kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.664   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.636   -31,42   -0,47%
  • KOMPAS100 867   -5,52   -0,63%
  • LQ45 658   -5,19   -0,78%
  • ISSI 231   -0,99   -0,43%
  • IDX30 368   -3,06   -0,83%
  • IDXHIDIV20 455   -4,73   -1,03%
  • IDX80 99   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,37   -1,08%
  • IDXQ30 118   -1,17   -0,99%

IHSG Diprediksi Mixed Senin (7/9), Investor Waspadai Rupiah dan Konflik AS-Iran


Minggu, 06 September 2026 / 16:16 WIB
IHSG Diprediksi Mixed Senin (7/9), Investor Waspadai Rupiah dan Konflik AS-Iran
ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang bergerak terbatas pada perdagangan Senin (7/9/2026). (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang bergerak terbatas pada perdagangan Senin (7/9/2026). Pelaku pasar akan mencermati sejumlah katalis, mulai dari arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), data ekonomi Amerika Serikat (AS), pergerakan nilai tukar rupiah, hingga eskalasi konflik AS-Iran.

Pada perdagangan Jumat (4/9/2026)), IHSG ditutup terkoreksi 0,47% ke level 6.636 setelah sebelumnya sempat mencatatkan penguatan. Pergerakan indeks pada awal pekan diperkirakan masih dibayangi sentimen global dan dinamika aliran dana investor asing.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memperkirakan IHSG pada perdagangan Senin akan bergerak dalam kisaran 6.580–6.700. Ia menempatkan area support di 6.580–6.600 dan resistance 6.680–6.700.

“Selama IHSG masih mampu bertahan di atas 6.580, struktur pergerakan jangka pendek masih relatif sehat,” kata Hendra.

Baca Juga: Rencana Merger PTPP dan ADHI Jadi Sorotan, Ini Skenario dan Dampaknya bagi Investor

Menurut Hendra, aliran dana asing yang masih mencatatkan net buy sekitar Rp1,6 triliun dalam sepekan menjadi salah satu faktor yang menopang peluang penguatan IHSG. Kondisi tersebut menunjukkan minat investor terhadap aset saham Indonesia mulai mengalami pemulihan di tengah volatilitas pasar global.

Dari eksternal, arah pasar global masih menjadi faktor penting bagi pergerakan IHSG. Hendra menilai pasar akan mencermati arah kebijakan The Fed, terutama setelah komentar pejabat The Fed, Christopher Waller, yang dinilai cenderung dovish.

Penurunan imbal hasil US Treasury dan pelemahan dolar AS juga berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, investor tetap perlu mencermati data ketenagakerjaan AS. Data yang kuat berpotensi mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed dan kembali mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Rupiah Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, pergerakan rupiah juga menjadi perhatian pelaku pasar. Rupiah yang berada di sekitar Rp17.642 per dolar AS dan masih relatif menguat dinilai dapat memberikan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke pasar saham.

Hendra menilai kondisi pasar akan relatif lebih terjaga selama rupiah tidak mengalami tekanan signifikan dan tidak mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

Dari sisi teknikal, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai tren IHSG masih berada dalam fase bullish. Berdasarkan indikator teknikal, MA20 dan MA60 menunjukkan bullish crossover, sementara indikator Stochastic dan RSI juga masih memberikan sinyal positif.

Namun, Nafan mencatat volume perdagangan mengalami penurunan sehingga investor tetap perlu menerapkan manajemen risiko.

Jika IHSG mampu menembus dan bertahan di atas level 6.700, Hendra memperkirakan peluang penguatan dapat berlanjut menuju area 6.750.

Sebaliknya, apabila level 6.580 ditembus ke bawah, investor perlu mewaspadai tekanan jual lanjutan yang berpotensi membawa IHSG menguji area 6.500–6.550.

Baca Juga: Koreksi IHSG Tak Goyahkan Target Sekuritas hingga Akhir 2026

IHSG Berpotensi Melemah Terbatas

Berbeda dengan Hendra dan Nafan yang masih melihat ruang penguatan dari sisi teknikal, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memperkirakan IHSG pada perdagangan Senin bergerak mixed dengan kecenderungan melemah terbatas.

Audi memproyeksikan IHSG bergerak dengan level support 6.575 dan resistance 6.718. Dari sisi indikator teknikal, RSI bergerak turun, sementara MACD cenderung landai.

Dari sisi sentimen, Audi menilai perkembangan konflik AS-Iran masih menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan mendorong kenaikan harga minyak.

Perkembangan terbaru konflik AS-Iran juga kembali meningkatkan risiko gangguan pengiriman energi melalui kawasan tersebut.

Selain itu, pasar domestik akan menunggu data cadangan devisa Indonesia. Audi memperkirakan data tersebut berpotensi menunjukkan surplus, meskipun masih berada dalam tren penurunan sejak awal tahun, sehingga respons pasar diperkirakan cenderung moderat.

Saham Energi Berpeluang Jadi Penggerak IHSG

Dari sisi sektoral, sektor energi berpotensi menjadi salah satu penggerak IHSG pada awal pekan. Hendra menilai harga minyak Brent yang berada di sekitar US$95 per barel memberikan sentimen positif bagi saham berbasis komoditas di tengah masih tingginya risiko geopolitik di Timur Tengah.

Selain energi, sektor perbankan dan telekomunikasi juga layak diperhatikan apabila aliran dana asing kembali masuk ke saham berkapitalisasi besar.

Baca Juga: Prospek Saham Migas Masih Positif, Cek Rekomendasi ELSA, MEDC, TPIA, dan PGAS

Untuk saham yang dapat dicermati pada perdagangan Senin, Hendra merekomendasikan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan strategi speculative buy dan target harga Rp3.100.

Selain itu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan target Rp1.100, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan target Rp250, serta PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dengan target Rp400 juga dapat dicermati.

Sementara itu, Audi merekomendasikan PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan strategi buy on break di level Rp5.500, support Rp5.100, dan resistance Rp5.950.

Untuk PT Timah Tbk (TINS), Audi memberikan rekomendasi trading buy dengan support Rp4.150 dan resistance Rp4.720.

Meski demikian, saham-saham tersebut memiliki tingkat volatilitas yang relatif tinggi sehingga strategi yang disarankan adalah trading atau speculative buy, bukan mengejar harga secara agresif.

Investor juga disarankan tetap selektif dengan memperhatikan pergerakan rupiah, yield US Treasury, harga komoditas, serta aliran dana asing sebagai indikator pergerakan pasar.

Pergerakan IHSG pada Senin masih akan sangat bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan level support sekaligus menembus resistance.

Investor juga perlu mencermati perkembangan sentimen global, khususnya kebijakan The Fed, pergerakan rupiah, harga minyak, dan perkembangan konflik AS-Iran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×