kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.723.000   -27.000   -0,98%
  • USD/IDR 17.771   30,00   0,17%
  • IDX 6.522   116,06   1,81%
  • KOMPAS100 849   15,70   1,88%
  • LQ45 641   8,52   1,35%
  • ISSI 230   4,91   2,18%
  • IDX30 358   4,21   1,19%
  • IDXHIDIV20 437   4,93   1,14%
  • IDX80 97   1,66   1,75%
  • IDXV30 122   1,89   1,57%
  • IDXQ30 114   1,08   0,96%

Harga CPO Berpotensi Pulih, Simak Rekomendasi Saham Emiten Sawit


Kamis, 27 Agustus 2026 / 17:54 WIB
Harga CPO Berpotensi Pulih, Simak Rekomendasi Saham Emiten Sawit
ILUSTRASI. Harga TBS sawit periode Agustus di Sulbar (ANTARA FOTO/AKBAR TADO)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten kelapa sawit pada Semester II-2026 masih positif seiring potensi pemulihan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Implementasi kebijakan biodiesel B50 dan ancaman El Nino berpotensi menopang harga CPO hingga akhir tahun.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, implementasi B50 berpotensi menjadi katalis positif bagi harga CPO karena meningkatkan penyerapan di pasar domestik dan mengurangi ruang ekspor.

"Implementasi B50 berpotensi menjadi katalis positif bagi harga CPO karena meningkatkan penyerapan domestik dan mengurangi ruang ekspor," ujarnya kepada Kontan, Kamis (27/8/2026).

Baca Juga: Emiten CPO Catat Kinerja Positif, Cermati Saham Rekomendasi Analis

Di sisi lain, Azis menilai fenomena El Nino juga berpotensi memperketat pasokan CPO apabila berdampak terhadap produktivitas perkebunan. Namun, dampaknya terhadap harga CPO akan bergantung pada intensitas El Nino dan realisasi implementasi B50.

Menurut Azis, kenaikan harga CPO berpeluang memperbaiki margin dan laba emiten sawit, terutama bagi produsen yang memiliki eksposur besar terhadap penjualan CPO dan mampu menjaga biaya produksi.

"Kenaikan harga CPO berpotensi memperbaiki margin dan laba emiten, terutama bagi produsen dengan eksposur besar pada penjualan CPO dan biaya produksi yang relatif terkendali," katanya.

Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan biaya pupuk, tenaga kerja, serta potensi kenaikan biaya produksi. Jika harga CPO mampu bertahan pada level tinggi sepanjang Semester II-2026, peluang peningkatan proyeksi laba atau earnings upgrade dinilai masih terbuka.

Azis menambahkan, seluruh emiten CPO berpotensi memperoleh manfaat dari kenaikan harga komoditas dan sentimen B50. Namun, ia melihat PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) masih memiliki prospek yang menarik.

Baca Juga: Prospek Saham Triputra Agro (TAPG) Masih Menarik Meski Harga CPO Bergejolak

"Semua emiten CPO ini masih akan bisa diuntungkan dari dua-duanya dan masih berpotensi meningkatkan earnings," ujarnya.

Untuk DSNG, Azis memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp1.695 per saham.

Sementara itu, analis PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Halima Yefany dan Aurelia Barus mempertahankan pandangan overweight terhadap sektor sawit.

Keduanya memperkirakan prospek harga CPO mulai membaik pada Semester II-2026, meski proyeksi harga tahun ini direvisi lebih rendah.

Dalam risetnya, IPOT mencatat laba bersih inti atau core net profit gabungan emiten sawit yang menjadi cakupan riset mencapai Rp5 triliun pada Semester I-2026, tumbuh 11% secara tahunan.

Capaian tersebut sejalan dengan estimasi IPOT, tetapi lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar.

"Pada Semester I-2026, laba bersih inti gabungan mencapai Rp5 triliun, tumbuh 11% secara tahunan, dengan AALI menjadi pendorong utama kinerja," tulis Halima dan Aurelia dalam risetnya.

Keduanya memperkirakan harga CPO dapat pulih sekitar 6% secara semesteran menjadi Rp16 juta per ton pada Semester II-2026. Pemulihan tersebut ditopang implementasi B50 dan peningkatan permintaan dari India menjelang musim perayaan.

Namun, IPOT memangkas proyeksi harga CPO 2026 sebesar 5% menjadi Rp15,6 juta per ton.

Penyesuaian tersebut mempertimbangkan harga CPO pada kuartal II-2026 yang lebih rendah dari perkiraan, pelebaran diskon harga CPO Indonesia terhadap Malaysia, serta tingginya persediaan CPO Malaysia hingga Juli 2026.

Baca Juga: B50 Resmi Meluncur, Simak Prospek Kinerja dan Rekomendasi Saham Emiten CPO

"Kami memperkirakan harga CPO akan pulih pada Semester II-2026, didukung implementasi B50 dan permintaan India yang lebih kuat menjelang musim perayaan," jelasnya.

Di sisi lain, IPOT menaikkan proyeksi harga minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO) sebesar 2%-7%. Hal ini seiring potensi El Nino yang kuat dapat memperketat pasokan minyak kelapa sehingga menjaga premi harga PKO terhadap CPO.

Secara keseluruhan, IPOT memangkas proyeksi laba bersih inti emiten sawit sebesar 1%-3% untuk 2026-2028. Penyesuaian terbesar dilakukan terhadap PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

Meski begitu, IPOT tetap mempertahankan pandangan overweight terhadap sektor sawit. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) menjadi pilihan utama karena didukung prospek dividen yang stabil dan operasional yang dinilai tangguh.

Baca Juga: Harga TBS Sawit Naik 10%, Emiten CPO Hadapi Tekanan Biaya Produksi

IPOT juga menaikkan rekomendasi AALI menjadi buy dari sebelumnya hold, setelah harga saham terkoreksi. Perbaikan strategi bisnis dan prospek rasio pembagian dividen atau dividend payout ratio (DPR) menjadi pertimbangan utama.

Risiko utama yang perlu dicermati investor antara lain perubahan produksi CPO serta kuat atau lemahnya permintaan dari India.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×