Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Jasa Marga Tbk (JSMR) diproyeksi masih prospektif pasca mencetak kenaikan laba bersih sepanjang paruh pertama tahun 2026.
Melansir laporan keuangannya, pendapatan JSMR di semester I 2026 tercatat sebesar Rp 13,11 triliun. Ini sebenarnya turun 6% dari Rp 13,94 triliun di semester I 2025.
Secara rinci, pendapatan tersebut mayoritas ditopang pendapatan tol sebesar Rp 9,5 triliun. Lalu, pendapatan konstruksi menyumbang Rp 2,8 triliun dan pendapatan usaha lainnya Rp798,23 miliar.
Baca Juga: B50 Menopang Harga, Kinerja Dharma Satya (DSNG) Bergantung Efisiensi dan Operasional
Namun, beban pokok pendapatan sebesar Rp 7 triliun per semester I 2026, turun dari Rp 8,31 triliun di periode sama tahun lalu.
Laba bruto pun menjadi Rp 6,1 triliun di akhir Juni 2026, naik 8,41% YoY dari Rp 5,63 triliun.
Direktur Utama JSMR, Rivan A Purwantono mengatakan, EBITDA perseroan mencapai Rp7,0 triliun, meningkat 8,1% dibanding periode yang sama tahun lalu dengan margin EBITDA yang tetap terjaga di level 67,8%.
“Capaian EBITDA ini memperkuat kapasitas perseroan dalam menghasilkan arus kas yang solid untuk memenuhi kewajiban finansial, sekaligus mendukung agenda investasi dan ekspansi usaha secara berkelanjutan,” katanya.
JSMR pun mengantongi laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih sebesar Rp 1,91 triliun per akhir Juni 2026, naik 2,01% YoY.
“Pencapaian JSMR pada semester I 2026 merupakan cerminan dari kepercayaan pengguna jalan tol dan kemampuan perseroan dalam menjaga pertumbuhan usaha sekaligus memperkuat fundamental bisnis secara berkelanjutan,” paparnya.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas melihat, pertumbuhan pendapatan tol ditopang oleh penyesuaian tarif tol dan Jasamarga Jogja–Solo (JMJ) seksi 1.2A yang membukukan pertumbuhan pendapatan 58% secara tahunan alias year on year (YoY).
Baca Juga: BEI Kembangkan Akses Saham Global bagi Investor RI Lewat Alpaca
Kenaikan trafik dan tarif tol, diikuti pertumbuhan cash expenses yang lebih rendah dari pendapatan, sehingga mendorong operating leverage dan memperbaiki EBITDA margin 28 basis poin (bps) YoY menjadi 67,78%.
“Peningkatan laba bersih menunjukkan kemampuan JSMR memonetisasi kenaikan tarif sekaligus mempertahankan margin,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).
Ester Mulyani, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori melihat, total pendapatan JSMR memang turun sekitar 6% YoY menjadi Rp 13,11 triliun sepanjang semester I 2026. Namun, penyebab utamanya adalah pendapatan konstruksi yang turun sekitar 35,8% menjadi Rp 2,80 triliun dari sekitar Rp 4,36 triliun.
Sementara itu, bisnis yang justru lebih penting bagi pendapatan berulang JSMR masih tumbuh. Seperti, pendapatan tol naik 6,8% menjadi Rp 9,50 triliun dan pendapatan usaha lainnya naik 17,6% menjadi Rp 798,2 miliar.
Bahkan, jika pendapatan konstruksi dikeluarkan, pendapatan usaha inti JSMR justru tumbuh sekitar 7,6% menjadi Rp 10,3 triliun.
Baca Juga: Trisula (TRIS) Bagikan Dividen Interim Rp 7,01 Miliar, Berikut Proyeksi Yield-nya
Bisnis konstruksi juga dilihat Ester memiliki margin yang sangat tipis. Pada semester I-2026, pendapatan konstruksi sekitar Rp2,80 triliun hampir seluruhnya diimbangi beban konstruksi sekitar Rp2,79 triliun.
Alhasil, ketika aktivitas konstruksi turun, headline revenue memang turun, tetapi dampaknya terhadap laba relatif terbatas. Sebaliknya, porsi pendapatan dari bisnis tol yang marginnya lebih tinggi justru meningkat.
