kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.559.000   -11.000   -0,43%
  • USD/IDR 18.166   -36,00   -0,20%
  • IDX 5.098   -184,26   -3,49%
  • KOMPAS100 656   -29,76   -4,34%
  • LQ45 515   -24,19   -4,48%
  • ISSI 171   -5,38   -3,04%
  • IDX30 289   -13,61   -4,49%
  • IDXHIDIV20 388   -17,40   -4,29%
  • IDX80 76   -3,38   -4,28%
  • IDXV30 108   -4,36   -3,89%
  • IDXQ30 98   -4,24   -4,16%

Investor Makin Hati-hati, Penawaran Lelang SUN Anjlok 52%


Kamis, 29 Oktober 2026 / 14:39 WIB
Investor Makin Hati-hati, Penawaran Lelang SUN Anjlok 52%
ILUSTRASI. Pasar modal (KONTAN/Cheppy A.Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli

Dengan inflasi domestik yang relatif terkendali, SBN masih menawarkan imbal hasil kompetitif dibandingkan sejumlah instrumen investasi berisiko rendah lainnya.

Namun, daya tarik tersebut berbeda bagi investor asing. Pada 28 Oktober 2026, yield SUN tenor 10 tahun bergerak di sekitar 7,62%, sedangkan yield US Treasury tenor yang sama berada di sekitar 5,01%. Selisih imbal hasil keduanya mencapai sekitar 261 basis poin.

Menurut Josua, selisih imbal hasil tersebut belum tentu cukup menarik bagi investor asing ketika rupiah berada di kisaran Rp 18.100–Rp 18.200 per dolar AS dan masih menghadapi risiko pelemahan lanjutan.

Baca Juga: Harga Minyak dan Yield Global Naik Tekan SUN, Ini Rekomendasinya

Potensi keuntungan dari selisih imbal hasil dapat tergerus oleh pelemahan rupiah, bahkan sebelum memperhitungkan risiko perubahan harga obligasi dan biaya lindung nilai.

Selain itu, peningkatan persepsi risiko Indonesia, termasuk credit default swap (CDS) lima tahun yang berada di sekitar 104,6 basis poin, turut memengaruhi keputusan investasi.

Meski demikian, arus modal asing ke SBN selama Oktober masih positif sekitar US$ 480 juta. Hal ini menunjukkan daya tarik SBN belum sepenuhnya hilang, tetapi investor cenderung lebih selektif dalam menentukan tenor, harga, dan waktu pembelian.

Josua memandang, stabilitas rupiah, kepastian kebijakan fiskal, serta meredanya risiko terkait usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi faktor penting untuk mendorong permintaan asing secara berkelanjutan.

Ke depan, prospek lelang SUN hingga akhir 2026 masih dibayangi risiko penurunan permintaan dan kenaikan yield.

Baca Juga: Yield SUN Menanjak di Tengah Sentimen Tekanan Jual Domestik dan Pelemahan Rupiah

Tekanan berpotensi berlanjut apabila harga minyak bertahan di atas US$ 115 per barel, ekspektasi suku bunga Amerika Serikat tetap tinggi, dan rupiah belum menunjukkan penguatan yang konsisten.

Josua memperkirakan, yield SUN tenor 10 tahun berpotensi bergerak pada kisaran 7,4%-7,8% dalam skenario pasar yang masih bergejolak.

Risiko kenaikan hingga mendekati atau melampaui 8% terbuka apabila tekanan eksternal dan domestik memburuk secara bersamaan.

“Pemulihan permintaan SBN secara berkelanjutan akan sangat bergantung pada stabilitas rupiah, kredibilitas pengelolaan APBN, dan kemampuan pemerintah serta otoritas pasar keuangan dalam mengembalikan kepercayaan investor,” pungkas Josua.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×