Reporter: Vivit Dewi | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emas dan aset kripto sama-sama mencatatkan kinerja positif sepanjang Agustus 2026.
Namun, laju penguatan keduanya berbeda. Bitcoin dan Ethereum melesat lebih tinggi dalam sebulan, sementara emas masih mencatatkan kinerja yang lebih baik sejak awal tahun.
Berdasarkan data CoinMarketCap, harga Bitcoin berada di level US$ 78.074 pada akhir Agustus 2026, atau naik 22,33% secara month-on-month (MoM). Ethereum juga menguat 20,84% menjadi US$ 2.470,3.
Baca Juga: BEI Kembangkan Akses Saham Global bagi Investor RI Lewat Alpaca
Meski demikian, secara year to date (YTD), kinerja kedua aset kripto tersebut masih berada di zona negatif. Bitcoin tercatat terkoreksi 11,71%, sedangkan Ethereum turun 16,84%.
Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, harga emas spot ditutup di level US$ 4.481,5 per ons troi pada akhir Agustus 2026. Harga emas naik 8,79% secara bulanan dan telah mencatatkan kenaikan 1,69% secara YTD.
Analis Reku, Andri Fauzan mengatakan, pemulihan pasar kripto pada Agustus ditopang oleh sejumlah katalis, baik dari sisi kebijakan pemerintah Amerika Serikat (AS) maupun derasnya aliran dana ke produk investasi kripto.
"Pengumuman Treasury AS yang memperbesar buyback obligasi jangka panjang (minimal US$ 4 miliar per operasi) menjadi pemicu awal, diinterpretasikan sebagai sinyal likuiditas dan memperkuat 'debasement trade' di tengah utang AS yang sudah di atas US$ 40 triliun," kata Andri kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).
Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Catat Volume Transaksi 647,5 Juta Kendaraan per Semester I 2026
Selain itu, dorongan Presiden AS Donald Trump terhadap Clarity Act dalam Crypto Summit di Gedung Putih, arus dana ETF spot yang kembali deras terutama pada minggu ketiga dan keempat Agustus, serta aksi short squeeze besar-besaran turut mempercepat penguatan pasar kripto.
Rangkaian katalis tersebut mendorong Bitcoin naik sekitar 22%-25% dari level terendahnya pada Agustus. Ethereum bahkan mencatatkan penguatan lebih tinggi, yang menunjukkan adanya rotasi modal ke aset kripto dengan tingkat risiko lebih besar.
Di pasar emas, penguatan sepanjang Agustus berlangsung dengan katalis yang berbeda.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan mengatakan, kenaikan emas merupakan bagian dari pemulihan setelah harga logam mulia tersebut sempat mengalami tekanan pada pertengahan tahun.
"Menurut saya, kenaikan emas 8,79% sepanjang Agustus merupakan fase pemulihan setelah tekanan cukup dalam pada pertengahan tahun. Penguatan tersebut didorong oleh kombinasi permintaan safe haven, pelemahan dolar pada sebagian periode, penurunan yield Treasury, serta pembelian emas oleh bank sentral," kata Brahmantya.
Baca Juga: Trisula (TRIS) Bagikan Dividen Interim Rp 7,01 Miliar, Berikut Proyeksi Yield-nya
Perbedaan karakteristik tersebut membuat emas dan kripto memiliki fungsi yang berbeda dalam portofolio investasi.
Brahmantya menilai emas lebih sesuai digunakan sebagai penyimpan nilai dan instrumen diversifikasi, sedangkan kripto menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dengan konsekuensi risiko yang juga lebih besar.
"Emas fisik Antam menurut saya lebih cocok sebagai penyimpan nilai dan investasi jangka panjang karena tidak perlu terlalu memperhatikan volatilitas harian. Sementara kripto lebih agresif. Potensi return-nya lebih besar, tetapi risikonya juga jauh lebih tinggi," ujarnya.
Sementara itu, Andri masih melihat Bitcoin sebagai pilihan utama di antara aset kripto. Ethereum dinilai lebih menarik sebagai pelengkap bagi investor yang ingin mengambil peluang dari potensi kinerja relatif yang lebih tinggi.
"Untuk saat ini saya masih melihat Bitcoin lebih prospektif sebagai aset inti karena status store-of-value dan arus institusional yang lebih stabil, sementara Ethereum menarik untuk porsi satellite jika ingin mengejar potensi outperform relatif," kata Andri.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Bergerak di Rp 17.700-Rp 17.850 pada Rabu (2/9), Cek Sentimennya
Untuk prospek hingga akhir 2026, Andri memperkirakan Bitcoin akan berada di kisaran US$ 90.000-US$ 110.000 dalam skenario dasar.
Dalam skenario optimistis, Bitcoin berpeluang mencapai US$ 120.000. Sementara itu, apabila terjadi koreksi, harga Bitcoin diperkirakan berada di kisaran US$ 70.000-US$ 80.000.
Untuk Ethereum, Andri memperkirakan harga berada di kisaran US$ 3.000-US$ 3.800 dalam skenario dasar. Jika rotasi ke altcoin berlanjut, Ethereum berpeluang mencapai US$ 4.200-US$ 4.500. Adapun area US$ 2.200-US$ 2.400 menjadi support penting.
Di sisi lain, Brahmantya masih melihat harga emas berpotensi melanjutkan penguatan hingga akhir 2026, meski peluang koreksi dalam jangka pendek tetap terbuka.
Ia memperkirakan area US$ 4.300-US$ 3.900 per ons troi menjadi zona support apabila tekanan berlanjut. Jika area tersebut mampu bertahan, harga emas berpeluang rebound menuju US$ 4.800-US$ 5.000 per ons troi.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi di Kisaran 6.450-6.600 pada September, Cek Strategi untuk Investor
Dengan kinerja sepanjang Agustus tersebut, aset kripto menunjukkan momentum penguatan yang lebih kuat dibandingkan emas dalam jangka pendek. Namun, emas masih menawarkan kinerja yang lebih stabil secara tahunan.
Perbedaan karakter tersebut membuat emas dan kripto memiliki fungsi yang berbeda dalam portofolio. Pilihan antara keduanya pada akhirnya bergantung pada tujuan investasi, horizon waktu, serta toleransi risiko masing-masing investor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














