kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.765   12,00   0,07%
  • IDX 6.600   74,46   1,14%
  • KOMPAS100 864   11,98   1,41%
  • LQ45 654   10,59   1,64%
  • ISSI 230   0,99   0,43%
  • IDX30 366   6,01   1,67%
  • IDXHIDIV20 452   8,85   2,00%
  • IDX80 98   1,48   1,52%
  • IDXV30 125   1,21   0,98%
  • IDXQ30 117   2,14   1,86%

IHSG Diproyeksi di Kisaran 6.450-6.600 pada September, Cek Strategi untuk Investor


Selasa, 01 September 2026 / 18:26 WIB
IHSG Diproyeksi di Kisaran 6.450-6.600 pada September, Cek Strategi untuk Investor
ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak konsolidatif sepanjang September 2026. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak konsolidatif sepanjang September 2026. Pelaku pasar masih akan mencermati sentimen global dan dampak rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mulai berlaku pada awal bulan ini.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.450-6.600 sepanjang September.

Menurutnya, apabila IHSG mampu menembus level 6.600 dengan dukungan volume perdagangan yang kuat serta aliran dana asing atau foreign flow yang positif, indeks berpeluang melanjutkan penguatan menuju level 6.700 dalam jangka menengah.

Baca Juga: Penjualan Domestik Mayora (MYOR) Lampaui Target Manajemen, Ini Pendorongnya

Sebaliknya, apabila level support 6.450 ditembus, IHSG berisiko mengalami koreksi lebih lanjut menuju level 6.350.

"September di kisaran 6.450-6.600. Jika tembus 6.600 dengan volume kuat dan foreign flow positif, berpeluang lanjut ke 6.700 untuk jangka menengah. Jika support 6.450 tembus, risiko turun ke 6.350," ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).

Wafi menilai, pemberlakuan hasil rebalancing MSCI lebih berpotensi meningkatkan volatilitas dan mempengaruhi distribusi aliran dana dibandingkan menjadi penentu utama arah IHSG secara keseluruhan.

Menurut dia, investor perlu mencermati dampak lanjutan rebalancing terhadap sejumlah saham yang mengalami perubahan status indeks, terutama GOTO dan CPIN.

"Sentimen MSCI lebih banyak mempengaruhi volatilitas dan distribusi fund, bukan otomatis menentukan tren keseluruhan," katanya.

Wafi menjelaskan, CPIN mengalami penurunan status dari Global Standard Index ke Small Cap Index, bukan dikeluarkan sepenuhnya dari indeks MSCI seperti GOTO. Dengan demikian, potensi arus dana keluar dari CPIN dinilai lebih moderat.

Baca Juga: TPIA Buka Akses Pelabuhan ke Pihak Eksternal, Bidik Bisnis Logistik

Selain GOTO dan CPIN, investor juga perlu mencermati sembilan saham yang keluar dari MSCI Small Cap Index. Meski demikian, dampak arus dana pada kelompok tersebut diperkirakan lebih kecil.

Di sisi lain, sentimen global masih menjadi faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan IHSG setelah efek rebalancing mereda. Salah satunya berasal dari arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Wafi mengatakan, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole cenderung hawkish dan mendorong probabilitas kenaikan suku bunga pada September menjadi sekitar 60%. Respons negatif Wall Street terhadap perkembangan tersebut menjadi salah satu risiko bagi pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang masih mencapai 3,7% secara tahunan juga berada cukup jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter AS perlu dicermati investor.

Dari domestik, perkembangan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia menjadi salah satu sentimen positif. PMI manufaktur Indonesia telah membaik ke level 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni 2026, sehingga kembali masuk ke zona ekspansi.

Namun, meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi risiko yang dapat menambah ketidakpastian pasar, terutama melalui dampaknya terhadap harga komoditas dan sentimen global.

Untuk strategi investasi, Wafi menyarankan investor tidak terburu-buru mengambil posisi pada saham yang masih mengalami volatilitas tinggi akibat efek rebalancing. Setelah periode penyesuaian portofolio berakhir, investor dapat kembali berfokus pada saham dengan fundamental solid dan membangun posisi secara bertahap.

"Akumulasi bertahap nama fundamental solid," pungkas Wafi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×