“Itu sebabnya beban pokok pendapatan secara keseluruhan turun sekitar 15,8% menjadi Rp7 triliun dan laba bruto naik 8,4% menjadi Rp 6,11 triliun,” ujarnya kepada Kontan, Selasa.
Dari sisi margin, menurut saya ada perbaikan kualitas pendapatan yang cukup jelas. Gross margin naik menjadi sekitar 46,6% dari sekitar 40% pada periode yang sama tahun lalu. Sementara, net margin juga meningkat menjadi sekitar 14,6% dari sekitar 13,4%.
Untuk bisnis operasi inti, perseroan melaporkan EBITDA sekitar Rp 7 triliun, naik 8,1% YoY dengan EBITDA margin 67,8%.
“Artinya, pertumbuhan laba kali ini lebih banyak ditopang oleh perbaikan revenue mix dan operating leverage, bukan hanya faktor non-operasional,” paparnya.
Prospek kinerja JSMR di semester II 2026 dilihat akan membaik dibandingkan paruh pertama tahun ini.
Sukarno melihat, hal tersebut akan ditopang oleh lanjutan tariff adjustment, pertumbuhan trafik, serta ramp-up ruas Jogja–Solo.
Risiko utama berasal dari leverage, biaya financing, kebutuhan belanja modal alias capital expenditure (capex), dan sensitivitas trafik terhadap kenaikan tarif.
Baca Juga: Penjualan Domestik Mayora (MYOR) Lampaui Target Manajemen, Ini Pendorongnya
Danantara juga berpotensi menjadi katalis tambahan, terutama melalui optimalisasi aset, asset recycling, refinancing, dan efisiensi capital allocation.
“Jika terealisasi, dampaknya dapat mempercepat deleveraging dan menurunkan beban bunga, sehingga membuka peluang rerating valuasi saham,” ujarnya.
Sukarno pun merekomendasikan beli untuk JSMR dengan target harga Rp 3.850 per saham.
Ester melihat, prospek operasional JSMR hingga akhir 2026 cenderung positif, bahkan kinerja semester II berpeluang lebih baik dari sisi bisnis inti. Katalis pertama adalah pertumbuhan trafik yang di semester I sudah menunjukkan kenaikan volume 1,7% YoY.
“Selama aktivitas ekonomi tetap tumbuh, lalu lintas jalan tol relatif defensif,” paparnya.
Katalis kedua adalah penyesuaian tarif tol yang dapat menjaga pertumbuhan pendapatan, meskipun volume kendaraan tumbuh moderat.
Katalis ketiga, JSMR juga mulai mendapat tambahan jaringan baru.
Ester bilang, JSMR memiliki total konsesi sekitar 1.736 km dan telah mengoperasikan sekitar 1.294 km, sementara sejumlah proyek seperti Jakarta-Cikampek II Selatan, Akses Patimban, Yogyakarta-Bawen, Solo-Yogyakarta-YIA dan Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi terus dikembangkan.
Dalam jangka lebih panjang, potensi terbesar Danantara bagi JSMR justru terletak pada optimalisasi portofolio dan asset recycling. Sebab, JSMR memiliki aset konsesi sangat besar dan kebutuhan capex yang tinggi.
Jika aset mature dapat didivestasikan kepada investor infrastruktur dan dana yang diperoleh dialihkan ke proyek dengan internal rate of return (IRR) lebih tinggi atau digunakan untuk deleveraging, neraca keuangan JSMR dapat menjadi lebih sehat.
Namun sampai saat ini memang belum ada pengumuman injeksi kapital baru dari Danantara yang secara langsung ditujukan untuk JSMR.
“Sehingga dampaknya terhadap laba sebaiknya dianggap sebagai katalis jangka menengah, bukan katalis langsung,” paparnya.
Di sisi lain, faktor pemberat terbesar JSMR tetap berada pada struktur utang dan cost of debt. Hingga Juni 2026, total utang bank bruto sekitar Rp73,4 triliun dan ditambah obligasi sekitar Rp 4,6 triliun.
“Beban bunga dan keuangan semester I masih sekitar Rp1,79 triliun, sedikit meningkat dibandingkan Rp1,75 triliun tahun lalu,” paparnya.
Ester pun merekomendasikan buy on breakout di atas Rp 3.000 per saham untuk JSMR dengan target harga terdekat di Rp 3.100 - Rp 3.200 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














