Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) terus memperluas bisnis ke sektor hiburan, makanan dan minuman (F&B), serta gaya hidup. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi sumber pertumbuhan tambahan, meski bisnis hospitality masih menjadi penopang utama kinerja perseroan dalam jangka pendek.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, prospek kinerja BUVA masih cukup positif. Menurutnya, ekspansi ke sektor entertainment, F&B dan lifestyle dapat membuka peluang bagi BUVA untuk menangkap belanja wisatawan di luar akomodasi.
“Namun kontribusinya ke laba belum akan terlalu besar dalam waktu dekat karena bisnis seperti Zumana masih dalam tahap awal operasional,” ujar Elandry kepada Kontan, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Melemah ke Kisaran Level 6.100-6.250 hingga Akhir Pekan Ini
Elandry menilai peluang kontribusi dari ekspansi tersebut cukup menarik. Model bisnis yang menggabungkan hotel, restoran, hiburan dan gaya hidup dapat meningkatkan pendapatan per wisatawan yang berkunjung ke aset BUVA.
Selain itu, ekspansi F&B juga berpotensi memperkuat pendapatan berulang perseroan. Jika jumlah pengunjung dan belanja wisatawan meningkat, kontribusi segmen tersebut terhadap pendapatan dan laba BUVA berpotensi semakin besar ke depan.
“Peluangnya cukup menarik karena model bisnis tersebut dapat meningkatkan revenue per wisatawan melalui kombinasi hotel, restoran, entertainment dan lifestyle,” jelasnya.
Menurut Elandry, ekspansi tersebut lebih tepat dipandang sebagai pelengkap bisnis hospitality BUVA, bukan sebagai pengganti bisnis inti perseroan. Integrasi antara hotel, F&B dan entertainment dapat membentuk ekosistem destinasi yang memungkinkan peningkatan belanja pelanggan sekaligus mendorong penjualan silang antarsegmen.
Jika eksekusinya berjalan baik, diversifikasi tersebut berpotensi memperkuat kualitas pendapatan BUVA dalam jangka menengah hingga panjang.
Baca Juga: IHSG Turun 0,21% ke 6.135 Sesi I Selasa (29/9), Saham Top Losers: GOTO, AADI, ADRO
Dari sisi katalis, Elandry melihat pertumbuhan pariwisata Bali, peningkatan tingkat okupansi dan average daily rate (ADR) hotel, serta perkembangan bisnis Zumana menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati. Selain itu, penggunaan dana hasil rights issue untuk pengembangan aset juga menjadi katalis bagi perseroan.
“Risikonya antara lain execution risk, kebutuhan capex yang besar, persaingan bisnis lifestyle dan entertainment di Bali, serta potensi volatility saham selama proses rights issue berlangsung,” kata Elandry.
Sementara dari sisi saham, BUVA dinilai masih berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami koreksi cukup dalam. Sentimen jangka pendek terhadap saham BUVA diperkirakan masih banyak dipengaruhi oleh proses rights issue dan kemampuan pasar menyerap pasokan saham baru.
Baca Juga: PTPP Berpotensi Tunda Pembayaran Bunga 6 Obligasi, Nilainya Rp 44,68 Miliar
Dengan mempertimbangkan potensi pertumbuhan bisnis sekaligus risiko dari rights issue, Elandry melihat target harga BUVA sebesar Rp750 per saham masih wajar untuk horizon menengah.
“Dengan catatan investor tetap mencermati perkembangan fundamental dan eksekusi ekspansi perseroan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














