Reporter: Vivit Dewi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sukuk Ritel seri SR025 menawarkan imbal hasil yang cukup kompetitif di tengah tren kenaikan yield. Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko selama periode investasi, terutama potensi kenaikan inflasi dan yield ke depan.
Selama sepekan, transaksi di mitra distribusi Bibit hingga Kamis (27/8/2026), SR025-T3 telah terjual sekitar 17,2% atau Rp 2,58 triliun dari kuota Rp 15 triliun. Sementara itu, SR025-T5 telah terserap sekitar 13,6% atau Rp 680 miliar dari kuota Rp 5 triliun.
Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengatakan, terdapat dua risiko utama yang perlu diperhatikan investor sebelum membeli SR025.
Baca Juga: Sepekan Ditawarkan, Bareksa Optimistis Penjualan SR025 Capai Rp 30 Triliun
Pertama, risiko kenaikan inflasi karena Godzilla El Nino serta krisis minyak akibat perang AS-Iran.
Kedua, risiko kenaikan yield ke depan oleh bank sentral sebagai kebijakan pro-stabilisasi jika kurs Rupiah tertekan kembali.
Menurut David, tekanan inflasi dapat menjadi perhatian apabila gangguan pasokan energi dan kondisi cuaca ekstrem mendorong kenaikan harga. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi melalui biaya energi.
Di sisi lain, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dapat memengaruhi arah kebijakan moneter. Jika tekanan terhadap rupiah kembali meningkat, bank sentral berpotensi mengambil kebijakan yang lebih pro-stabilisasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mendorong kenaikan yield di pasar surat utang.
Meski demikian, David menyebut tingkat imbal hasil yang ditawarkan SR025 masih cukup kompetitif.
Baca Juga: Ekspor Gandum Ukraina Anjlok 60% akibat Pelabuhan Laut Hitam Terblokir
"Yield dari SR025 lumayan kompetitif (6,8% untuk 3 tahun & 6,9% untuk 5 tahun) di tengah tren kenaikan yield," ujar David kepada Kontan, Kamis (27/8/2026)..
Selain tingkat imbal hasil, karakteristik SR025 sebagai instrumen syariah juga dinilai dapat menjadi nilai tambah bagi sebagian investor.
Adapun dari sisi permintaan, David mengatakan, penjualan SR025 pada pekan pertama cenderung sedikit berada di bawah target berdasarkan proporsi waktu penawaran.
Pasalnya, masa penawaran telah berjalan satu pekan dari total empat pekan atau sekitar 25% dari keseluruhan periode penawaran, sementara kuota yang terserap masih berada di bawah proporsi tersebut.
"Meski data pada sepekan terakhir berada di bawah target secara rata-rata, masih terlalu dini untuk menentukan apakah penjualan SR025 akan berada di bawah target," kata David.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp 27.000, Begini Strategi Investasi yang Disarankan
Menurut dia, permintaan SR025 masih berpeluang meningkat menjelang akhir bulan seiring pencairan gaji pegawai bulanan yang dapat mendorong minat masyarakat untuk berinvestasi.
David juga melihat minat investor terhadap SR025 sejauh ini cenderung stabil dibandingkan seri sebelumnya, SR024, yang mencatat penjualan sekitar Rp 17,5 triliun selama enam pekan masa penawaran.
Dengan demikian, perkembangan inflasi, nilai tukar rupiah, serta arah yield menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan investor selama masa penawaran maupun setelah SR025 masuk ke periode investasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














