kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

Harga Bahan Baku Naik, Begini Prospek Saham Emiten Plastik hingga Akhir 2026


Kamis, 01 Oktober 2026 / 16:55 WIB
Harga Bahan Baku Naik, Begini Prospek Saham Emiten Plastik hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Kinerja emiten plastik hilir masih menghadapi sejumlah tantangan hingga penghujung 2026. Salah satunya terkait tekanan harga bahan baku, (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten plastik hilir masih menghadapi sejumlah tantangan hingga penghujung 2026. Tekanan harga bahan baku, gangguan pasokan naphtha, pelemahan daya beli masyarakat, suku bunga yang tinggi, hingga persaingan dengan produk asal China berpotensi membatasi ruang pertumbuhan margin perusahaan.

Sejumlah emiten plastik seperti PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP), PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI), PT Asiaplast Industries Tbk (APLI), dan PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) sebelumnya mencatat kenaikan beban pokok penjualan atau COGS sekitar 12% hingga 52% pada semester I-2026.

Di tengah kenaikan biaya tersebut, utang bank jangka pendek sejumlah emiten juga mengalami pertumbuhan double-digit. Kondisi ini membuat kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya dan menjaga struktur neraca menjadi faktor penting dalam mempertahankan profitabilitas.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, kenaikan COGS menjadi salah satu tekanan utama bagi industri plastik karena bahan baku memiliki porsi besar dalam struktur biaya produksi.

Baca Juga: Nilai Tukar AUD/IDR Melonjak 12,59% pada September 2026, Intip Pemicu Utamanya

"Kalau kenaikan biaya ini tidak bisa diteruskan ke harga jual, gross margin dan laba berpotensi kembali tertekan sampai akhir 2026," kata Elandry kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).

Meski menghadapi tantangan serupa, dampak kenaikan biaya diperkirakan tidak akan dirasakan secara merata oleh seluruh emiten plastik. Elandry menilai PBID memiliki kemampuan yang relatif baik dalam menyerap kenaikan biaya sekaligus mempertahankan kondisi neraca.

Pada semester I-2026, PBID membukukan laba bersih Rp410,5 miliar atau tumbuh 112,1% secara tahunan. Perseroan juga mencatat net margin sebesar 13,1%, sedangkan rasio debt to equity berada di level 0,07 kali.

"PBID misalnya masih mampu mencatat net profit Rp410,5 miliar pada 6M26, naik 112,1% YoY, dengan net margin 13,1% dan debt/equity hanya 0,07x. Ini menunjukkan kemampuan menyerap tekanan biaya dan menjaga balance sheet masih relatif baik," ujarnya.

Menurut Elandry, potensi relaksasi bea masuk bahan baku menjadi 0% juga dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung pemulihan margin industri plastik.

Industri plastik hilir masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor. Pemerintah sebelumnya menyampaikan rencana pemberlakuan tarif 0% untuk sejumlah bahan baku, antara lain polypropylene, polyethylene, LLDPE, dan HDPE selama enam bulan.

Baca Juga: Laba Bersih Dian Swastatika (DSSA) Naik Hampir 80% di Semester I-2026, Cek Prospeknya

Apabila kebijakan tersebut terealisasi, penurunan beban bea masuk dapat berdampak langsung terhadap landed cost bahan baku sehingga memberikan ruang bagi perusahaan untuk memperbaiki margin. Meski demikian, pemulihan margin tidak hanya ditentukan oleh kebijakan tersebut.

"Harga minyak, resin, kurs, demand domestik dan kemampuan perusahaan meneruskan kenaikan biaya ke konsumen tetap menentukan," jelas Elandry.

Dari sisi neraca, Elandry melihat terdapat perbedaan kemampuan antar emiten dalam menghadapi volatilitas biaya produksi sekaligus kenaikan beban bunga.

Selain PBID, PDPP masih membukukan perbaikan kinerja dengan laba semester I-2026 sebesar Rp46,4 miliar. Namun, rasio debt to equity PDPP tercatat sekitar 0,51 kali.

Sementara itu, AKPI mencatat turnaround dengan membukukan laba sebesar Rp66,2 miliar. Di sisi lain, leverage AKPI relatif lebih tinggi dengan debt to equity sebesar 0,81 kali dan beban bunga mencapai Rp39,8 miliar.

"Jadi dari sisi balance sheet, kemampuan menghadapi kenaikan interest cost dan volatility biaya menjadi pembeda penting," katanya.

Prospek Emiten Plastik hingga Akhir 2026

Hingga akhir 2026, Elandry melihat prospek industri plastik masih mixed. Perbaikan kinerja berpotensi terjadi apabila harga bahan baku menjadi lebih stabil, kebijakan bea masuk 0% terealisasi, serta permintaan domestik mulai menunjukkan pemulihan.

Namun, kondisi oversupply dan persaingan produk China masih menjadi risiko bagi industri. Situasi tersebut membuat pemulihan margin berpotensi berbeda antara satu emiten dengan emiten lainnya.

Baca Juga: Garuda Indonesia Siapkan Rights Issue 124,35 Miliar Saham, Ini Penggunaannya

Pergerakan harga resin, realisasi kebijakan pemerintah, serta pemulihan daya beli masyarakat menjadi tiga faktor yang akan menentukan kinerja sektor plastik hingga akhir tahun.

"Kalau ketiganya membaik, earnings recovery bisa lebih terlihat di semester II," ujar Elandry.

Untuk pilihan saham, Elandry melihat PBID sebagai emiten dengan fundamental yang relatif defensif di antara kelompok yang dibahas. Hal tersebut ditopang oleh profitabilitas dan kondisi neraca yang dinilai lebih kuat dibandingkan sejumlah peer.

PDPP juga menarik dicermati karena mencatat pertumbuhan laba yang cukup signifikan. Sementara itu, AKPI memiliki cerita turnaround, tetapi dengan leverage yang lebih tinggi. Adapun APLI dan ASPR masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut dari sisi konsistensi profitabilitas.

Untuk target price terbaru, Elandry belum memberikan angka baru karena belum memiliki basis valuasi terbaru yang dapat diverifikasi. Sebagai gambaran, per kuartal II-2026, PBID diperdagangkan sekitar PER 9,9 kali dan PBV 1,37 kali. Sementara itu, PDPP berada di sekitar PER 19,4 kali dan PBV 1,88 kali.

"Jadi ruang re-rating tetap sangat tergantung pada sustainability earnings dan recovery margin di semester II," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×