kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.637.000   -3.000   -0,11%
  • USD/IDR 17.657   -7,00   -0,04%
  • IDX 6.620   -16,80   -0,25%
  • KOMPAS100 866   -0,88   -0,10%
  • LQ45 656   -1,17   -0,18%
  • ISSI 231   0,64   0,28%
  • IDX30 367   -0,76   -0,21%
  • IDXHIDIV20 454   -0,16   -0,04%
  • IDX80 99   -0,07   -0,07%
  • IDXV30 126   0,61   0,49%
  • IDXQ30 118   -0,24   -0,21%

Harga Minyak Dekati US$ 100, Bursa Global Tertekan Risiko Inflasi


Senin, 07 September 2026 / 22:01 WIB
Harga Minyak Dekati US$ 100, Bursa Global Tertekan Risiko Inflasi
ILUSTRASI. Bursa Global - Saham Eropa (REUTERS/Staff)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pasar saham global menghadapi tekanan pada perdagangan Senin (7/9/2026) seiring kenaikan harga minyak, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta ketidakpastian politik di Eropa.

Investor cenderung berhati-hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia.

Baca Juga: United Tractors (UNTR) Prediksi Kinerja Pulih Bertahap, Cek Rekomendasi Sahamnya

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik 1,3% menjadi US$ 97,50 per barel, level tertinggi dalam tujuh pekan. Kenaikan tersebut memperpanjang reli setelah harga minyak melonjak hampir 8% sepanjang pekan lalu.

Harga Brent kini sekitar 35% lebih tinggi dibandingkan posisi pada akhir Februari, sebelum perang dimulai.

Kenaikan harga minyak dipicu eskalasi konflik di kawasan Teluk. Iran mengatakan akan mengumumkan zona terbatas di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang setelah pasukan Amerika Serikat menyerang tiga kapal tanker Iran.

Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan rudal balistik ke dua kapal Angkatan Laut AS.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian investor karena harga diesel, yang digunakan secara luas untuk transportasi, pelayaran, pertanian dan manufaktur, telah mencapai rekor tertinggi pada pekan lalu.

Harga diesel bahkan tercatat sekitar 90% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Masih Bergerak Terbatas pada Selasa (8/9), Ini Sentimennya

Inflasi dan Suku Bunga Jadi Perhatian

Kenaikan harga bahan bakar dan pangan berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi global.

Kondisi tersebut dapat membuat bank sentral lebih sulit memangkas suku bunga dan bahkan membuka peluang pengetatan kebijakan moneter.

Data inflasi konsumen AS yang akan dirilis pekan ini menjadi perhatian utama investor. Data tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Baca Juga: Cek Prospek dan Rekomendasi Emiten yang Akuisisi Aset Tambang di Luar Negeri

Pasar saat ini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan 16 September mencapai 58%. Sementara peluang kenaikan suku bunga pada Oktober mencapai 70%.

Ekspektasi tersebut menguat setelah laporan tenaga kerja AS pada pekan lalu menunjukkan penambahan 162.000 pekerjaan pada Agustus, jauh lebih kuat dibandingkan perkiraan pasar.

Selain The Fed, European Central Bank (ECB) juga diperkirakan menaikkan suku bunga menjadi 2,5% pada Kamis (10/9/2026). Pasar juga memperkirakan peluang kenaikan lanjutan menjadi 2,75% pada Desember.

Sementara itu, peluang Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 18 September diperkirakan mencapai 75%. Peluang kenaikan berikutnya pada Desember berada di sekitar 60%.

“Kesabaran bank sentral menghadapi guncangan energi telah mendukung harga aset dan siklus kredit. Namun, bank sentral kini mulai bergerak,” kata Bruce Kasman, Kepala Ekonomi Global JPMorgan.

Baca Juga: Cek Prospek dan Rekomendasi Emiten yang Akuisisi Aset Tambang di Luar Negeri

Ketidakpastian Politik Tekan Eropa

Selain tekanan inflasi, pasar Eropa menghadapi risiko politik yang turut membatasi penguatan aset berisiko.

Di Jerman, partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) menjadi pemenang dalam pemilihan negara bagian Saxony-Anhalt pada Minggu (6/9/2026).

Meski belum memperoleh mayoritas dan masih jauh dari kekuasaan nasional, kemenangan tersebut menjadi perkembangan penting karena AfD berpotensi menjadi partai sayap kanan pertama yang mendekati kekuasaan di tingkat negara bagian sejak Perang Dunia II.

AfD juga diketahui memiliki kebijakan yang mencakup rencana meninggalkan mata uang euro.

“Perkembangan ini berbahaya bagi stabilitas jangka panjang mata uang tunggal,” kata Kathleen Brooks, Direktur Riset XTB.

Baca Juga: Prospek Emiten Kawasan Industri Masih Cerah, Simak Rekomendasi Sahamnya

Di Prancis, jajak pendapat terbaru juga menunjukkan pemimpin sayap kanan Marine Le Pen berpotensi memenangkan putaran pertama pemilihan presiden tahun depan. Le Pen sebelumnya pernah mendukung gagasan untuk meninggalkan euro.

Menurut Brooks, Eropa berpotensi menghadapi gelombang perubahan politik dalam beberapa tahun mendatang, termasuk pergeseran ke kanan di dua negara dengan perekonomian terbesar di kawasan tersebut.

Kondisi itu turut menekan euro. Mata uang tersebut telah melemah 1,1% terhadap dolar AS sepanjang 2026, menjadi mata uang utama dengan kinerja terburuk terhadap greenback.

Sebagai perbandingan, yen Jepang menguat 0,7%, sementara poundsterling naik 0,4%.

Yen Menguat, Bursa Wall Street Terbatas

Di pasar valuta asing, dolar AS melemah 1,2% terhadap yen menjadi 154,32 yen. Yen menguat ke level tertinggi dalam tujuh bulan setelah aksi beli meningkat.

Penguatan yen juga didukung meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ serta kemungkinan intervensi lanjutan pemerintah Jepang di pasar valuta asing.

Sementara itu, euro menguat tipis 0,14% menjadi US$ 1,1629.

Baca Juga: Transaksi Kripto Anjlok di Juli, Investor Tunggu Arah Pasar yang Lebih Jelas

Di pasar saham Eropa, indeks utama kesulitan mempertahankan penguatan.

Perdagangan di Wall Street juga relatif terbatas karena libur nasional di AS. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,2%, sedangkan Nasdaq futures menguat 0,2%.

Investor kini menunggu data inflasi AS untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed, di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×