Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) berhasil mempertahankan pertumbuhan laba pada semester I 2026.
Kinerja tersebut terutama ditopang oleh kenaikan harga jual produk kelapa sawit, meski perseroan harus menghadapi tekanan dari penurunan volume produksi dan potensi normalisasi harga crude palm oil (CPO).
Analis Ciptadana Sekuritas Asia Yasmin Soulisa mencatat, DSNG membukukan laba bersih Rp 1,97 triliun sepanjang semester I 2026. Angka tersebut meningkat 7,8% secara year-on-year (YoY).
Realisasi laba tersebut telah mencapai 79% dari target proyeksi Yasmin untuk kinerja DSNG sepanjang 2026. Sementara itu, pendapatan perseroan tumbuh lebih terbatas sebesar 3,4% YoY menjadi Rp 6,29 triliun atau sekitar 46% dari estimasi full-year.
Baca Juga: ITSEC Asia (CYBR) Cetak Laba Usaha Rp23,01 Miliar Kuartal II-2026
Kinerja DSNG semakin menguat pada kuartal II 2026. Laba bersih perseroan meningkat 34,0% secara quarter-on-quarter (QoQ) menjadi Rp 565 miliar.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) CPO yang meningkat 6,6% QoQ menjadi Rp 15.420 per kilogram. Selain itu, ASP palm kernel oil (PKO) melonjak 20,3% QoQ menjadi Rp 34.210 per kilogram.
Kenaikan harga jual tersebut mampu mengompensasi tekanan dari sisi volume produksi yang mengalami penurunan.
"Harga produk kelapa sawit yang lebih tinggi mampu mengimbangi penurunan volume, di mana harga jual rata-rata (ASP) CPO dan PKO pada semester pertama tahun 2026 masing-masing naik sebesar 2,5% dan 9,4% secara tahunan (YoY) menjadi Rp14.940/kg dan Rp32.280/kg," tulis Yasmin dalam risetnya, (31/8/2026).
Produksi TBS dan CPO DSNG Menurun
Dari sisi operasional, kinerja produksi DSNG justru menghadapi tekanan. Total produksi tandan buah segar (TBS) pada semester I 2026 turun 4,8% YoY menjadi 1,04 juta ton.
Produksi CPO juga terkoreksi 3,8% YoY menjadi 299 ribu ton.
Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut, Yasmin memangkas proyeksi produksi DSNG untuk 2026. Produksi TBS diperkirakan turun 1,7% dari proyeksi sebelumnya menjadi 2,27 juta ton.
Sementara itu, proyeksi produksi CPO diturunkan lebih dalam, yakni 6,8% menjadi 695 ribu ton.
Meski volume produksi menghadapi tekanan, prospek harga CPO dinilai masih cukup positif. Yasmin memperkirakan pasokan CPO global berpotensi mengetat akibat dampak El Niño.
Di dalam negeri, implementasi mandatori biodiesel B50 juga diperkirakan menjadi katalis bagi permintaan minyak sawit.
Baca Juga: Astra International (ASII) Merealisasikan Investasi Rp 12 Triliun per Juni 2026
Selain itu, selisih harga atau diskon antara minyak sawit dan minyak kedelai yang melebar hingga USD 660 per ton pada Juni 2026 membuat CPO semakin kompetitif.
Namun, risiko koreksi harga tetap perlu diwaspadai, terutama seiring dengan peningkatan stok minyak sawit Malaysia.
Laba DSNG Tak Sepenuhnya Ditopang Operasional
Analis Phillip Sekuritas Indonesia Marvin Lievincent memiliki pandangan yang lebih hati-hati terhadap kualitas pertumbuhan laba DSNG.
Menurut Marvin, peningkatan laba bersih pada semester I 2026 tidak sepenuhnya berasal dari penguatan kinerja operasional, melainkan turut ditopang efisiensi beban non-operasional.
Hal tersebut tercermin dari laba operasional DSNG yang relatif stagnan. Laba operasional hanya meningkat tipis 0,1% YoY menjadi Rp 1,44 triliun.
Tekanan juga terlihat pada margin laba kotor atau gross profit margin yang menyusut dari 32,2% menjadi 31,1%. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan biaya pupuk.
Margin operasional perseroan turut tertekan, dari 23,7% menjadi 23,0%.
Di sisi lain, laba bersih mendapat dukungan dari penurunan beban keuangan sebesar Rp 62,3 miliar. DSNG juga mencatat peningkatan bagian laba dari entitas asosiasi sebesar Rp 38,4 miliar.
Harga CPO Berpotensi Normalisasi
Dari sisi komoditas, Marvin memperkirakan harga CPO yang sebelumnya mencapai level tertinggi MYR 4.506 per ton pada Juli 2026 akan mengalami normalisasi.
Untuk sisa 2026, harga CPO diperkirakan bergerak relatif stabil pada kisaran MYR 3.800–4.300 per ton.
"Risiko penurunan dari tingkat tinggi ini akan diredam oleh penerapan berkelanjutan mandat B40 Indonesia dan permintaan pangan yang stabil," ungkap Marvin dalam risetnya, (31/8/2026).
Kendati harga CPO berpotensi mengalami normalisasi, Marvin menilai posisi DSNG masih cukup solid untuk mempertahankan pertumbuhan kinerja.
Pendapatan DSNG diproyeksikan mencatat compound annual growth rate (CAGR) sebesar 11,9% selama periode FY24–FY29F. Pertumbuhan tersebut diperkirakan didukung oleh pemulihan volume produksi serta kuatnya permintaan CPO domestik.
Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Yasmin dan Marvin sama-sama memberikan rekomendasi buy untuk saham DSNG.
Yasmin menetapkan target harga DSNG sebesar Rp 2.260 per saham, sedangkan Marvin memberikan target harga Rp 1.760 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














