kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Prospek Kripto 2026 Masih Cerah, Bitcoin Berpeluang Tembus US$ 100.000?


Selasa, 21 Juli 2026 / 21:09 WIB
Prospek Kripto 2026 Masih Cerah, Bitcoin Berpeluang Tembus US$ 100.000?
ILUSTRASI. Prospek pasar kripto disebut masih menjanjikan hingga akhir 2026 meski dibayangi meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah (Romain Costaseca/Hans Lucas via Reuters)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pasar kripto disebut masih menjanjikan hingga akhir 2026 meski dibayangi meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak mentah dunia.

Di tengah meningkatnya risiko inflasi global dan ketidakpastian pasar, aset kripto terbesar di dunia, Bitcoin (BTC), justru diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren penguatannya hingga penghujung tahun.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Selasa (21/7/2026) pukul 17.32 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 66.347. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 6,08% dalam sepekan dan tumbuh 3,28% dalam satu bulan terakhir.

Analis Reku, Andri Fauzan, menilai pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan fase konsolidasi yang sehat setelah sempat mengalami koreksi pada awal 2026.

Menurut Andri, Bitcoin telah rebound ke kisaran US$ 65.000 hingga US$ 65.900 dan berhasil mencatat level tertinggi dalam 30 hari terakhir. Dari sisi teknikal, pergerakan tersebut membentuk pola ascending triangle yang disertai higher lows serta mampu bertahan di atas level 50-day moving average yang berada di sekitar US$ 65.400.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Naik Selasa (21/7), Jelang Laporan Keuangan Raksasa Teknologi

“Sinyal kuat bahwa cycle low mungkin sudah terbentuk di area US$ 59.000 - US$ 64.800,” ungkap Andri kepada Kontan, Selasa (21/7/2026).

Andri menjelaskan, kenaikan harga minyak justru berpotensi memperkuat posisi Bitcoin sebagai aset lindung nilai digital atau digital gold. Menurutnya, apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut hingga mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz, harga minyak Brent berpeluang melonjak hingga US$ 120 per barel.

Kondisi tersebut berisiko memicu tekanan inflasi global yang lebih tinggi dan mendorong investor mencari instrumen investasi alternatif di luar aset konvensional.

Atas dasar itu, Andri optimistis harga Bitcoin dapat mencapai kisaran US$ 80.000 hingga US$ 100.000 pada akhir 2026.

Terdapat tiga faktor utama yang diyakini akan menopang proyeksi tersebut. Pertama, arus dana masuk ke produk exchange traded fund (ETF) Bitcoin yang terus meningkat. Kedua, semakin luasnya adopsi aset kripto oleh institusi keuangan global.

Ketiga, posisi 200-day moving average di sekitar US$ 71.000 yang berpotensi menjadi area support kuat apabila harga mampu kembali menembus dan bertahan di atas level tersebut.

Tidak hanya Bitcoin, sejumlah altcoin juga dipandang memiliki prospek menarik hingga akhir tahun. Andri menyoroti Ethereum (ETH), Solana (SOL), XRP, serta token bertema Real World Assets (RWA) dan perpetual decentralized exchange (Perp DEX) seperti ONDO dan HYPE.

Menurutnya, Ethereum dan Solana masih menjadi blockchain Layer-1 utama yang didukung oleh ekosistem keuangan terdesentralisasi (decentralized finance/DeFi) yang matang dan kapasitas transaksi yang tinggi. Faktor tersebut membuat kedua aset kripto tersebut tetap diminati investor institusi.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Menguat Rabu (22/7), Investor Waspadai Hasil RDG BI dan Profit Taking

Di sisi lain, XRP dan XLM dinilai memiliki peluang pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan sistem pembayaran lintas negara oleh lembaga keuangan.

Sementara itu, ONDO dan HYPE diperkirakan akan memperoleh sentimen positif dari berkembangnya tren tokenisasi aset. Sentimen tersebut diperkuat oleh dimulainya uji coba produksi tokenisasi saham Russell 1000 oleh Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC) pada Juli 2026, serta meningkatnya volume transaksi produk Ondo Perps.

Meski prospek pasar dinilai positif, investor ritel tetap diimbau untuk mengedepankan strategi investasi bertahap atau dollar-cost averaging (DCA) dibandingkan mengejar kenaikan harga jangka pendek.

Andri merekomendasikan komposisi portofolio sekitar 60% pada Bitcoin dan Ethereum, 20% pada altcoin pilihan seperti Ethereum, Solana, XRP, ONDO, dan HYPE, serta 20% pada aset stablecoin. Namun, ia menegaskan bahwa investasi kripto sebaiknya dilakukan menggunakan dana yang memang dialokasikan untuk instrumen berisiko.

“Fokus jangka panjang pada fundamental dan manajemen risiko akan jauh lebih unggul daripada mengejar hype di kondisi seperti sekarang,” pungkas Andri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×