Reporter: Dimas Andi | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Sejumlah emiten badan usaha milik negara (BUMN) seperti ANTM, PTBA, TINS, PGAS hingga KAEF resmi menyandang status Persero. Simak dampaknya bagi prospek saham dan rekomendasi analis 2026.
Sejumlah emiten pelat merah resmi menyandang status Perusahaan Perseroan (Persero) sejak awal 2026. Langkah ini menegaskan orientasi bisnis BUMN agar lebih fokus pada profitabilitas dan tata kelola layaknya korporasi publik.
Emiten yang telah berstatus Persero antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF). Sebelumnya, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) serta PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) juga memperoleh status serupa pada Januari 2026.
Perubahan ini merupakan tindak lanjut agenda RUPSLB Desember 2025, yang mengubah Anggaran Dasar perusahaan guna menyesuaikan revisi Undang-Undang BUMN.
Baca Juga: Melihat Prospek Emiten IDX High Dividend20 yang Naik di Tengah Koreksi IHSG
Penegasan Orientasi Bisnis dan Tata Kelola
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai perubahan menjadi Persero lebih bersifat administratif dan legal formal, bukan perubahan model bisnis.
"Status Persero justru menegaskan orientasi bisnis dan profitabilitas dengan standar tata kelola yang tetap mengacu pada regulasi pasar modal," ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menambahkan bahwa status Persero mempertegas pemisahan fungsi kepemilikan dan pengawasan sesuai revisi UU BUMN. Dalam skema baru, pengelolaan kepemilikan negara dikonsolidasikan melalui holding operasional seperti Danantara atau BP BUMN.
BUMN diposisikan sebagai entitas bisnis profesional, transparan, dan berorientasi laba, tanpa mengubah kewajiban keterbukaan informasi maupun prinsip good corporate governance (GCG).
Tonton: Perjanjian Dagang AS Berpotensi Berubah, RI Minta Tarif Produk Unggulan Tetap 0 Persen
Dampak terhadap Prospek Saham 2026
Secara fundamental, prospek kinerja tetap ditentukan sektor masing-masing.
ANTM, PTBA, dan TINS yang berada dalam Holding Pertambangan MIND ID akan sangat bergantung pada dinamika harga emas, nikel, batubara, dan timah global.
PGAS bergantung pada permintaan dan harga gas bumi domestik, sementara KAEF dan SMBR dipengaruhi pemulihan sektor kesehatan dan konstruksi.
Sentimen positif datang dari stabilisasi harga komoditas dan proyek hilirisasi nasional. Namun risiko tetap ada dari volatilitas harga global dan perlambatan ekonomi.
Strategi Investor: Selektif dan Fokus Fundamental
Abida menekankan investor tidak perlu menganggap perubahan status Persero sebagai katalis jangka pendek semata.
Investor disarankan tetap fokus pada:
- Kinerja laba dan arus kas
- Disiplin efisiensi
- Tren harga komoditas
- Valuasi saham terhadap nilai wajarnya
Tonton: Ekonom Nilai Kesepakatan Dagang RI–AS Timpang, Industri dan Kedaulatan Terancam
Rekomendasi dan Target Harga
Rekomendasi Abida (12 bulan):
- ANTM: Rp 4.800
- PTBA: Rp 3.100
- TINS: Rp 4.800
Rekomendasi Hendra:
- ANTM: Speculative Buy, Rp 4.500
- TINS: Speculative Buy, Rp 4.000
- KAEF: Speculative Buy, Rp 560
- PGAS: Speculative Buy, Rp 2.300
- SMBR: Speculative Buy, Rp 300
- PTBA: Trading Buy, Rp 2.800
Dalam jangka pendek, perubahan status menjadi Persero lebih merupakan katalis tata kelola. Sementara dalam jangka panjang, disiplin manajemen dan kondisi industri tetap menjadi penentu utama pergerakan saham BUMN tersebut.
Selanjutnya: Matikan Industri Lokal, Kadin Desak Prabowo Batalkan Impor Kendaraan dari India
Menarik Dibaca: Panduan Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 di Purbalingga 2026, Catat ya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)