Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar Surat Utang Negara (SUN) bergerak anomali di tengah reli obligasi global. Ketika imbal hasil (yield) obligasi negara maju berguguran, yield SUN justru merangkak naik akibat pelemahan sentimen risiko domestik dan rilis data utang luar negeri (ULN) Indonesia yang membengkak.
Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan memaparkan bahwa pasar SUN bergerak berlawanan dengan arah reli obligasi global yang lebih luas.
Ia menyoroti bahwa imbal hasil obligasi domestik mayoritas mendaki kisaran 1-5 bps di tengah berlanjutnya tekanan jual domestik dan melemahnya nilai tukar rupiah, mengabaikan tren penurunan yang tengah dinikmati surat utang AS, US Treasury.
Tekanan jual di pasar domestik tersebut seiring dengan tertekannya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Baca Juga: MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Saham Indonesia, IHSG Anjlok
Kondisi ini mengerek yield SUN bertenor 5 tahun naik 4,6 basis poin (bps) menjadi 7,04% dan tenor 10 tahun naik 4,3 bps ke level 7,23%.
Menariknya, pergerakan berbeda terlihat pada yield bertenor 2 tahun yang justru mengalami reli dengan penurunan 4,7 bps menjadi 6,62%.
Sentimen negatif di dalam negeri dipicu oleh posisi ULN Indonesia pada Agustus 2026 yang naik 5,6% secara tahunan (YoY) menjadi US$ 459,3 miliar.
Kenaikan ini didorong oleh utang pemerintah yang tumbuh 3,3% YoY menjadi US$ 220,9 miliar, serta lonjakan signifikan kewajiban eksternal Bank Indonesia sebesar 79,3% YoY mencapai US$ 42,8 miliar akibat tingginya kepemilikan nonresiden pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kondisi di dalam negeri berbanding terbalik dengan bursa global, di mana pasar obligasi Amerika Serikat (AS) justru mencetak reli meski inflasi produsen (PPI) mencatatkan lonjakan 1,3% secara bulanan (MoM) pada September 2026.
"Imbal hasil surat utang pemerintah AS (T-note) turun 4–9 basis poin di sepanjang kurva pada hari Kamis, mengabaikan lonjakan tak terduga pada data Indeks Harga Produsen (PPI) bulan September," imbuh Ridwan dalam risetnya, Jumat (16/10/2026).
Penurunan imbal hasil US Treasury 10 tahun ke level 5,10% terjadi karena kekhawatiran pasar atas volatilitas di sektor teknologi dan prospek pertumbuhan yang lebih luas ternyata lebih mendominasi dibandingkan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi.
Di sisi lain, bursa saham AS ditutup menguat ditopang sektor defensif, dengan Dow Jones naik 1,08%, S&P 500 menguat 0,33%, dan Nasdaq bertambah 0,08%.
Baca Juga: Ini Kata Analis Asing dan Lokal Soal Rencana MSCI Downgrade Indonesia
Penurunan imbal hasil obligasi juga menjalar secara luas ke negara lain. Obligasi Jepang (JGB) bertenor 10 tahun memimpin dengan penurunan tajam 10,2 bps menjadi 2,90%, diikuti oleh Gilt Inggris yang turun 5 bps menjadi 5,37%, dan Bund Jerman yang menyusut 5,3 bps ke 3,41%.
Sementara itu, di pasar domestik, aktivitas transaksi secara outright berpusat pada seri FR0110 yang mencatatkan nilai pergantian (turnover) sebesar Rp 3,61 triliun, disusul FR0104 sebesar Rp 2,24 triliun dan FR0102 senilai Rp 1,64 triliun.
Mempertimbangkan perkembangan pasar global dan domestik saat ini, Ridwan memproyeksikan yield Indo-GB tenor 10 tahun akan diperdagangkan pada kisaran 7,10%–7,25% untuk hari ini.
Sebagai rekomendasi perdagangan, investor dapat melirik beberapa seri obligasi yang menarik, yakni FR0064, PBS030, FR0101, FR0091, dan FR0088.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














