kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.637.000   -3.000   -0,11%
  • USD/IDR 17.657   -7,00   -0,04%
  • IDX 6.620   -16,80   -0,25%
  • KOMPAS100 866   -0,88   -0,10%
  • LQ45 656   -1,17   -0,18%
  • ISSI 231   0,64   0,28%
  • IDX30 367   -0,76   -0,21%
  • IDXHIDIV20 454   -0,16   -0,04%
  • IDX80 99   -0,07   -0,07%
  • IDXV30 126   0,61   0,49%
  • IDXQ30 118   -0,24   -0,21%

Prospek Surge (WIFI) Makin Cerah, Ini Rekomendasi Analis


Senin, 07 September 2026 / 18:10 WIB
Prospek Surge (WIFI) Makin Cerah, Ini Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), Internet Rakyat (KONTAN/Rashif Usman)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) (Surge) dinilai masih positif hingga 2027, seiring ekspansi jaringan fixed broadband dan pertumbuhan pelanggan. Namun, laju pertumbuhan kinerja WIFI diperkirakan mulai lebih normal setelah mencatat pertumbuhan triple digit pada tahun ini.

Sebagai gambaran, WIFI membukukan pendapatan Rp1,57 triliun pada Semester I-2026, melonjak 206% secara tahunan. Laba bersih konsolidasian mencapai Rp496,8 miliar atau tumbuh 118% secara tahunan. Pada periode yang sama, jumlah pelanggan fixed broadband WIFI mencapai 2,3 juta, naik 518% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menilai pertumbuhan WIFI masih cukup berkelanjutan karena perseroan mulai memasuki fase monetisasi aset setelah sebelumnya berfokus pada pembangunan infrastruktur.

"Pertumbuhan WIFI saat ini sudah mulai bergeser dari fase pembangunan infrastruktur menuju fase monetisasi aset, sehingga sumber pendapatannya semakin banyak berasal dari recurring revenue layanan telekomunikasi," ujar Ekky kepada Kontan, Senin (7/9/2026).

Baca Juga: Surge (WIFI) Bidik 9.800 Site FWA pada 2027, Incar Monetisasi Ekspansi Jaringan

Menurut Ekky, pertumbuhan hingga 2027 tetap positif, tetapi pertumbuhan sekitar 200% YoY tidak seharusnya diasumsikan berulang. Tingginya pertumbuhan pada 2026 juga dipengaruhi oleh basis rendah serta masuknya layanan Fixed Wireless Access (FWA) ke fase komersialisasi.

Memasuki 2027, pertumbuhan diperkirakan lebih normal. Namun, kualitas pendapatan berpotensi membaik apabila jumlah pelanggan terus meningkat, utilisasi jaringan naik dan average revenue per user (ARPU) dapat dipertahankan atau ditingkatkan.

Sementara itu, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo memperkirakan kinerja WIFI pada 2026 masih akan tumbuh kuat. Ia memproyeksikan pendapatan FY2026 mencapai Rp3,76 triliun atau tumbuh 127% YoY.

Laba bersih WIFI diperkirakan mencapai Rp800 miliar pada 2026, atau meningkat 96% dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, Azis memperkirakan pertumbuhan triple digit berpotensi melambat seiring semakin besarnya basis kinerja perusahaan.

"Prospek 2026-2027 masih positif, didukung ekspansi jaringan dan pertumbuhan pelanggan. Namun, pertumbuhan triple-digit berpotensi melambat seiring meningkatnya base effect," kata Azis.

Ekspansi Fiber-to-the-Home (FTTH) dan FWA diperkirakan tetap menjadi mesin utama pertumbuhan WIFI setidaknya hingga 2027.

Ekky menilai kedua bisnis tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. FTTH memberikan basis pelanggan yang relatif sticky dan pendapatan berulang yang lebih terprediksi. Sementara FWA memungkinkan WIFI mempercepat akuisisi pelanggan karena tidak membutuhkan pembangunan jaringan last-mile fiber ke setiap rumah.

