. Karena itu, keberlanjutan dividend yield tinggi akan sangat bergantung pada kinerja operasional dan kondisi harga batubara.

"KKGI lebih tepat dilihat sebagai kombinasi antara dividend play dan exposure terhadap siklus komoditas," ujar Nafan.

Prospek HEXA dan VICO

Sementara itu, HEXA memiliki karakter bisnis yang lebih terkait dengan alat berat dan aktivitas pertambangan sehingga prospeknya tetap sensitif terhadap siklus belanja modal pertambangan. Dividen sebesar US$0,013319 per saham memberikan yield sekitar 5,9% berdasarkan harga sekitar Rp4.040 per saham.

Namun, investor perlu mencermati payout ratio HEXA yang relatif tinggi. Sustainability dividen perlu dibandingkan dengan kemampuan perseroan menghasilkan free cash flow dan laba ke depan.

VICO memiliki valuasi price to book value (PBV) yang relatif rendah, tetapi struktur neracanya perlu dicermati karena leverage cukup tinggi. Pada semester I 2026, laba bersih VICO sekitar Rp100,4 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan capaian semester I 2025 yang sekitar Rp425,9 miliar.

Dengan demikian, meski dividend yield VICO sekitar 4,6%, investor perlu melihat apakah penurunan laba tersebut bersifat sementara atau mencerminkan normalisasi kinerja yang lebih struktural.

Baca Juga: Kinerja Positif, Tapi Pergerakan Saham ADMR Masih Terbatas

Prospek IFII dan CDIA

Untuk IFII, dividend yield sekitar 2,3%. Fundamental perseroan relatif lebih defensif dari sisi struktur utang, tetapi kinerja semester I 2026 mengalami pelemahan. Pendapatan turun 12% menjadi Rp612 miliar dan laba bersih turun 28,3% menjadi Rp78,1 miliar.

"Daya tarik IFII lebih bergantung pada potensi pemulihan permintaan dan margin bisnis fibreboard daripada semata-mata dividen interim Rp5 per saham," kata Nafan.

Sementara itu, CDIA memiliki dividend yield paling rendah di antara keenam saham tersebut, yakni sekitar 0,2%. Karena itu, Nafan menilai CDIA kurang tepat jika dibeli hanya untuk mengejar dividen.

Dividen interim Rp1,42 per saham lebih mencerminkan distribusi kas kepada pemegang saham dibandingkan menjadi dividend play dengan yield tinggi. Apalagi, valuasi CDIA masih relatif tinggi dan perusahaan membutuhkan belanja modal besar untuk ekspansi infrastruktur.

Menurut Nafan, katalis CDIA setelah pembagian dividen lebih berkaitan dengan pertumbuhan bisnis, ekspansi aset, dan kemampuan menghasilkan arus kas dari proyek-proyek infrastrukturnya.

"CDIA rekomendasinya adalah wait and see," ujar Nafan.

BSSR, KKGI dan HEXA Jadi Perhatian

Sementara itu, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, mengatakan BSSR menawarkan dividend yield sekitar 7,4%, disusul KKGI sekitar 6,1% dan HEXA sekitar 5,8%.

Meski demikian, yield tinggi tetap perlu dilihat bersama potensi koreksi harga saat ex-date. Menurut Sukarno, BSSR juga perlu dicermati karena harga sahamnya telah naik cukup signifikan menjelang cum date sehingga risiko dividend trap perlu diperhatikan.

Investor, kata Sukarno, sebaiknya tidak hanya mengejar dividen, tetapi menghitung total return dari kombinasi dividen dan potensi perubahan harga saham.

"Dividend capture dapat dilakukan dengan membeli sebelum cum date dan menjual setelah ex-date, tetapi risikonya adalah koreksi harga melebihi nilai dividen," jelas Sukarno.

Alternatif yang lebih konservatif, lanjut dia, adalah menunggu tekanan harga setelah ex-date dan masuk kembali apabila fundamental emiten masih mendukung.

Sukarno menilai BSSR dan KKGI relatif menarik untuk dicermati karena didukung bisnis batubara dan kemampuan menghasilkan kas, meski keduanya tetap sensitif terhadap harga komoditas. KKGI juga memiliki tambahan daya tarik dari posisi kas yang kuat dan leverage rendah.

HEXA menawarkan yield tinggi, tetapi investor perlu mencermati tren laba yang masih tertekan. VICO memiliki yield sekitar 4,6%, namun kinerja labanya lebih fluktuatif.

Sementara itu, IFII memiliki yield lebih rendah sekitar 2,3% dengan fokus pada potensi pemulihan earnings. Adapun CDIA kurang menarik sebagai dividend play karena yield hanya sekitar 0,2% dan valuasinya relatif tinggi.

Baca Juga: Rupiah Mulai Konsolidasi Usai Melemah 9 Hari, Ini Proyeksi hingga Akhir 2026

Untuk strategi berbasis dividen, Sukarno menyebut BSSR, KKGI, dan HEXA menjadi tiga emiten yang layak dicermati, dengan karakter yang berbeda. BSSR memiliki dividend yield tinggi, KKGI menawarkan kombinasi yield dan neraca yang relatif sehat, sedangkan HEXA lebih bergantung pada pemulihan siklus bisnis alat berat.

Investor tetap perlu mempertimbangkan harga masuk dan potensi koreksi setelah ex-date, bukan hanya besaran dividen.

Jadwal Cum Dividen KKGI, HEXA, VICO, IFII, BSSR dan CDIA

Adapun KKGI membagikan dividen Rp20 per saham dengan cum dividen pasar reguler pada 23 September 2026 dan pembayaran pada 15 Oktober 2026.

HEXA membagikan dividen US$0,013319 per saham dengan cum dividen pada 25 September 2026 dan pembayaran pada 21 Oktober 2026.

VICO dan IFII sama-sama memiliki cum dividen pasar reguler pada 28 September 2026. VICO membagikan Rp8 per saham dengan pembayaran 22 Oktober 2026, sedangkan IFII membagikan dividen interim Rp5 per saham dengan pembayaran 15 Oktober 2026.

Selanjutnya, BSSR membagikan dividen interim Rp406,16 per saham dengan cum dividen pada 29 September 2026 dan pembayaran 9 Oktober 2026.

CDIA membagikan dividen interim Rp1,42 per saham dengan total US$10 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×