Reporter: Vivit Dewi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Stabilitas rupiah menghadapi tantangan dari meningkatnya risiko ekonomi domestik. Sejumlah bencana yang mengganggu aktivitas transportasi dan masyarakat dinilai dapat menambah kompleksitas risiko ekonomi serta menguji ruang kebijakan moneter Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot ditutup pada level Rp 17.640 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (7/9/2026). Rupiah menguat tipis 0,01% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp 17.653 per dolar AS. Posisi tersebut melemah Rp17 atau sekitar 0,10% dibandingkan JISDOR Jumat (4/9) yang berada di level Rp 17.636 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyoroti sejumlah risiko yang dapat memengaruhi kondisi pasar keuangan Indonesia sepanjang pekan ini. Selain perkembangan eksternal, perhatian juga tertuju pada kondisi domestik yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar.
“Pekan ini sepertinya menjadi ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. Tantangannya bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memastikan bahwa stimulus moneter tidak dibayar dengan volatilitas rupiah dan keluarnya modal asing,” ujar Ibrahim, Senin (7/9/2026).
Baca Juga: Risiko Geopolitik Meningkat, Ruang Penguatan Rupiah Diproyeksi Terbatas
Menurut Ibrahim, kekhawatiran pasar masih membayangi perekonomian domestik seiring terjadinya sejumlah bencana alam. Salah satunya adalah erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga akhir pekan.
“Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat malam, 4 September hingga akhir pekan ini memang menimbulkan dampak yang sangat masif di sektor penerbangan dan aktivitas masyarakat,” kata Ibrahim.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, sebaran abu vulkanik menyebabkan penundaan dan pembatalan lebih dari 1.500 jadwal penerbangan di setidaknya delapan bandara. Sekitar 170.000 penumpang juga tertahan di berbagai lokasi.
Tak hanya erupsi Anak Krakatau, Ibrahim menyoroti bencana yang terjadi secara bersamaan, termasuk pembakaran lahan gambut di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatra serta mengeringnya Sungai Barito.
“Bencana alam yang terjadi secara serempak, termasuk pembakaran lahan gambut yang terjadi di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatra serta mengeringnya Sungai Barito membuat transportasi batubara terhenti dan ini turut menambah kompleksitas risiko ekonomi domestik dengan terbatasnya aktivitas transportasi dan menciptakan risiko terganggunya rantai pasok,” ujar Ibrahim.
Baca Juga: Rupiah Balik Arah: Ditutup Menguat Tipis ke Rp 17.640 Per Dolar AS Hari Ini (7/9)
Menurut Ibrahim, pelaku pasar akan mencermati penanganan bencana sembari menghitung potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi. Perhatian terutama tertuju pada risiko apabila gangguan transportasi dan pembatasan aktivitas di luar rumah berlangsung lebih lama.
Selain itu, pasar juga akan berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik penting pekan ini. Data tersebut meliputi cadangan devisa Agustus, sentimen konsumen, serta penjualan ritel Juli.
Perkembangan data tersebut akan menjadi perhatian pasar dalam menilai kondisi ekonomi domestik sekaligus ruang kebijakan moneter BI. Di tengah upaya menjaga pertumbuhan ekonomi, BI juga perlu mempertimbangkan risiko terhadap stabilitas rupiah dan arus modal asing.
Untuk perdagangan Selasa (8/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp 17.640-Rp 17.680 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 17.646 Per Dolar AS Hari Ini (7/9), Asia Turun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














