kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.028.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.814   -85,00   -0,50%
  • IDX 8.396   124,32   1,50%
  • KOMPAS100 1.183   18,77   1,61%
  • LQ45 848   12,48   1,49%
  • ISSI 300   4,67   1,58%
  • IDX30 445   8,19   1,88%
  • IDXHIDIV20 530   8,41   1,61%
  • IDX80 132   1,86   1,43%
  • IDXV30 145   1,60   1,12%
  • IDXQ30 143   2,42   1,73%

Kuartal I, harga minyak tergerus 4,1%


Selasa, 05 April 2016 / 20:13 WIB
Kuartal I, harga minyak tergerus 4,1%


Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Pergerakan harga minyak masih cenderung flat di tengah kondisi pasokan yang berlebih. Upaya pembekuan produksi yang dilakukan produsen besar tidak berdampak signifikan pada kenaikan harga.

Mengutip Bloomberg, Selasa (5/4) pukul 16.32 WIB, harga minyak WTI kontrak pengiriman Mei 2016 di New York Merchantile Exchange turun 0,3% dibandingkan hari sebelumnya ke level US$ 35,59 per barel. Sepanjang kuartal pertama tahun 2016, minyak pun sudah tumbang 4,1%.

Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra mengatakan, masalah utama pada pergerakan harga minyak adalah faktor suplai berlebih. Pasalnya, produsen minyak baik yang tergabung dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) maupun non OPEC terus menggenjot produksi di tengah lemahnya permintaan. Pergerakan harga minyak terus berfluktuasi merespons pernyataan dari OPEC maupun data cadangan minyak Amerika Serikat (AS) setiap minggunya.

Di tengah kondisi oversupply, produsen anggota OPEC yaitu Iran justru berencana meningkatkan ekspor minyak ketika sanksi internasional dicabut. Iran menargetkan rata-rata produksi minyak mencapai 1 juta barel per hari. Kembali masuknya minyak Iran ke pasar global menekan harga hingga level terendah di US$ 30,76 per barel pada 11 Februari lalu. Pada kontrak pengiriman Maret 2016, harga minyak WTI bahkan sampai ke level US$ 26,21 per barel kala itu.

Setelah melihat kejatuhan harga minyak yang bahkan sempat ke bawah US$ 30 per barel, para produsen besar mulai mengambil langkah yakni dengan pembatasan atau pembekuan produksi. Kesepakatan tersebut pada awalnya dilakukan oleh Arab Saudi dan Rusia. Harga minyak akhirnya kembali stabil dan terus menanjak ke level US$ 41,66 per barel pada 17 Maret 2016. Pengumuman The Fed yang menahan suku bunga juga turut menyokong pada harga minyak, karena membuat mata uang USD tertekan.

Sayang, harga minyak tak mampu mempertahankan lajunya. "Penguatan harga minyak tidak bertahan karena belakangan timbul kekhawatiran jika pembatasan produksi akan gagal," ujar Putu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×