kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.664   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.636   -31,42   -0,47%
  • KOMPAS100 867   -5,52   -0,63%
  • LQ45 658   -5,19   -0,78%
  • ISSI 231   -0,99   -0,43%
  • IDX30 368   -3,06   -0,83%
  • IDXHIDIV20 455   -4,73   -1,03%
  • IDX80 99   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,37   -1,08%
  • IDXQ30 118   -1,17   -0,99%

Koreksi IHSG Tak Goyahkan Target Sekuritas hingga Akhir 2026


Minggu, 06 September 2026 / 15:46 WIB
Koreksi IHSG Tak Goyahkan Target Sekuritas hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Sejumlah sekuritas masih melihat peluang pemulihan pasar saham Indonesia hingga akhir 2026, meski kinerja IHSG masih berada di bawah tekanan.  (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah sekuritas masih melihat peluang pemulihan pasar saham Indonesia hingga akhir 2026, meski kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan masih berada di bawah tekanan. Proyeksi yang dipasang pun cukup beragam, mulai dari 7.000 hingga 8.100 untuk skenario optimistis.

Pada perdagangan Jumat (4/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,47% ke level 6.636,475. Dengan demikian, IHSG masih terkoreksi sekitar 23,25% secara year to date (ytd).

Tekanan terhadap pasar saham juga tercermin dari aksi investor asing. Hingga Jumat (4/9), investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell sebesar Rp 68,05 triliun, yang setara dengan US$ 3,85 juta.

Meski tekanan pasar masih tinggi, sejumlah sekuritas memilih mempertahankan target IHSG akhir 2026. Salah satunya PT Kiwoom Sekuritas Indonesia yang masih menargetkan IHSG berada di kisaran 7.250–7.700 pada akhir tahun.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengatakan target tersebut dipertahankan dengan mempertimbangkan progres lima uji re-rating yang perlu terus berlanjut menjelang review MSCI pada November 2026.

Baca Juga: Prospek Saham Migas Masih Positif, Cek Rekomendasi ELSA, MEDC, TPIA, dan PGAS

Menurut Audi, koreksi tajam IHSG sepanjang tahun lebih banyak dipengaruhi oleh arus dana dan sentimen pasar dibandingkan dengan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap solid menjadi salah satu alasan Kiwoom tidak mengubah target IHSG.

“Kami memilih tidak menurunkan target karena menilai koreksi tajam sepanjang tahun lebih banyak digerakkan oleh arus dana dan sentimen, bukan pelemahan fundamental,” kata Audi kepada Kontan, Minggu (6/9/2026).

Kiwoom Sekuritas memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II-2026. Selain itu, tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 5,75% dinilai masih memberikan ruang bagi pelonggaran kebijakan apabila stabilitas rupiah tetap terjaga.

Audi menyebut level 7.000 menjadi tahapan penting bagi IHSG sebelum melanjutkan kenaikan menuju kisaran target Kiwoom. Namun, perkembangan pasar juga akan sangat dipengaruhi oleh hasil evaluasi MSCI pada November 2026.

“Bobot Indonesia di MSCI EM sudah menyusut tajam dari 1,16% pada 2025 menjadi sekitar 0,45% pada 2026, artinya sebagian besar tekanan de-weighting pasif sudah terserap,” jelasnya.

Audi mengatakan hasil evaluasi MSCI November berpotensi menjadi katalis masuknya kembali arus dana asing apabila reformasi transparansi dan tata kelola pasar dinilai memadai. Investor asing dinilai masih cenderung menunggu kepastian terkait hal tersebut sebelum meningkatkan eksposur di pasar saham Indonesia.

Mirae Asset Pertahankan Target IHSG 6.800

Pandangan relatif positif juga datang dari PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Sekuritas ini mempertahankan target IHSG akhir 2026 pada level 6.800 untuk skenario dasar.

Dalam skenario optimistis, Mirae Asset memproyeksikan IHSG dapat mencapai 7.800. Sementara itu, target untuk skenario pesimistis berada di level 5.500.

Chief Economist Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto mengatakan perkembangan pasar dalam beberapa pekan terakhir mulai menunjukkan kondisi yang lebih konstruktif, terutama ditopang pemulihan IHSG dan stabilitas rupiah.

Rully juga melihat akumulasi investor asing mulai kembali muncul, khususnya pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Kondisi tersebut dinilai membuat risiko penurunan pasar lebih terkendali dibandingkan periode sebelumnya.

“Memang perkembangan pasar dalam beberapa pekan terakhir cukup konstruktif. IHSG telah pulih cukup kuat, Rupiah relatif lebih stabil, dan mulai terlihat kembali akumulasi investor asing,” katanya kepada Kontan akhir pekan lalu.

