Penulis: Bimo Adi Kresnomurti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Simak profil emiten MTEL dan TBIG yang berencana Merger. Kabar rencana merger antara dua emiten menara telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), kembali menjadi perhatian pasar pada akhir Agustus 2026.
Saat terealisasi, penggabungan kedua perusahaan berpotensi menciptakan salah satu pemain infrastruktur telekomunikasi terbesar di Indonesia.
Namun, rencana tersebut belum menjadi keputusan final. Melansir laman Kontan.co.id, COO BPI Danantara Dony Oskaria pada 31 Agustus 2026 menyatakan bahwa pihaknya masih akan mengecek informasi tersebut kepada Telkom, sementara pembahasan masih berada di level internal perusahaan.
Wacana merger MTEL dan TBIG sebenarnya bukan hal baru. Pembicaraan serupa pernah mencuat sejak 2014, ketika TBIG disebut pernah berupaya mengakuisisi MTEL melalui skema pertukaran saham.
Lalu, seperti apa profil kedua emiten telekomunikasi ini? Cek informasi selengkapnya.
Baca Juga: Rencana Merger MTEL-TBIG Bakal Menguntungkan TLKM
Profil MTEL
Melansir laman MTEL, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk dengan kode saham MTEL merupakan perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi yang merupakan bagian dari Grup Telkom.
Mitratel berfokus pada penyediaan infrastruktur yang digunakan operator telekomunikasi dan pelaku industri digital. Bisnis utamanya adalah penyewaan menara telekomunikasi, sementara perusahaan juga terus mengembangkan bisnis fiber optik sebagai sumber pertumbuhan baru.
Pada akhir 2025, MTEL mengoperasikan 40.230 menara, dengan total tenant mencapai 63.084 dan tenancy ratio 1,57 kali. Mitratel juga memiliki jaringan fiber dengan fiber billable length 70.618 km.
Baca Juga: Merger MTEL-TBIG Kembali Mencuat, Siapa yang Paling Diuntungkan?
Lini bisnis MTEL
1. Penyewaan menara
Bisnis menara merupakan sumber pendapatan terbesar MTEL. Perusahaan menyewakan ruang pada menara kepada operator telekomunikasi untuk memasang perangkat jaringan.
Model ini menghasilkan pendapatan berulang karena kontrak penyewaan biasanya berlangsung dalam jangka panjang.
2. Fiber optik
MTEL juga mengembangkan jaringan fiber optik untuk mendukung kebutuhan konektivitas dan infrastruktur digital.
Pada semester I 2026, pendapatan fiber optik mencapai sekitar Rp309 miliar, tumbuh 7,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
3. Tower-related business dan reseller
Selain penyewaan menara, MTEL memiliki bisnis terkait menara dan reseller yang melengkapi bisnis utamanya.
Baca Juga: Dividen Jumbo Bagi Rp2,07 T Cum Date Rabu (8/7): Intip Profil Emiten Ini*
Kinerja Terbaru MTEL
Melansir data BEI, untuk kinerja MTEL pada semester I 2026 sebagai berikut:
| Indikator | 1H 2026 |
|---|---|
| Pendapatan | Rp4,69 triliun |
| EBITDA | Rp3,89 triliun |
| Laba bersih | Rp1,11 triliun |
| EBITDA margin | 82,9% |
| Net profit margin | 23,7% |
Pertumbuhan MTEL relatif moderat karena bisnis menara Indonesia sudah memasuki fase yang lebih matang. Meski demikian, bisnis fiber memberikan sumber pertumbuhan tambahan.
Pada kuartal II 2026, MTEL mencatat pendapatan Rp2,40 triliun dan laba bersih sekitar Rp545 miliar. Jumlah tenant mencapai 63.866, sedangkan jumlah site mencapai 40.563.
Baca Juga: Sinar Mas Agro (SMAR) Umumkan Rencana Merger, Simak Detailnya
Profil TBIG
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk atau TBIG merupakan perusahaan induk dari Tower Bersama Group yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi.
TBIG didirikan pada 2004 dan tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 26 Oktober 2010.
Sama seperti MTEL, bisnis utama TBIG adalah menyediakan menara dan infrastruktur telekomunikasi kepada operator seluler.
Lini bisnis TBIG
1. Penyewaan menara telekomunikasi
Penyewaan menara menjadi sumber utama pendapatan TBIG. Operator telekomunikasi dapat menggunakan menara TBIG untuk memasang peralatan jaringan.
2. Kolokasi
TBIG memperoleh tambahan pendapatan dengan menyewakan ruang pada menara yang sudah ada kepada lebih dari satu operator. Semakin tinggi tenancy ratio, semakin optimal pemanfaatan aset menara.
3. Fiber optik dan jaringan DAS
TBIG juga memiliki jaringan fiber dan Distributed Antenna System (DAS) yang mendukung kebutuhan konektivitas di berbagai lokasi.
Pengembangan fiber menjadi semakin penting ketika pertumbuhan bisnis menara mulai melambat.
Baca Juga: Sama Dengan Indonesia, Intip Profil Negara Wilayah Afrika yang Merdeka 17 Agustus
Kinerja Terbaru TBIG
Merangkum data BEI, berikut kinerja pada semester I 2026, TBIG mencatat:
| Indikator | 1H 2026 |
|---|---|
| Pendapatan | Rp3,46 triliun |
| EBITDA | Rp2,95 triliun |
| Sites | 25.280 |
| Tenancy | 42.332 |
| Tenancy ratio | 1,68x |
| Net debt | Rp28,31 triliun |
Pendapatan TBIG mencapai Rp3,46 triliun dan EBITDA Rp2,95 triliun pada enam bulan pertama 2026. Jika kinerja kuartal II disetahunkan, perusahaan memperkirakan pendapatan sekitar Rp6,97 triliun dan EBITDA Rp5,95 triliun.
Pada semester I 2026, TBIG menambahkan 2.023 gross tenancy, terdiri dari 1.417 site telekomunikasi baru dan 606 kolokasi.
Dari sisi neraca, TBIG memiliki gross debt sekitar Rp29,01 triliun dan kas Rp700 miliar per 30 Juni 2026. Dengan demikian, net debt mencapai Rp28,31 triliun atau sekitar 4,8 kali EBITDA berdasarkan EBITDA kuartal II yang disetahunkan.
Itulah informasi mengenai profil emiten MTEL dan TBIG yang berencana Merger.
Tonton: Kemiskinan Indonesia Tembus 64,2%, Tertinggi ke-4 di ASEAN
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














