kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.924   11,92   0,20%
  • KOMPAS100 771   1,79   0,23%
  • LQ45 589   1,88   0,32%
  • ISSI 204   0,51   0,25%
  • IDX30 334   0,92   0,28%
  • IDXHIDIV20 413   1,96   0,48%
  • IDX80 88   0,34   0,39%
  • IDXV30 112   1,14   1,02%
  • IDXQ30 107   0,13   0,12%

B50 Resmi Meluncur, Simak Prospek Kinerja dan Rekomendasi Saham Emiten CPO


Minggu, 12 Juli 2026 / 19:12 WIB
B50 Resmi Meluncur, Simak Prospek Kinerja dan Rekomendasi Saham Emiten CPO
ILUSTRASI. Perkebunan sawit PT Astra Agro Lestari Tbk (KONTAN/Nur Qolbi)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program B50 yang secara resmi diluncurkan awal Juli 2026 ini diproyeksikan bisa menjadi sentimen positif terhadap kinerja emiten sawit. Namun, sejumlah tantangan masih menyelimuti laju kinerja para emiten CPO ke depan.

Asal tahu saja, Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan program mandatori biodiesel B50 pada Kamis (9/7/2026) kemarin. 

Penerapan B50 diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 mengenai kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 50% ke dalam minyak solar. 

Melalui kebijakan tersebut, seluruh badan usaha bahan bakar nabati (BBN), badan usaha bahan bakar minyak (BBM), dan badan usaha penyalur wajib menerapkan pencampuran biodiesel 50% sesuai standar mutu yang telah ditetapkan pemerintah. 

Bagi badan usaha yang tidak memenuhi kewajiban pencampuran maupun penyaluran B50, pemerintah dapat menjatuhkan sanksi administratif berupa teguran tertulis, penghentian sementara kegiatan, hingga pencabutan izin usaha sesuai ketentuan yang berlaku. 

Untuk mendukung transisi menuju B50, pemerintah memberikan masa penyesuaian hingga 30 September 2026 bagi badan usaha BBM untuk menghabiskan stok biodiesel B40. Pelaksanaan kebijakan ini juga akan dievaluasi oleh Kementerian ESDM setiap tiga bulan.

Baca Juga: Mandatori B50 Jadi Katalis Emiten CPO, Analis Soroti Potensi Kinerja dan Risiko

Selain itu, implementasi B50 diproyeksikan meningkatkan nilai tambah crude palm oil (CPO) dari Rp20,92 triliun menjadi sekitar Rp23,49 triliun.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty melihat, implementasi B50 diperkirakan meningkatkan konsumsi domestik CPO sekitar 1-2 juta ton per tahun, sehingga memperketat pasokan ekspor dan menjaga harga CPO tetap tinggi. 

Kondisi ini berpotensi meningkatkan permintaan dan mempertahankan ASP, meskipun besarnya kenaikan harga tetap dipengaruhi kondisi produksi global dan harga minyak nabati lain.

Emiten yang paling diuntungkan adalah perusahaan dengan volume produksi besar dan biaya produksi rendah.

“Seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) karena memiliki eksposur terbesar terhadap kenaikan harga CPO,” katanya kepada Kontan, Jumat (10/7/2026).

Direktur PT Purwanto Asset Management Edwin Sebayang melihat, program B50 merupakan salah satu katalis struktural paling positif bagi industri sawit Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Program ini memberikan sejumlah katalis positif, seperti peningkatan permintaan domestik, penguatan harga CPO, serta penguatan hilirisasi.

Dengan meningkatnya konsumsi dalam negeri, maka stok CPO nasional menjadi lebih terkendali, tekanan oversupply berkurang, dan harga CPO menjadi lebih stabil.

Walaupun B50 bukan satu-satunya faktor penentu harga, tetapi kebijakan ini dapat menjadi penyangga ketika permintaan global sedang melemah.

“Sejumlah perusahaan yang memiliki fasilitas refinery maupun biodiesel juga akan memperoleh manfaat lebih besar dibanding perusahaan yang hanya menjual CPO mentah,” katanya kepada Kontan, Minggu (12/7/2026).

Baca Juga: Pilihan Emiten CPO yang Menuai Berkah dari Implementasi B50

Menurut Edwin, emiten yang paling diuntungkan dari program B50 ini adalah SMAR, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT), dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).

