Reporter: Dimas Andi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi korporasi berupa penambahan modal melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue kembali marak dilakukan oleh sejumlah emiten akhir-akhir ini.
Akhir pekan lalu misalnya, PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) berencana menggelar rights issue dengan menerbitkan maksimal 1 miliar saham baru. Tujuan rights issue ini untuk membayar utang kepada pihak terafiliasi, yaitu PT Sarana Steel. BAJA memiliki utang kepada Sarana Steel sebesar US$ 20,60 juta.
Selain itu, ada PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang akan menerbitkan 24 miliar saham baru dengan nilai Rp 50 per saham lewat rights issue. Dana hasil rights issue tersebut akan digunakan untuk akuisisi sejumlah aset properti sedangkan sisanya untuk modal kerja perusahaan dan penyertaan modal kepada entitas anak.
Baca Juga: PGN (PGAS) Kian Solid di 2026, Analis Jagokan Midstream–Downstream dan Peran LNG
Emiten lainnya, yaitu PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) juga hendak rights issue dengan menerbitkan sebanyak 8,28 miliar saham baru Seri B dengan harga pelaksanaan Rp 50 per saham. Rights issue ini ditujukan untuk mendukung rencana akuisisi sebagian besar saham PT Jungleland Asia.
Masih di bulan Februari, PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) juga mengumumkan rencana rights issue dengan jumlah 600 juta saham baru senilai Rp 100 per saham. Dana rights issue ini akan digunakan untuk melunasi obligasi milik ATIC yang akan jatuh tempo 11 Juli 2026 sekitar Rp 560 miliar.
Ada pula PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) yang bakal menggelar rights issue sebanyak 2,03 miliar saham baru dengan nominal Rp 100 per saham. Rights issue ini bertujuan untuk mendukung likuiditas umum, belanja modal, serta modal kerja perusahaan.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan, ramainya pelaksanaan rights issue oleh beberapa emiten disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah kombinasi kebutuhan deleveraging dan kebutuhan ekspansi, hingga tekanan likuiditas di tengah cost of fund yang masih relatif tinggi.
Bagi emiten yang memiliki tren peningkatan penggunaan utang atau arus kas terbatas, maka rights issue menjadi opsi pendanaan yang lebih aman dibandingkan menambah utang baru. Sebab, rights issue dapat memperkuat struktur permodalan, menurunkan debt to equity ratio (DER), dan memperbaiki likuiditas tanpa menambah beban bunga.
Namun, aksi korporasi ini tetap memiliki beberapa konsekuensi seperti risiko dilusi kepemilikan dan laba per saham, potensi tekanan harga saham jika valuasi belum menarik, serta ketergantungan pada partisipasi pemegang saham lama.
"Secara fundamental, rights issue akan dinilai positif pasar apabila dana digunakan untuk ekspansi produktif atau akuisisi yang bersifat menguntungkan bukan sekadar menutup kewajiban jangka pendek," ungkap dia, Senin (23/2/2026).
Baca Juga: Laba Astra Agro Lestari (AALI) Tahun 2025 Naik 28%, Ini Pendorongnya
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand sepakat, pelaksanaan rights issue akan menambah ekuitas sekaligus mengikis rasio utang sehingga struktur modal emiten menjadi lebih sehat. Bagi investor, rights issue akan berdampak positif jika dana yang digunakan menyasar ke segmen yang produktif dan meningkatkan laba.
"Namun dalam jangka pendek rights issue sering muncul volatilitas harga karena faktor dilusi dan sentimen pasar," kata dia, Senin (23/2/2026).
Sedangkan dalam jangka menengah dan panjang, dampak rights issue akan sangat bergantung pada kualitas penggunaan dana. Jika ekspansi yang dibiayai lewat rights issue mampu mendongkrak pertumbuhan laba lebih besar dibandingkan dampak dilusi, maka aksi korporasi ini dapat meningkatkan nilai emiten dan memberi keuntungan bagi pemegang saham.
Abida menyebut, rights issue berpotensi tetap ramai terjadi di pasar, terutama bagi emiten yang memiliki kebutuhan pendanaan besar atau ingin melakukan restrukturisasi utang. Sentimen seperti suku bunga acuan tinggi atau keterbatasan akses kredit juga dapat mendorong emiten untuk memilih rights issue sebagai sumber dana alternatif.
Hari menambahkan, peluang pelaksanaan rights issue oleh emiten-emiten lain cukup terbuka pada masa mendatang. Rights issue kemungkinan diminati oleh emiten dengan leverage tinggi, kebutuhan belanja modal besar seperti sektor infrastruktur, tambang, properti, dan energi, serta emiten yang sedang melakukan restrukturisasi utang.
Momentum pelaksanaan rights issue nantinya dapat dipicu oleh peluang pertumbuhan sektor, kebutuhan pendanaan proyek strategis, hingga penyesuaian regulasi permodalan. "Pada dasarnya, rights issue bukan sinyal negatif secara otomatis, karena penilaian pasar sangat bergantung pada tujuan penggunaan dana dan potensi imbal hasilnya," tukas dia.
Baca Juga: Rupiah Menguat di Awal Pekan, Sentimen Tarif Global Jadi Sorotan
Baik Hari dan Abida tidak memiliki rekomendasi saham dari emiten-emiten yang belakangan ini merencanakan rights issue. Terlepas dari itu, investor disarankan tetap menggunakan pendekatan yang selektif dan berbasis fundamental.
"Investor sebaiknya mencermati tujuan penggunaan dana dan potensi perbaikan kinerja setelah aksi korporasi," tandas Abida.
Selanjutnya: Simak Rekomendasi Saham Telekomunikasi yang Ditopang Fundamental Domestik
Menarik Dibaca: Harga Emas Dunia Lanjut Naik di atas US$ 5.100, Terpicu Tarif AS
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)