Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada akhir perdagangan Jumat (24/7/2026), sekaligus memperpanjang tren pelemahan menjadi tiga hari berturut-turut.
Koreksi tajam dipicu oleh kombinasi sentimen global, mulai dari aksi jual di Wall Street, anjloknya saham-saham teknologi Amerika Serikat, hingga lonjakan harga minyak dunia yang kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI Business, IHSG ditutup melemah 1,88% atau turun 118 poin ke level 6.196,43. Kendati demikian, secara akumulatif selama sepekan terakhir, indeks acuan Bursa Efek Indonesia tersebut masih mencatat kenaikan sebesar 0,34%.
Seluruh Sektor Kompak Melemah
Tekanan terhadap IHSG terjadi secara merata di hampir seluruh lini perdagangan. Seluruh indeks sektoral berakhir di zona negatif dengan sektor barang konsumer non-primer menjadi penyumbang pelemahan terbesar setelah turun 3,04%.
Pelemahan tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor di tengah memburuknya sentimen global yang mendorong aksi jual pada berbagai sektor.
Baca Juga: Asing Net Sell Jumbo Rp 1,36 Triliun, Cek Saham yang Banyak Dilepas di Akhir Pekan
Wall Street dan Saham Teknologi Jadi Pemicu Koreksi
Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menjelaskan bahwa pelemahan tajam IHSG tidak terlepas dari koreksi yang terjadi di bursa saham Amerika Serikat.
Menurutnya, penurunan signifikan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar seperti Alphabet yang merosot 7% dan Tesla yang anjlok hingga 14% setelah merilis laporan keuangan kuartal II memicu kekhawatiran investor terhadap tingginya valuasi sektor kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, lonjakan harga minyak mentah dunia turut memperburuk sentimen pasar.
"Minyak Brent tembus USD 100,69 per barel pertama kali yang memperburuk kekhawatiran inflasi global," ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (24/7/2026).
Rebound IHSG Masih Rentan
Wafi menilai sinyal pemulihan IHSG sebenarnya mulai terlihat dalam beberapa waktu terakhir. Namun, kondisi tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan arah tren.
Menurut dia, level support utama IHSG saat ini berada di kisaran 5.950, sedangkan resistance psikologis masih berada di level 6.471.
"Koreksi dua hari beruntun Kamis-Jumat mencerminkan rebound masih fragile dan sangat bergantung sentimen eksternal," tutur Wafi.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan IHSG masih akan sangat sensitif terhadap perkembangan ekonomi global maupun dinamika geopolitik.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Mixed, Investor Cermati Tarif AS dan Konflik Timur Tengah
Saham Energi dan Bank Besar Masih Menarik
Di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar, Wafi menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham. Emiten yang memiliki natural hedge serta prospek laba yang kuat dinilai lebih mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal.
Sektor energi dan komoditas diperkirakan menjadi salah satu penerima manfaat dari kenaikan harga minyak dunia. Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain:
-
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
-
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
-
PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA)
Selain itu, saham perbankan dengan rasio Current Account Savings Account (CASA) yang tinggi seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dinilai masih layak dipertahankan sebagai core holding dalam portofolio investasi.
Sebaliknya, investor disarankan untuk menghindari saham-saham sektor barang konsumsi yang sensitif terhadap impor maupun emiten yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Kelompok saham tersebut dinilai paling rentan terdampak kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Gelar Rights Issue, Wahana Interfood (COCO) Raup Dana Segar Rp 1,2 Triliun
Proyeksi IHSG Pekan Depan
Memasuki perdagangan pekan depan, Wafi memperkirakan IHSG masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan mixed.
Ia memperkirakan area support berada pada kisaran 6.185 hingga 6.250, sedangkan resistance berada di rentang 6.350 hingga 6.470.
Pergerakan pasar diperkirakan akan dipengaruhi oleh tiga sentimen utama, yaitu:
-
Rilis laporan keuangan semester I bank-bank besar.
-
Data inflasi Amerika Serikat.
-
Perkembangan konflik geopolitik di kawasan Selat Hormuz.
Meski tekanan jangka pendek masih membayangi, KISI tetap mempertahankan proyeksi IHSG hingga akhir tahun.
"Target akhir tahun base case KISI tetap 6.000-6.500, penentu utama tetap MSCI November," tutup Wafi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