Untuk SMAR, katalisnya berasal dari integrasi dari hulu sampai hilir, kapasitas refinery besar, dan eksposur biodiesel cukup tinggi.

Sedangkan DSNG, ANJT, dan SSMS punya tanaman dengan usia relatif muda, sehingga memiliki tingkat produktivitas yang tinggi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menambahkan, kebutuhan CPO domestik bisa meningkat di atas 15 juta ton setelah implementasi B50. Perkiraannya, bisa ada di kisaran 16 juta - 17 juta ton.

“SIMP, TAPG, AALI, SSMS kemungkinan akan diuntungkan dari implementasi program ini,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (12/7/2026).

Untuk kuartal II 2026, kinerja emiten CPO diperkirakan akan membaik dibandingkan kuartal I. Hal itu dipengaruhi oleh harga CPO global yang meningkat, sehingga memperkuat harga jual rerata alias average selling price (ASP) emiten.

Namun, masih ada potensi perlambatan permintaan dari negara importir utama yang menyebabkan penurunan harga CPO. Selain itu, masalah regulasi EUDR juga bisa menjadi sentimen negatif bagi para emiten ke depan.

Nafan pun belum memberikan rekomendasi untuk saham emiten CPO.

Edwin melihat, prospek sektor CPO hingga akhir 2026 masih positif, tetapi laju pertumbuhannya kemungkinan tidak akan sekuat fase lonjakan yang terjadi ketika harga CPO mengalami rally ekstrem.

Beberapa katalis positif masih cukup kuat, seperti implementasi B50, produksi biodiesel meningkat, stok domestik lebih rendah, permintaan India diperkirakan tetap solid, permintaan China mulai membaik seiring pemulihan ekonomi, serta produksi Indonesia dan Malaysia diperkirakan tidak mengalami lonjakan yang terlalu besar.

Namun, masih ada sejumlah risiko yang masih membayangi kinerja emiten di sektor ini. Yaitu, penurunan harga minyak mentah dunia dapat mengurangi daya tarik biodiesel, pelemahan ekonomi global dapat menekan konsumsi minyak nabati.

Lalu, cuaca yang sangat baik justru dapat meningkatkan produksi secara signifikan sehingga menekan harga CPO, serta kebijakan ekspor negara produsen maupun perubahan tarif di negara tujuan juga dapat memengaruhi harga.

Emiten sawit yang berpotensi jadi jawara di tahun ini adalah perusahaan yang produksinya bertumbuh, biaya produksi rendah, neraca sehat, fokus hilirisasi, dan punya valuasi saham yang masih menarik.

Baca Juga: Menilik Kinerja Emiten Sawit Kala Harga CPO Terus Menguat dan Rekomendasi Analis

“DSNG, SMAR, dan SSMS cukup menarik. Sementara, AALI layak dipertimbangkan karena memiliki neraca yang kuat dan tata kelola yang baik,” katanya.

Arinda berpandangan, kinerja emiten CPO pada kuartal II 2026 juga berpotensi lebih baik dibandingkan kuartal I. 

Pendorong utamanya adalah ASP CPO yang tetap tinggi, normalisasi produksi setelah periode musiman awal tahun, serta pelemahan persediaan global yang menopang harga. 

Kinerja emiten CPO juga diproyeksikan masih bisa bertumbuh pada semester II-2026. Meskipun begitu, laju pertumbuhannya kemungkinan tidak sekuat semester I lantaran harga CPO sudah berada di level tinggi dan terdapat risiko peningkatan produksi musiman pada paruh kedua tahun. 

Namun, dukungan dari program B50, permintaan domestik yang meningkat, serta pertumbuhan produksi yang relatif terbatas diperkirakan tetap menjaga profitabilitas emiten. 

“Emiten dengan kebun matang, produktivitas tinggi, dan neraca yang kuat seperti Triputra Agro Persada, Astra Agro Lestari, serta Sinar Mas Agro Resources and Technology berpeluang menjadi outperformer sepanjang 2026,” ungkapnya.

Arinda pun merekomendasikan beli untuk TAPG dan AALI dengan target harga masing-masing Rp 1.900 per saham dan Rp 8.000 per saham.

Baca Juga: Permintaan CPO Masih Tinggi, Emiten Sawit Diproyeksi Prospektif pada 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×