kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 18.013   15,00   0,08%
  • IDX 6.115   -33,29   -0,54%
  • KOMPAS100 793   -5,45   -0,68%
  • LQ45 609   -3,21   -0,52%
  • ISSI 211   -0,46   -0,22%
  • IDX30 338   -1,36   -0,40%
  • IDXHIDIV20 427   -0,08   -0,02%
  • IDX80 91   -0,58   -0,63%
  • IDXV30 116   -0,07   -0,06%
  • IDXQ30 110   -0,07   -0,07%

IHSG Diproyeksi Melemah ke Kisaran Level 6.100-6.250 hingga Akhir Pekan Ini


Selasa, 29 September 2026 / 13:19 WIB
IHSG Diproyeksi Melemah ke Kisaran Level 6.100-6.250 hingga Akhir Pekan Ini
ILUSTRASI. Untuk pekan ini, level support terdekat IHSG berada di 6.100, sedangkan area 6.000-6.050 menjadi support psikologis utama.(KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak volatile hingga akhir pekan seiring penyesuaian pasar terhadap perubahan batas harga minimum saham menjadi Rp1 serta penerapan aturan saham di papan pemantauan khusus.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, level support terdekat IHSG berada di 6.100, sedangkan area 6.000-6.050 menjadi support psikologis utama.

Menurut dia, peluang IHSG menembus ke bawah level 6.000 tetap terbuka, meski bukan menjadi skenario dasar. Tekanan pasar saat ini dinilai lebih bersifat mekanis dan terkonsentrasi pada saham berharga rendah, bukan pada saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot lebih tinggi terhadap pergerakan indeks.

“Risiko tembus ke bawah 6.000 ada, tapi bukan skenario dasar, karena tekanan saat ini mekanis dan terkonsentrasi di saham berharga rendah, bukan di saham berbobot besar yang menggerakkan indeks,” ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (29/9/2026).

Baca Juga: IHSG Turun 0,21% ke 6.135 Sesi I Selasa (29/9), Saham Top Losers: GOTO, AADI, ADRO

Menurut Wafi, skenario IHSG menembus level 6.000 akan lebih realistis apabila muncul pemicu eksternal, seperti hasil negatif dari evaluasi MSCI pada November atau lonjakan imbal hasil obligasi global.

Sementara itu, perubahan batas harga minimum saham menjadi Rp1 diperkirakan masih membuat volatilitas pasar tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Wafi memperkirakan periode volatilitas tinggi berlangsung sekitar dua hingga empat pekan sebelum berangsur mereda.

Gelombang awal penyesuaian pasar berasal dari aksi keluar pemegang saham lama yang sebelumnya terkunci pada harga Rp50. Kondisi tersebut tercermin dari 23 saham yang terkena auto rejection bawah atau ARB pada hari pertama penerapan aturan baru.

Namun, proses penyesuaian berpotensi berlangsung lebih panjang karena batas ARB asimetris sebesar 15% masih berlaku hingga 31 Desember 2026 dan baru menjadi simetris mulai 1 Januari 2027.

Selain itu, untuk saham dengan rentang harga Rp1-Rp10, batas auto rejection atas dan bawah ditetapkan sebesar Rp1. Menurut Wafi, batas tersebut secara persentase sangat besar sehingga dapat memicu pergerakan harga harian yang ekstrem.

“Volatilitas tinggi dua sampai empat pekan, lalu mereda,” kata Wafi.

Baca Juga: Harga Dasar Rp1 Berlaku, Saham Harga Receh Di Bawah Rp 50 Naik Hingga 34%

Untuk pergerakan IHSG hingga akhir pekan ini, Wafi memperkirakan indeks berada di kisaran 6.100-6.250 dengan bias melemah dan volatilitas yang masih tinggi.

Sementara untuk akhir 2026, Wafi mempertahankan target IHSG di kisaran 6.000-6.500. Namun, terdapat skenario berbeda bergantung pada hasil evaluasi MSCI pada November.

“Naik ke 6.700-7.000 jika MSCI November mempertahankan status emerging, turun ke 5.400-5.600 jika mulai konsultasi ke frontier,” jelasnya.

Di tengah kondisi tersebut, Wafi menyarankan investor mencermati emiten berkapitalisasi besar yang tidak terdampak langsung oleh perubahan aturan harga minimum saham.

Sektor komoditas menjadi salah satu yang diperhatikan karena berpotensi mendapat manfaat dari harga komoditas yang tinggi serta pelemahan rupiah. Beberapa saham yang disebut antara lain PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah dan Tembus ke Rp 18.000 Per Gram Hari Ini (29/9)

Selain komoditas, Wafi melihat perbankan dengan dominasi dana murah atau current account saving account (CASA) sebagai kelompok yang relatif tahan terhadap kondisi pasar. Saham yang dicermati di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Untuk sektor konsumer, Wafi menyebut PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sebagai salah satu saham defensif yang dapat dicermati.

Di sisi lain, investor disarankan berhati-hati terhadap saham dengan harga nominal sangat rendah, terutama yang tidak didukung fundamental kuat.

“Jangan menganggap harga nominal rendah berarti valuasinya murah,” pungkas Wafi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×