Baca Juga: Surge (WIFI) Kejar 3 Juta Pelanggan, Siapkan Capex Rp 7 Triliun Tahun Ini

Menurut dia, keunggulan FWA menjadi penting bagi WIFI untuk memperluas penetrasi ke wilayah yang belum ekonomis untuk pembangunan FTTH.

Layanan Internet Rakyat atau IRA yang berbasis FWA 5G 1,4 GHz sendiri ditawarkan dengan tarif sekitar Rp100.000 per bulan dan kecepatan hingga 100 Mbps. Hingga Semester I-2026, pelanggan WIFI terdiri dari sekitar 1,85 juta pelanggan FTTH dan 513.000 pelanggan FWA.

WIFI menargetkan jumlah pelanggan fixed broadband menembus lebih dari 3 juta hingga akhir 2026. Target tersebut akan ditopang oleh ekspansi FTTH dan FWA.

Azis mengatakan peningkatan pelanggan dan utilisasi jaringan berpotensi menciptakan operating leverage bagi WIFI. Namun, biaya ekspansi tetap dapat memberikan tekanan terhadap margin dalam jangka pendek.

Selain ekspansi konektivitas, WIFI mulai mengintegrasikan Agentic AI dalam operasional perusahaan. Teknologi tersebut berpotensi menjadi sumber pertumbuhan tambahan sekaligus meningkatkan efisiensi.

Ekky menilai Agentic AI memiliki prospek sebagai additional growth engine. Namun, kontribusinya terhadap pendapatan dan margin masih terlalu dini untuk menjadi dasar utama valuasi WIFI.

"Bisnis utama yang sudah terbukti menghasilkan pendapatan tetap berasal dari konektivitas, terutama FTTH dan FWA," jelas Ekky.

Karena itu, menurut dia, investor masih perlu menjadikan pertumbuhan pelanggan, utilisasi jaringan dan monetisasi aset telekomunikasi sebagai indikator utama dalam menilai prospek WIFI.

Abdul Azis mengatakan sejumlah katalis utama WIFI ke depan mencakup pertumbuhan pelanggan, ekspansi Internet Rakyat, peningkatan utilisasi jaringan serta monetisasi basis pelanggan.

Baca Juga: Solusi Sinergi (WIFI) Pakai Samurai Bond Rp 2,4 Triliun untuk Percepat Ekspansi FTTH

Di sisi lain, risiko yang perlu dicermati meliputi eksekusi ekspansi, kebutuhan belanja modal atau capex, biaya akuisisi pelanggan, tingkat take-up serta kebutuhan pendanaan.

Dengan ekspansi jaringan yang agresif, kemampuan WIFI mengonversi investasi infrastruktur menjadi pelanggan dan pendapatan berulang akan menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan kinerja.

Dari sisi saham, Abdul Azis masih mempertahankan pandangan positif terhadap WIFI. Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp4.000 per saham.

"Prospek pertumbuhan earnings yang kuat dari ekspansi FTTH dan FWA menjadi dasar utama pandangan tersebut," ujar Azis.

Sementara itu, Ekky memberikan rekomendasi Buy on Weakness atau Trading Buy untuk WIFI dalam jangka pendek hingga menengah.

Ia melihat fundamental WIFI masih berada dalam fase pertumbuhan kuat. Dari sisi teknikal, harga sekitar Rp2.100 juga telah kembali berada di atas EMA 5, EMA 20 dan EMA 50, dengan RSI sekitar 56 yang menunjukkan momentum mulai positif.

Ekky menyarankan area buy on weakness di kisaran Rp2.000-Rp2.050 per saham, dengan area akumulasi lebih dalam sekitar Rp1.930-Rp1.980.

Jika harga mampu menembus Rp2.150-Rp2.200 secara valid dan disertai peningkatan volume, WIFI berpeluang menguji Rp2.350-Rp2.400. Untuk target jangka menengah, ruang penguatan terbuka menuju Rp2.550-Rp2.600.

Sebaliknya, skenario bullish perlu dievaluasi apabila harga kembali turun secara konsisten di bawah level Rp1.900 per saham.

Baca Juga: Laba Surge (WIFI) Naik 118% di Semester I-2026, Telekomunikasi Jadi Mesin Pertumbuhan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×