Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai mengalami penguatan. Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,36% secara harian ke level Rp 17.921 per dolar AS pada Jumat (17/7/2026). Sedangkan dalam sepekan, rupiah menguat 0,79%..
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,53% secara harian ke Rp 17.944 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah menguat 0,69% dari posisinya di level Rp 18.069 per dolar AS.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal. Sentimen negatif domestik di antaranya terkait defisit APBN.
Realisasi APBN hingga semester I-2026 mencatatkan defisit sebesar Rp 196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap PDB. Pasar merespons negatif percepatan realisasi belanja negara yang dianggap memberikan tekanan tambahan pada stabilitas ekonomi.
“Pergerakan nilai tukar rupiah dalam sepekan terakhir terpantau sangat fluktuatif dan cenderung tertahan di level psikologis Rp 18.000 per dolar AS,” ujar Sutopo kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: BEI Catat 4 Perusahaan Siap IPO, Mayoritas dari Sektor Kesehatan
Kemudian, penurunan keyakinan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei, yang merupakan level terendah sejak September tahun lalu. Hal ini mencerminkan pelemahan daya beli dan optimisme masyarakat.
Selanjutnya, laporan terbaru dari Fitch Ratings yang menyoroti kerentanan ekonomi makro Indonesia, termasuk pelemahan nilai tukar, penurunan cadangan devisa, dan arus modal keluar (capital outflow), telah melemahkan kepercayaan investor.
Terkait sentimen eksternal dan cadangan devisa, Sutopo mengatakan bahwa meski posisi cadangan devisa akhir Juni 2026 naik menjadi US$ 145,6 miliar dari US$ 144,9 miliar pada Mei, angka ini masih berada di dekat level terendah dalam dua tahun terakhir sehingga belum mampu memberikan sentimen positif yang kuat bagi rupiah.
Selain itu, rupiah terus bergejolak mengikuti dinamika global, di mana dolar AS cenderung menguat di tengah ketidakpastian ekonomi makro di pasar berkembang.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa rupiah juga dipengaruhi oleh data inflasi di AS, yakni indeks harga konsumen dan indeks harga produsen yang menurun di bawah ekspektasi. Hal ini memicu penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Baca Juga: IHSG Menguat 4,24% ke 6.175 Pekan Ini, Cek Pemicunya dan Proyeksi Pekan Depan
“Rupiah juga masih didukung oleh dipertahankannya credit rating Indonesia oleh S&P,” ucap Lukman.
Secara teknis, Sutopo memperkirakan pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi domestik terbaru dan sentimen pasar global terhadap mata uang emerging markets. Investor disarankan untuk tetap memantau rilis data dan kebijakan ekonomi pemerintah sebagai pemicu utama pergerakan rupiah.
“Pelaku pasar kini menanti langkah kebijakan ekonomi selanjutnya guna merespons defisit anggaran dan upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas makro agar kepercayaan investor kembali pulih,” jelas Sutopo.
Sutopo memproyeksikan rupiah pada sepekan ke depan bergerak di kisaran Rp 17.900–Rp 18.150 per dolar AS. Sementara itu, Lukman memperkirakan rupiah akan berada dalam rentang Rp 17.700–Rp 18.100 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
