kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Minyak Kian Panas, Cermati Rekomendasi Saham Emiten Migas Berikut Ini


Senin, 02 Oktober 2023 / 05:40 WIB
Harga Minyak Kian Panas, Cermati Rekomendasi Saham Emiten Migas Berikut Ini


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten minyak dan gas (migas) bakal diuntungkan harga minyak yang kian memanas. Analis memperkirakan harga minyak mentah dunia bisa menembus level US$ 100 per barel di akhir tahun 2023.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas memperkirakan harga minyak akan terus melanjutkan penguatan di tengah kebijakan negara-negara anggota OPEC terutama Arab dan Rusia yang mengurangi produksi mereka. Bahkan, Arab Saudi maupun Rusia telah memperpanjang pemotongan produksi minyak 1,3 juta barel per hari secara sukarela hingga akhir tahun 2023.

“Kondisi ini memicu kenaikan harga minyak dan diperkirakan bisa tembus harga US$100,” kata Sukarno kepada Kontan.co.id, Minggu (1/10).

Oleh karena itu, pasokan diperkirakan akan tetap terbatas untuk sementara waktu yang akan memperketat harga minyak dunia. OPEC memang telah membuktikan beberapa kali selama tiga tahun terakhir bahwa mereka berkomitmen untuk harga minyak yang lebih tinggi.

Hanya saja, Sukarno mewaspadai adanya ketidakpastian global akan berdampak pada permintaan yang lemah sehingga tidak mendukung momentum naiknya harga minyak dunia. Pada akhirnya, sentimen ini tidak mendukung kinerja emiten sektor migas.

Baca Juga: Bappebti Berencana Meluncurkan Bursa CPO, Apa Efek ke Emiten Sawit?

Analis Samuel Sekuritas Muhammad Farras Farhan turut melihat harga minyak mentah yang lebih tinggi di akhir tahun. Hal itu mengingat kemungkinan pengurangan pasokan lebih lanjut dari OPEC+ dan adanya penurunan persediaan minyak Amerika Serikat (AS).

“Kami memutuskan untuk menaikkan asumsi harga minyak untuk tahun 2023 menjadi US$ 85 per barel,” ungkap Farras dalam riset 14 September 2023.

Penurunan stok minyak mentah AS telah menambah kekhawatiran ketatnya pasokan minyak global. Stok minyak mentah AS turun 2,2 juta barel di minggu lalu menjadi 416,3 juta barel, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi analis sebesar 320.000 barel.

Farras menilai, sentimen lonjakan harga minyak tersebut akan mengangkat kinerja PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Emiten migas tersebut dipandang memiliki prospek yang menguntungkan di paruh kedua 2023.

“Dengan harga minyak global yang kembali ke kisaran US$91 per barel, kami memiliki prospek yang baik untuk bisnis Migas dan ketenagalistrikan MEDC,” imbuh Farras.

Baca Juga: Melirik Penggerak IHSG di Kuartal IV, Saham-Saham Leader & Laggard Ini Layak Koleksi

Samuel Sekuritas mengerek perkiraan laba bersih Medco Energi di tahun 2023 dan 2024 menjadi masing-masing sebesar US$ 348 juta dan US$ 304 juta terutama didorong oleh lonjakan harga komoditas dan potensi meningkatnya pasokan listrik.

Naiknya harga minyak bakal berdampak pada penyesuaian average selling price (ASP) atau harga jual rata-rata bagi para emiten migas, terutama emiten yang memiliki pangsa ekspor besar.

Di sisi lain, saat ini emiten migas sudah banyak yang mendiversifikasikan segmen bisnis seperti beralih ke energi terbarukan ataupun memperkuat bisnis lahan industri. Sehingga, fluktuasi harga minyak mentah dunia kemungkinan tidak akan secara signifikan berpengaruh bagi kinerja emiten tersebut.

Farras mencontohkan, MEDC adalah salah satu emiten yang melakukan pembaruan pada kegiatan bisnis. MEDC telah mendapatkan persetujuan bersyarat dari Energy Market Authority (EMA) Singapura untuk mengekspor listrik berkapasitas 600 megawatt melalui pembangunan proyek pembangkit tenaga surya (PLTS) yang ditargetkan selesai pada 2028.

Baca Juga: Jual Neo Soho Rp 1,44 Triliun, Begini Rekomendasi Agung Podomoro (APLN)

Selain itu, Head of Research Team & Strategist Mirae Asset, Robertus Hardy mengatakan, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) turut berupaya meningkatkan kontribusi dari segmen bisnis di luar migas yakni melalui penjualan lahan industri.

Hal itu tercermin dari naiknya kontribusi penjualan lahan industri AKRA terhadap laba sebelum pajak di semester I 2023 menjadi 15% dari 2,7% pada semester I 2022. Kontribusi segmen penjualan lahan industri bahkan diperkirakan bakal naik lagi menjadi kisaran 27% pada akhir tahun 2023.

