kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.814.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 17.266   44,00   0,26%
  • IDX 7.072   -34,13   -0,48%
  • KOMPAS100 955   -6,68   -0,69%
  • LQ45 682   -4,42   -0,64%
  • ISSI 255   -2,37   -0,92%
  • IDX30 378   -0,88   -0,23%
  • IDXHIDIV20 463   -1,76   -0,38%
  • IDX80 107   -0,70   -0,65%
  • IDXV30 135   -1,18   -0,87%
  • IDXQ30 121   -0,66   -0,55%

IHSG Melemah, Waspada “Sell in May” dan Peluang Rebound Terbatas


Selasa, 28 April 2026 / 14:58 WIB
IHSG Melemah, Waspada “Sell in May” dan Peluang Rebound Terbatas
ILUSTRASI. Pelemahan IHSG belum usai, sentimen global masih mendominasi. Analis ungkap potensi koreksi berlanjut hingga fenomena 'sell in May' yang patut diwaspadai investor. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan pelemahan terbatas di tengah tekanan sentimen global. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup turun 0,32% ke level 7.106, setelah sempat rebound di awal sesi.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai, tren koreksi IHSG masih berpotensi berlanjut, seiring dominasi sentimen eksternal.

“Koreksinya belum selesai. Pemicunya lebih banyak global driven. Selama sentimen global belum stabil, potensi koreksi lanjutan masih terbuka,” katanya kepada Kontan, Selasa (28/4/2026).

Meski demikian, Wafi menilai pergerakan IHSG saat ini belum sepenuhnya masuk fase bearish, namun juga belum menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat.

“Bukan bearish, tapi juga belum fully rebound. Pasar masih mencari titik keseimbangan baru,” jelasnya.

Baca Juga: Indika Energy (INDY) Berencana Jual Saham Hasil Buyback Sebanyak 7,5 Juta

Ia memperkirakan IHSG akan bergerak dalam kisaran 6.900–7.300 dalam jangka pendek.

Dari sisi teknikal, level support kuat berada di area 7.000 hingga 6.900. Jika mampu bertahan di level tersebut, IHSG berpeluang mengalami rebound terbatas.

“Kalau bertahan, ada potensi rebound ke 7.300–7.400,” imbuhnya.

Menjelang bulan Mei, Wafi juga melihat adanya potensi munculnya fenomena sell in May di pasar saham domestik.

Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu tekanan tersebut, mulai dari potensi outflow pasif akibat rebalancing MSCI, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga tensi geopolitik di Timur Tengah yang masih tinggi.

“Bisa terjadi, karena kombinasi faktor tersebut masih membayangi pasar,” katanya.

Baca Juga: Surat Utang Rp 500 Miliar Jatuh Tempo Mei 2026, Begini Kondisi Keuangan PTPN I

Dalam menghadapi kondisi ini, Wafi menyarankan investor untuk menerapkan strategi akumulasi bertahap pada saham-saham defensif yang telah mengalami koreksi cukup dalam.

Ia merekomendasikan saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA dan BMRI yang dinilai memiliki fundamental kuat.

Selain itu, sektor konsumer juga dinilai menarik, seperti INDF dan ICBP, yang memiliki karakter defensif dengan valuasi yang mulai atraktif.

Untuk eksposur komoditas, Wafi turut merekomendasikan ADRO yang berpotensi diuntungkan dari harga energi yang masih tinggi.

“Fokus pada saham defensif dengan fundamental solid, serta lakukan akumulasi secara bertahap di tengah volatilitas pasar,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×