kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

IHSG Anjlok 6,96% di September 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis


Kamis, 01 Oktober 2026 / 17:11 WIB
IHSG Anjlok 6,96% di September 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Pergerakan IHSG (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi cukup dalam pada September 2026 akibat akumulasi tekanan makroekonomi global dan teknikal domestik. 

Meski pasar saham tertekan, pelemahan harga saat ini membuka momentum bagi investor untuk melakukan aksi beli di harga rendah (bottom fishing) pada sejumlah saham berprospek cerah menjelang akhir tahun 2026.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG mencatatkan penurunan bulanan terburuk di antara instrumen pasar modal dengan koreksi sebesar 6,96% secara month on month (MoM) dari posisi Agustus di level 6.525,47 ke posisi 6.071,13 pada akhir September. 

Penurunan ini memperlebar akumulasi koreksi IHSG secara tahunan (YtD) hingga mencapai 29,79%.

Baca Juga: IHSG Tertekan Sentimen Global, Cermati Proyeksi dan Saham Rekomendasi Analis

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengungkapkan bahwa pemicu utama kejatuhan IHSG bersumber dari ranah global, terutama keputusan The Fed menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 bps menjadi 3,75%–4,00% pada pertengahan September.

Kebijakan moneter ketat AS memicu lonjakan yield US Treasury 10 tahun hingga melampaui 5% dan memperkuat dolar AS, sehingga mengikis daya tarik aset pasar berkembang (emerging markets).

Risiko inflasi global pun kian memuncak menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak mentah jenis Brent ke level US$ 100 per barel.

Tekanan global tersebut langsung mentransmisikan dampak negatif ke pasar domestik. Nilai tukar rupiah bergerak melemah hingga menembus Rp 18.000 per dolar AS, sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun naik ke kisaran 7,2%.

Baca Juga: ULTJ, KOTA, MGLV Gelar Rights Issue, Cermati Proyeksi dan Rekomendasi Analis

Kondisi ini memicu aksi lepas portofolio secara masif oleh investor asing (foreign outflow).

Nafan mencatat aksi jual bersih asing mencapai Rp 3,36 triliun pada pekan 7–11 September dan berlanjut sekitar Rp 1,84 triliun pada pekan berikutnya dengan sasaran utama saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BBCA dan BMRI.

 

Senada, Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana menambahkan bahwa total net sell investor asing di pasar saham berkisar antara Rp 7,2 triliun hingga Rp 10,2 triliun sepanjang September.

Tekanan likuiditas kian diperberat oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan.

Baca Juga: Saham Lapis Dua Dinilai Tahan Koreksi, Ini Sektor dan Saham Pilihan Analis

Dari sisi internal, faktor profit taking pasca reli Agustus, fenomena musiman September Effect, serta volatilitas menyangkut implementasi kebijakan batas harga terendah Rp 1 di bursa turut memperkuat laju koreksi.

Kendati IHSG tertekan hebat, penurunan harga yang terjadi dinilai menciptakan ruang akumulasi bagi investor.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×