Pada tanggal 31 Agustus dan 30 Maret 2023, AKRA menjual lahan seluas 67ha dan 19,6 ha kepada Hebang dan Hailiang. Di akhir kuartal III atau kuartal IV ini, AKRA diharapkan dapat menyelesaikan penjualan lahan seluas 10 ha kepada salah satu perusahaan dari Amerika.

Dengan demikian, penjualan lahan AKRA secara kumulatif pada tahun 2023 berpotensi mencapai 97 ha. Angka itu lebih tinggi dari proyeksi awal Mirae Asset Sekuritas yang diperkirakan hanya terjual 70 ha-75 ha.

“Kami telah memutuskan untuk meningkatkan asumsi secara signifikan di segmen tersebut, mengingat penjualan lahan kawasan industri telah melampaui target awal,” jelas Robertus kepada Kontan.co.id, Sabtu (30/9).

Baca Juga: Ini Penyebab Kinerja Amman Mineral Internasional (AMMN) Tergerus di Semester I-2023

Rekomendasi saham

1. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)

Medco memiliki prospek yang menguntungkan untuk bisnis Migas dan ketenagalistrikan di semester kedua 2023. Hal itu sejalan dengan pergerakan harga minyak global yang kembali ke kisaran US$ 91 per barel.

MEDC ke depannya bakal memetik hasil dari investasi yang berpotensi menghasilkan buah raksasa seperti ekspor listrik ke Singapura yang ditargetkan pada 2028. MEDC juga membeli aset di Timur Tengah dan akan menjual kepemilikan efektif working interest sebesar 31,88 persen di Block 12 W (ChimSao), Vietnam yang diharapkan tuntas sebelum akhir tahun.

Selain itu, dorongan bagi MEDC adalah melejitnya saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sejak dilaksanakannya Initial Public Offering (IPO) di awal Juli 2023 lalu. Seperti diketahui, MEDC menguasai 21,09% saham AMMN.

Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 2.200 per saham

Analis Samuel Sekuritas, Muhammad Farras Farhan dalam riset 14 September 2023

Baca Juga: Rekomendasi Saham Harum Energy (HRUM) yang Kini Kuasai Infei Metal Industry

2. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)

Bisnis utama AKRA memang sejauh ini masih berasal dari distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan bahan kimia dasar. Tetapi ke depannya penjualan lahan industri bakal menjadi penopang.

Kontribusi segmen penjualan lahan industri AKRA diperkirakan bakal naik menjadi kisaran 27% pada akhir tahun 2023. AKRA adalah pengelola Kawasan Ekonomi Khusus Industri Java Integrated dan Industrial Port Estate (KEK JIIPE) yang di dalamnya terdapat proyek smelter PT Freeport Indonesia dan Pabrik Kaca Xinyi.

Berbagai perusahaan diyakini ke depannya akan bergabung di JIIPE sehingga menciptakan ekosistem terintegrasi bagi AKRA sebagai penyedia dan distributor berbagai utilitas antara lain listrik, air dan pengolahan limbah, bahan bakar, bahan kimia dasar, serta jasa pelabuhan laut dalam.

Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 1.780 per saham

Analis Mirae Asset Sekuritas, Robertus Hardy

Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham XL Axiata (EXCL) yang Gencar Menyasar Segmen Korporasi

3. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)

PGAS diyakini akan mempertahankan penyebaran distribusi gasnya dalam jangka pendek pada harga US$ 1,7 per mmbtu, mengingat Kementerian ESDM dan SKK MIGAS menegaskan tidak ada kenaikan harga gas untuk pelanggan non-HGBT.

Harga rata-rata minyak mentah apabila masih berada pada US$80,9 per barel, maka masih sejalan dengan proyeksi minyak mentah BRI Danareksa sekitar US$ 80 per barel. Menyusul kenaikan harga minyak mentah baru-baru ini, didukung oleh keputusan Arab Saudi dan Rusia untuk mempertahankan pengurangan pasokan.

Dengan demikian, nilai aset pada PGN SAKA diperkirakan tidak ada penurunan. Selain itu, tidak ada penurunan nilai tambahan pada kontrak Gunvor di paruh kedua 2023 karena PGAS telah mengamankan pasokan untuk pengiriman 2024 ke perusahaan asal Singapura tersebut.

Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 1.800 per saham

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Hasan Barakwan dalam riset 7 September 2023

Baca Juga: BI Mewaspadai Inflasi Karena Dampak El Nino

4. PT Elnusa Tbk (ELSA)

Secara teknikal, pergerakan ELSA masih berada pada fase uptrend dalam jangka pendek dan masih didominasi oleh volume pembelian, namun penguatannya masih tertahan resistance dan MA20. Cermati dari indikator lain, dimana MACD dan Stochastic mulai bergerak menguat.

Rekomendasi: Buy on weakness
Support:
Rp 392 per saham
Resistance: Rp 422 per saham

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×