kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.637.000   -3.000   -0,11%
  • USD/IDR 17.657   -7,00   -0,04%
  • IDX 6.620   -16,80   -0,25%
  • KOMPAS100 866   -0,88   -0,10%
  • LQ45 656   -1,17   -0,18%
  • ISSI 231   0,64   0,28%
  • IDX30 367   -0,76   -0,21%
  • IDXHIDIV20 454   -0,16   -0,04%
  • IDX80 99   -0,07   -0,07%
  • IDXV30 126   0,61   0,49%
  • IDXQ30 118   -0,24   -0,21%

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Tembus Level Tertinggi 6 Pekan


Selasa, 08 September 2026 / 05:29 WIB
Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Tembus Level Tertinggi 6 Pekan
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria). Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi enam pekan seiring konflik Timur Tengah memanas dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz menurun.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam enam pekan pada perdagangan Senin (7/9/2026), terdorong eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Iran mengancam akan menyerang infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah jika Amerika Serikat (AS) kembali menyerang asetnya.

Ancaman tersebut muncul setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan terhadap kapal tanker minyak dan kapal perang sepanjang akhir pekan.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik US$ 1,03 atau 1,1% menjadi US$ 97,31 per barel. Brent sempat menyentuh US$ 98,06 per barel, level tertinggi sejak 24 Juli 2026.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,3% atau US$ 1,17 menjadi US$ 92,65 per barel. WTI sempat mencapai US$ 93,29 per barel, yang juga merupakan level tertinggi sejak 24 Juli.

Baca Juga: Harga Emas Tertekan, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Kenaikan harga minyak semakin kuat setelah lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai menunjukkan penurunan.

Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz setiap hari dalam 10 hari terakhir. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak Mei.

Penurunan lalu lintas kapal ini menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global. Jika gangguan pelayaran semakin parah, pasar berpotensi memperhitungkan risiko pasokan minyak yang jauh lebih besar.

"Jika lalu lintas kapal tanker mulai melambat secara material, pasar dapat memperhitungkan guncangan pasokan yang jauh lebih besar. Sudah ada tanda-tanda bahwa hal tersebut mulai terjadi," kata Priyanka Sachdeva, Head of Market Insights Phillip Nova.

Risiko tersebut juga membuat Goldman Sachs memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga US$ 120 per barel apabila serangan terhadap kapal-kapal pengangkut minyak meningkat.

Ketegangan kawasan semakin memanas setelah Israel melancarkan serangan di wilayah Lebanon selatan yang menewaskan sedikitnya 12 orang pada Senin, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

Di Arab Saudi, kilang minyak Saudi Aramco di Jazan juga dilaporkan menjadi sasaran serangan. Financial Times melaporkan, tingkat kerusakan pada fasilitas tersebut masih dalam proses penilaian.

Baca Juga: Harga Saham Ini Naik 23% Sebulan, Analis Rekomendasi Beli, Proyeksi Kinerja Meningkat

Sepekan sebelumnya, kapal tanker milik Arab Saudi juga diserang Iran. Arab Saudi menyatakan dua awak kapal tewas dalam insiden tersebut. Oman kemudian mengatakan telah mengevakuasi 16 awak dari kapal tanker tersebut.

Iran bahkan berencana mengumumkan zona terbatas di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) mulai membangun jalur alternatif untuk ekspor energi dan perdagangan guna mengurangi risiko terganggunya aktivitas akibat perang AS-Iran.

Pasokan Minyak Makin Tertekan

Lonjakan harga minyak tersebut memperpanjang reli pada pekan sebelumnya. Harga Brent naik sekitar 8% sepanjang pekan lalu, sedangkan WTI menguat hampir 10% setelah AS dan Iran kembali saling menyerang.

Konflik tersebut telah memberikan tekanan besar terhadap pasokan minyak global. Sejumlah negara bahkan mulai menggunakan cadangan minyak untuk menghindari terjadinya defisit pasokan.

Di AS, persediaan bensin dan bahan bakar distilat tercatat jauh di bawah level tahun lalu maupun rata-rata musiman lima tahun terakhir.

Analis PVM Energy menilai kondisi persediaan minyak dan produk turunannya saat ini menunjukkan tekanan pasokan yang lebih serius dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.

Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Siapkan Listrik Panas Bumi untuk Green Data Center

Di tengah meningkatnya risiko pasokan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) pada Minggu (6/9) memutuskan mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober.

Kelompok produsen minyak tersebut masih perlu menyepakati kuota baru sebelum menentukan langkah produksi berikutnya.

Keputusan ini membuat perhatian pasar tetap tertuju pada perkembangan konflik Timur Tengah dan potensi gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×