Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju kinerja harga emas terkoreksi cukup dalam pada September 2026 setelah sempat mencatatkan penguatan tajam pada bulan sebelumnya.
Kendati demikian, penurunan harga instrumen ini dinilai bukan penanda meredupnya pamor safe haven, melainkan peluang buy on weakness bagi investor di tengah ketidakpastian pasar global memasuki kuartal IV-2026.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spot (XAUUSD) mencatatkan penurunan terburuk di sektor komoditas dengan koreksi mencapai 6,58% secara month-on-month (MoM) ke level US$ 4.186,7 per ons troi dari posisi Agustus di US$ 4.481,5 per ons troi.
Baca Juga: EMAS Kucurkan Pinjaman Rp 6,45 Triliun untuk Pacu Ekspansi Tambang Emas Pani
Sejalan dengan pasar global, harga emas batangan Antam di pasar domestik turut terkikis 2,81% MoM menjadi Rp 2.595.000 per gram.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menjelaskan, pemicu utama penurunan tajam harga emas sepanjang September dipicu oleh kombinasi tekanan makroekonomi yang kuat.
Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield) meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) bagi kepemilikan aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Selain itu, ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed akibat kekhawatiran terhadap inflasi harga energi memicu aksi profit-taking masif oleh pelaku pasar setelah reli harga mendekati level tertinggi sebelumnya.
Meski tertekan dalam jangka pendek, Wahyu menegaskan bahwa koreksi harga emas saat ini lebih tepat dipandang sebagai peluang buy on weakness daripada indikasi melemahnya tren jangka panjang sebagai aset safe haven.
Baca Juga: Bisnis KISI Tumbuh, Rekening Saham Naik 49% dan Transaksi Obligasi Melonjak 128%
"Secara struktural, fungsi emas sebagai pelindung nilai terhadap ketidakpastian geopolitik global dan risiko sistemik jangka panjang tetap solid, sehingga koreksi sehat ini dimanfaatkan oleh pelaku pasar institusional untuk melakukan akumulasi bertahap sebelum harga kembali memasuki fase pemulihan," ujar Wahyu.
Ia menambahkan bahwa indikator utama ketahanan fundamental ini terlihat dari langkah bank sentral utama dunia seperti China, India, dan Eropa yang terus menambah akumulasi cadangan emasnya.
Di luar emas, prospek komoditas energi seperti minyak mentah (WTI) dan minyak kelapa sawit (CPO) juga patut dicermati menyongsong kuartal IV-2026.
Minyak mentah diproyeksikan menunjukkan ketahanan terhadap ancaman gangguan rantai pasok global dan tensi geopolitik di Timur Tengah, mulai dari krisis Selat Hormuz hingga penutupan Selat Bab el Mandeb.
Baca Juga: Rupiah Nyaris Tembus Rp 18.000 per Dolar AS pada Kamis (1/10), Cek Sentimen Pemicunya
Sementara itu, harga CPO yang kini bergerak volatil di level 4.600 MYR/ton berpeluang terdorong oleh melonjaknya harga diesel global serta kebijakan energi terbarukan.
Dari sisi analisis teknikal untuk kuartal IV-2026, Wahyu memetakan pergerakan harga emas akan berkonsolidasi di kisaran support US$ 3.900–US$ 3.600 per ons troi dan area resistance US$ 4.400–US$ 5.000 per ons troi.
Sementara untuk komoditas minyak mentah WTI, level support berada di kisaran US$ 78–US$ 60 per barel dengan potensi menguji batas resistance US$ 92 hingga US$ 105 per barel apabila eskalasi konflik energi memanas.
"CPO bergerak dinamis di sekitar level 4.600 MYR/T, dengan pergerakan di kuartal IV sangat dipengaruhi oleh keseimbangan pasokan domestik produsen utama, kebijakan ekspor, serta permintaan global untuk sektor pangan maupun energi terbarukan," kata Wahyu.
Untuk CPO, rentang support berada di level 4.400–4.000 MYR/ton dan menargetkan batas resistance pada kisaran 4.800–5.200 MYR/ton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














