kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.784.000   -30.000   -1,07%
  • USD/IDR 17.344   78,00   0,45%
  • IDX 7.101   28,83   0,41%
  • KOMPAS100 958   2,89   0,30%
  • LQ45 684   1,82   0,27%
  • ISSI 255   0,38   0,15%
  • IDX30 380   1,10   0,29%
  • IDXHIDIV20 465   2,14   0,46%
  • IDX80 107   0,37   0,34%
  • IDXV30 136   1,19   0,88%
  • IDXQ30 121   0,39   0,32%

Laba Astra Tertekan Awal 2026, Begini Penjelasan Bos Astra (ASII)


Rabu, 29 April 2026 / 18:32 WIB
Laba Astra Tertekan Awal 2026, Begini Penjelasan Bos Astra (ASII)
ILUSTRASI. Di tengah laba ASII yang tertekan, divisi otomotif dan properti justru mencetak kenaikan signifikan. Peluang investasi baru terungkap di sini. (Dok/ASII )


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laba bersih emiten konglomerasi, PT Astra International Tbk (ASII) tertekan pada kuartal I-2025. Ini seiring dengan penurunan pendapatan dan menyusutnya kontribusi dari beberapa segmen usaha.

Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2026, ASII membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 78,66 triliun. Ini turun 5,63% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 83,36 triliun.

Adapun laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk ASII turun 15,61% secara tahunan menjadi Rp 5,85 triliun di kuartal I-2025 dari capaian kuartal I-2025 sebesar Rp 6,93 triliun.

Presiden Direktur Astra International, Rudy, menjelaskan laba Grup menurun terutama disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi.

“Ini disebabkan oleh penurunan kontribusi dari bisnis pertambangan emas yang minim, volume yang lebih rendah di alat berat dan bisnis jasa penambangan serta beberapa non-recurring charges,” jelasnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).

Baca Juga: Presdir Astra (ASII) Beri Bocoran Dua Lini Bisnis yang Tertekan pada Kuartal I-2026

Pada periode ini, kata Rudy, Astra mencatat beberapa non-recurring charges dan penyesuaian nilai wajar atas investasi-investasi ekuitas. Tanpa memperhitungkan hal ini, laba bersih ASII turun 8% menjadi Rp 6,8 triliun.

“Namun, bisnis-bisnis lainnya mencatatkan kinerja yang lebih baik, sehingga dapat mengimbangi sebagian dari penurunan tersebut,” kata dia.

Laba bersih divisi Otomotif & Mobilitas Grup meningkat 4% menjadi Rp 2,4 triliun dari Rp 2,3 triliun. Ini didukung oleh kinerja bisnis mobilitas dan komponen, meskipun volume penjualan mobil lebih rendah.

Penjualan mobil secara nasional meningkat 2% menjadi 209.000 unit pada kuartal pertama di 2026. Melemahnya segmen mass market serta peningkatan kompetisi secara umum memengaruhi pangsa pasar Astra, yang menjadi 49%.

Laba bersih divisi Jasa Keuangan Astra meningkat 6% menjadi Rp 2,3 triliun, disebabkan oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen dengan nilai portofolio pembiayaan yang meningkat.

Laba bersih divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi menurun 79% menjadi Rp 408 miliar. Pada periode ini, PT United Tractors Tbk (UNTR) mengakui non-recurring charges sebesar Rp 723 miliar pada bisnis nikel dan pembangkit listrik panas bumi.

“Ini disebabkan tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe dan dampak terhadap permintaan pelanggan atas alat berat dan jasa kontraktor pertambangan akibat alokasi RKAB batubara nasional,” jelas Rudy.

Laba bersih divisi Agribisnis Astra meningkat 35% menjadi Rp 298 miliar, yang didorong oleh peningkatan penjualan CPO dan produk turunannya sebesar 6% menjadi 457.000 ton, dengan harga CPO yang relatif stabil yaitu Rp 14.556 per kg.

 

Kemudian, divisi Infrastruktur Astra mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 32% menjadi Rp 343 miliar. Ini disebabkan oleh tarif jalan tol yang lebih tinggi dan peningkatan volume lalu lintas.

Divisi Teknologi Informasi Astra mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 47% menjadi Rp 53 miliar. Rudy bilang peningkatan didorong oleh pendapatan bisnis solusi teknologi informasi serta peningkatan marjin usaha.

Terakhir, dari segmen properti, Astra melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 145% menjadi Rp 115 miliar di kuartal I-2026. Kenaikan utamanya berasal dari aset-aset gudang industri yang baru diakuisisi.

Rudy menyebut ke depan, kondisi pasar diperkirakan masih akan menantang di tengah ketegangan geopolitik. Oleh karena itu, ASII akan berupaya mengelola tantangan tersebut.

“Kami akan terus mengelola tantangan jangka pendek secara cermat dan disiplin, dengan tetap fokus dalam menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×