Baca Juga: Harga Minyak Terancam Naik, Ini Prospek Saham MEDC, ELSA, PGAS dan TPIA

Dari sisi domestik, Rully menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup tangguh meski pemulihannya belum merata. Daya beli masyarakat masih menunjukkan kondisi yang beragam.

Di saat yang sama, inflasi Agustus tercatat meningkat menjadi 3,19% secara tahunan, sementara inflasi inti mencapai 2,92%.

RHB Sekuritas Pasang Target IHSG 7.300

RHB Sekuritas Indonesia juga belum mengubah proyeksi IHSG akhir 2026. Untuk skenario dasar, RHB mempertahankan target di level 7.300.

Target tersebut menggunakan asumsi valuasi sebesar 12,4 kali proyeksi laba 2026 atau sekitar satu standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

Head Research RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya mengatakan IHSG saat ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 10–11 kali proyeksi laba 2026. Menurut dia, posisi tersebut masih memberikan ruang bagi ekspansi valuasi.

“Kami belum merevisi target karena valuasi IHSG masih atraktif. Saat ini IHSG diperdagangkan sekitar 10-11 kali FY26F P/E, jauh di bawah rata-rata historis,” ucapnya.

Andrey memperkirakan laba emiten Indonesia masih mampu tumbuh sekitar 10,9% pada 2026. Namun, realisasi kenaikan valuasi tetap membutuhkan pemulihan kepercayaan investor serta pelaksanaan kebijakan yang konsisten.

Dalam skenario optimistis, RHB memasang target IHSG sebesar 8.100. Target tersebut dapat tercapai apabila kredibilitas kebijakan membaik, arus dana asing kembali kuat, rupiah stabil, dan kondisi global lebih kondusif.

Sebaliknya, dalam skenario pesimistis, IHSG diproyeksikan berada di level 6.600.

Menurut Andrey, stabilitas rupiah, arus dana asing, dan kredibilitas kebijakan domestik akan menjadi faktor utama yang menentukan arah IHSG hingga akhir tahun. Risiko yang berasal dari evaluasi MSCI juga tetap perlu diperhatikan, terutama berkaitan dengan transparansi kepemilikan dan aksesibilitas pasar.

J.P. Morgan Pangkas Target IHSG 2026

Berbeda dengan tiga sekuritas tersebut, J.P. Morgan Sekuritas justru mengambil sikap lebih konservatif dengan memangkas proyeksi IHSG akhir 2026 menjadi 7.000 dari target sebelumnya 9.100.

Penurunan target tersebut mencerminkan pandangan yang lebih hati-hati terhadap prospek pasar saham Indonesia hingga penghujung tahun.

Head of Equity Research J.P. Morgan Indonesia Benny Kurniawan menilai kinerja laba emiten Indonesia masih relatif tangguh pada semester I-2026 dengan pertumbuhan sekitar 6% secara tahunan. Namun, momentum tersebut diperkirakan melambat pada paruh kedua 2026.

Baca Juga: Saham CPO Diprediksi Lanjut Menguat, Simak Rekomendasinya

“Kami tetap bersikap hati-hati dalam jangka pendek, mengingat tingginya imbal hasil global dan berbagai perkembangan terkait indeks berpotensi terus membatasi penguatan pasar,” tulisnya dalam lembar fakta yang diterima Kontan.

Menurut Benny, konsensus pasar memperkirakan laba emiten dalam indeks MSCI Indonesia turun 0,9% pada 2026 sebelum kembali tumbuh 8,7% pada 2027. Proyeksi tersebut menunjukkan adanya potensi pemulihan pertumbuhan laba pada tahun berikutnya.

Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia saat ini diperkirakan diperdagangkan sekitar 10 kali proyeksi laba untuk 12 bulan ke depan. Benny menilai level tersebut sudah mencerminkan pandangan investor yang relatif berhati-hati terhadap pasar.

Saham Pilihan Sekuritas

Di tengah prospek IHSG yang masih menghadapi sejumlah risiko, pilihan sektor dan saham dari masing-masing sekuritas juga menunjukkan fokus pada sektor-sektor dengan fundamental yang dinilai relatif kuat.

RHB Sekuritas tetap mengunggulkan sektor perbankan dengan pilihan utama BBCA dan BMRI. Di luar sektor tersebut, RHB memilih EXCL, MIKA, MYOR, TAPG, MDKA, PGAS, ELSA dan SMSM.

Sementara itu, Kiwoom Sekuritas Indonesia mengunggulkan sektor perbankan berkapitalisasi besar, logam, dan telekomunikasi. Saham yang menjadi pilihan Kiwoom antara lain BBCA, BBRI, BMRI, INCO, ANTM dan TLKM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×