Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) masih positif seiring tren premiumisasi smartphone dan penguatan bisnis di luar segmen handset.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jonathan Guyadi memproyeksikan penjualan ERAA pada kuartal III 2026 tumbuh 4,8% secara tahunan. Sementara itu, laba bersih diperkirakan melonjak 53% secara tahunan, didorong tren up-trading atau pergeseran konsumen ke smartphone dengan harga jual rata-rata yang lebih tinggi.
"Sebagian besar merek telah meluncurkan model premium baru untuk meneruskan kenaikan biaya chipset global kepada konsumen," ujar Jonathan dalam riset 17 Juli 2026.
Baca Juga: Kinerja Return Unitlink Saham Terkontraksi Paling Dalam per Agustus 2026
Tren penjualan ERAA juga masih menunjukkan pertumbuhan. Same-store sales growth (SSSG) perseroan pada lima bulan pertama 2026 tercatat sebesar 7,2%. ERAA juga mencatat permintaan terhadap produk flagship kelas atas seperti iPhone 17 Pro Max masih kuat.
Pertumbuhan juga ditopang bisnis active lifestyle melalui PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), yang merupakan anak usaha ERAA. Pada lima bulan pertama 2026, ERAL mencatat pertumbuhan penjualan toko yang sama (same store sales growth/SSSG) sebesar 10,8%, didukung kinerja positif di berbagai lini bisnis active lifestyle.
Premiumisasi smartphone menjadi salah satu katalis di tengah tekanan terhadap volume pengiriman secara global. Berdasarkan proyeksi IDC yang dikutip Jonathan, pengiriman smartphone global pada 2026 diperkirakan turun 13,9%. Namun, blended average selling price (ASP) diproyeksikan meningkat sekitar US$100 menjadi US$550.
Kenaikan ASP tersebut tercermin dari sejumlah peluncuran smartphone baru pada semester I 2026. Jonathan mencatat harga peluncuran beberapa model baru meningkat 4%-27% dibandingkan generasi sebelumnya. Kenaikan paling tinggi terjadi pada sejumlah perangkat entry hingga mid-tier.
Di sisi lain, segmen premium justru menunjukkan pertumbuhan lebih kuat. Pengiriman smartphone dengan harga di atas US$ 600 diperkirakan meningkat 30% secara tahunan dan mencapai porsi 8,3% dari total pengiriman. Sebaliknya, segmen di bawah US$ 150 diproyeksikan turun 19%.
Baca Juga: Prospek Surge (WIFI) Makin Cerah, Ini Rekomendasi Analis
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi ERAA yang memiliki eksposur kuat terhadap produk premium. Untuk meredam dampak depresiasi rupiah, perseroan juga telah menyiapkan buffer persediaan lebih awal serta memberikan dukungan promosi untuk menjaga volume penjualan.
Jonathan juga melihat ruang pertumbuhan dari diversifikasi bisnis ERAA. Perseroan terus meningkatkan kontribusi bisnis active lifestyle dan lifestyle di luar bisnis handset.
"Kami menyukai pangsa pasar dominan perusahaan yang membantu meredam dampak kondisi operasi yang sulit, serta strateginya untuk meningkatkan kontribusi bisnis active dan lifestyle menjadi sekitar 25–30% dari total pendapatan dalam jangka panjang guna meningkatkan ROE," ungkap Jonathan.
Meski prospeknya positif, sejumlah risiko tetap perlu dicermati. Risiko tersebut mencakup SSSG yang lebih lemah, depresiasi rupiah yang lebih dalam, serta faktor geopolitik dan kendala pasokan yang dapat mengganggu impor produk.
Dari sisi kinerja, Jonathan memproyeksikan pendapatan ERAA pada 2026 mencapai Rp 78,37 triliun, dengan laba bersih Rp 1,51 triliun. Proyeksi tersebut masing-masing tumbuh 2,3% dan 26,2% secara tahunan.
Untuk 2027, pendapatan ERAA diproyeksikan mencapai Rp 85,90 triliun dan laba bersih Rp 1,56 triliun. Sementara pada 2028, pendapatan diproyeksikan mencapai Rp 93,32 triliun dengan laba bersih Rp 1,85 triliun.
Dari sisi valuasi, Jonathan mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham ERAA dengan target harga Rp 500 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 35,9% dari harga acuan Rp 368 per saham dalam riset.
ERAA juga dinilai memiliki valuasi paling rendah di sektor. Saham ERAA diperdagangkan pada P/S 2026F sebesar 0,1 kali dan proyeksi P/E 2026 sebesar 3,5 kali. Selain itu, ERAA menawarkan proyeksi dividend yield 7,2% dan pertumbuhan EPS 2026F sebesar 26,2%.
Terbaru, ERAA menyiapkan aksi pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai maksimal Rp 500 miliar. Aksi tersebut berlangsung selama tiga bulan, mulai 4 September hingga 4 Desember 2026.
Berdasarkan keterbukaan informasi tertanggal 3 September 2026, perseroan menyiapkan dana dari kas internal untuk membeli kembali maksimal 797,5 juta saham atau setara 5% dari modal disetor.
Buyback akan dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia dengan menunjuk PT Ciptadana Sekuritas Asia sebagai pelaksana transaksi. ERAA menyatakan aksi tersebut tidak akan berdampak material terhadap kondisi keuangan maupun kelangsungan usaha perseroan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














